PONTIANAK POST - Suasana Rusunawa Harapan Jaya, Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Pontianak Selatan, tampak lebih antusias dari biasanya. Warga berkumpul mengikuti edukasi pengelolaan sampah berbasis nilai-nilai Islam, Kamis (5/3/2026).
Kegiatan ini digagas oleh Komunitas Perempuan Menulis Khatulistiwa (Kopermekha Bekate) bersama Yayasan Konservasi Laut Khatulistiwa dan Forum Komunitas Hijau Kota Pontianak. Melalui tema “Tata Kelola Sampah dalam Islam”, warga diajak melihat persoalan sampah dari sudut pandang yang lebih luas, bukan sekadar masalah kebersihan lingkungan, tetapi juga bagian dari tanggung jawab keimanan.
Ketua panitia Agusnia Verani dari Kopermekha Bekate mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari program RABIKHA - Ramadan Berbagi, yang dihadirkan sebagai wujud semangat berbagi di bulan suci Ramadan.
“Melalui kegiatan ini kami ingin berbagi pengetahuan kepada masyarakat. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada para donatur serta seluruh pihak yang telah berkolaborasi sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik,” ujarnya.
Materi edukasi disampaikan oleh Ketua Yayasan Konservasi Laut Khatulistiwa, Usep Gunawan. Dalam pemaparannya, ia mengajak warga melihat persoalan sampah dari perspektif ajaran Islam yang menempatkan manusia sebagai khalifah di bumi penjaga sekaligus pengelola alam.
Menurutnya, Islam menekankan prinsip keseimbangan (tawazun) dalam menjaga lingkungan. Kerusakan alam, termasuk akibat sampah yang tidak terkelola, merupakan bentuk kelalaian manusia terhadap amanah tersebut.
“Menjaga kebersihan adalah bagian dari iman. Ketika kita mengelola sampah dengan baik, itu bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga bernilai sedekah karena kita mencegah kerusakan dan kemudaratan bagi makhluk hidup,” jelasnya.
Usep juga mengajak bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari rumah tangga. Perubahan besar, kata dia, justru sering berawal dari kebiasaan-kebiasaan kecil di dapur rumah, halaman, dan lingkungan sekitar.
Dalam kegiatan tersebut, warga juga diperkenalkan pada berbagai langkah praktis yang dapat diterapkan sehari-hari. Mulai dari prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) untuk mengurangi timbulan sampah, pembuatan eco-enzyme dari sisa kulit buah dan sayuran, pengolahan kompos, hingga pemanfaatan maggot (BSF) untuk mengurai sampah organik.
Melalui edukasi ini, harapannya sederhana namun bermakna. Dari rumah-rumah sederhana di Rusunawa Harapan Jaya, tumbuh kesadaran baru bahwa memilah dan mengelola sampah bukan hanya gaya hidup ramah lingkungan, tetapi juga bagian dari ibadah, sebuah ikhtiar kecil untuk menjaga bumi yang dititipkan kepada manusia.(*)
Editor : Hanif