Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Sebanyak 53 Hotspot Terdeteksi di Kalbar, BPBD Perkuat Penanganan Karhutla dan Modifikasi Cuaca

Idil Aqsa Akbary • Senin, 27 April 2026 | 08:45 WIB
Foto ilustrasi karhutla. (Dok. Pontianak Post)
Foto ilustrasi karhutla. (Dok. Pontianak Post)

PONTIANAK POST - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar) terus berlangsung. Berdasarkan laporan terbaru Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar per 26 April 2026, sebanyak 53 titik panas (hotspot) terdeteksi dalam satu hari terakhir.

Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalbar, Daniel, menyampaikan bahwa hotspot tersebut terpantau pada 24 April 2026 dari pukul 00.00 hingga 23.00 WIB. “Dari jumlah itu, 51 titik memiliki tingkat kepercayaan sedang dan tersebar di sejumlah wilayah seperti Sambas, Mempawah, Sanggau, Sintang, Bengkayang, Sekadau, Melawi, dan Singkawang. Sementara dua titik lainnya berstatus kepercayaan rendah di Sambas dan Kubu Raya,” ujarnya.

Seiring meningkatnya potensi karhutla, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalbar telah menetapkan status siaga darurat penanganan bencana asap akibat karhutla sejak 2 Februari hingga 15 November 2026, dan dapat diperpanjang sesuai kondisi di lapangan.

Selain itu, sejumlah kabupaten juga telah menetapkan status siaga darurat. Diantaranya Kubu Raya, Ketapang, Sambas, Mempawah, Sanggau, Kayong Utara, dan Melawi. Bahkan Kabupaten Mempawah sempat menetapkan status tanggap darurat pada Februari lalu.

Baca Juga: 175 Ribu Bibit Pohon di Kawasan Gunung Palung National Park dari Pasien dalam Mendukung Pemulihan Hutan

Untuk upaya penanganan, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terus dilakukan. Pada 25 April 2026, pesawat Cessna Grand Caravan 208B PK–NGT melaksanakan penyemaian awan di wilayah Sambas dan Bengkayang dengan menggunakan 1.000 kilogram bahan NaCl. “Penyemaian dilakukan pada awan cumulus dengan ketinggian hingga 12 ribu kaki. Saat itu juga terpantau potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di sejumlah wilayah,” jelas Daniel.

Di lapangan, Kabupaten Sambas menjadi salah satu daerah dengan dampak cukup signifikan. Berdasarkan laporan BPBD setempat, total luas lahan terbakar sejak Januari hingga 25 April 2026 mencapai sekitar 273 hektare.

Karhutla di Sambas tercatat terjadi di 13 kecamatan dan 53 desa. Beberapa titik yang masih aktif di antaranya berada di Desa Tanah Hitam (Kecamatan Paloh), Desa Tempapan Hulu (Kecamatan Galing), serta Desa Sarang Burung Danau (Kecamatan Jawai). “Di sejumlah lokasi, api masih menyala dan sebagian lainnya masih berasap, terutama di lahan gambut,” ungkapnya.

Selain itu, masih di periode yang sama, total hotspot di kabupaten tersebut tercatat mencapai 645 titik berdasarkan data Sipongi. Dengan estimasi luas terbakar dari pantauan satelit mencapai 1.954,96 hektare. “Upaya pemadaman melibatkan berbagai unsur, mulai dari BPBD, TNI-Polri, Manggala Agni, aparat desa, hingga masyarakat, dan perusahaan setempat,” terangnya.

Namun demikian, penanganan di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala. Di antaranya keterbatasan sumber air yang jauh dari lokasi kebakaran, serta kebutuhan tambahan sarana seperti helikopter water bombing, mesin pompa, hingga dukungan logistik bagi personel. “Diperlukan juga dukungan modifikasi cuaca terutama untuk penanganan karhutla di lahan gambut,” tambah Daniel.

Baca Juga: Sulap Pasar Lama Jadi Ruang Kreatif, Pasar Cempaka dan Pasar Kapuas Indah Mau Ditata Ulang dengan Konsep Baru

Sementara itu, hasil pemantauan cuaca menunjukkan sebagian wilayah Kalbar telah diguyur hujan dengan intensitas bervariasi antara 0,5 hingga 300 mm. Hujan ringan hingga sedang juga terdeteksi merata berdasarkan radar cuaca Pontianak. “Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan jika menemukan titik api,” pungkasnya. (bar)

Editor : Hanif
#kalbar #bpbd #OMC #Hotspot #modifikasi cuaca