PONTIANAK - Menjadi petugas haji bukan sekadar memegang surat tugas, melainkan memikul amanah menjaga keselamatan dan kekhusyukan ribuan jemaah.
Semangat inilah yang terpancar dalam Rapat Koordinasi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Kalimantan Barat Tahun 1447 H/2026 M yang digelar di Aula Asrama Haji Pontianak.
Kakanwil Kementerian Haji dan Umrah Kalbar, Kamaludin, mematok target tinggi tahun ini: bukan sekadar sukses penyelenggaraan, melainkan menjadi yang terbaik di Indonesia.
Ia mengibaratkan para petugas, mulai dari ketua kloter, dokter, perawat, hingga petugas haji daerah, sebagai satu kesatuan tim yang tidak boleh memiliki ego sektoral.
Baca Juga: 1.858 Jemaah Kalbar Siap Berangkat Haji 2026, Ini Jadwalnya
"Kita harus menjadi tim yang solid. Pelayanan kepada jemaah adalah tanggung jawab bersama, dari titik keberangkatan hingga nanti menginjakkan kaki kembali di tanah air," tegas Kamaludin di hadapan para petugas.
Senada dengan itu, Kepala Biro Kesra Setda Kalbar, Madya Yanuar Abdullah, mengingatkan bahwa dinamika di tanah suci tidak bisa ditebak. Oleh karena itu, ia menuntut kesiapsiagaan petugas selama 24 jam penuh.
Petugas tidak hanya dituntut menguasai manasik, tetapi juga harus memiliki kemampuan mitigasi risiko yang cepat. "Koordinasi adalah kunci agar pelayanan tetap optimal dan segala kendala di lapangan bisa segera teratasi," katanya.
Kekuatan tim tahun ini diperkuat oleh formasi lengkap, yakni ketua kloter sebanyak 5 orang, tim medis (dokter dan perawat) sebanyak 8 orang, pembimbing ibadah ada 4 orang, PHD sebanyak 10 orang, dan PPIH Arab Saudi ada 4 orang.
Baca Juga: Pemerintah Pastikan Jadwal Haji 2026 Tetap, Jamaah Masuk Asrama Mulai 21 April
Kabid Bina Haji dan Umrah, M. Ma’sum Ahmadi, menekankan bahwa sinkronisasi antara tim kesehatan dan pembimbing ibadah menjadi titik krusial. Seringkali, kondisi fisik jemaah memengaruhi pelaksanaan ibadah, di sinilah peran petugas untuk tetap responsif.
Selain membahas teknis pelayanan, pertemuan ini juga mematangkan persiapan logistik dan operasional, termasuk seragam kloter sebagai identitas pengenal. Seragam tersebut bukan sekadar pakaian formalitas, melainkan simbol bahwa mereka adalah pelindung jemaah Kalbar di tengah jutaan manusia dari seluruh dunia.
Para calon petugas ini digembleng untuk mencari solusi atas kendala-kendala yang mungkin muncul di lapangan. Harapannya, saat kloter pertama diberangkatkan nanti, mereka benar-benar telah siap menjadi pelayan yang profesional bagi para tamu Allah. (mrd)
Editor : Miftahul Khair