Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Ratusan Anak Indonesia Pilih Akhiri Hidup

Siti Sulbiyah • Rabu, 17 Juni 2026 | 16:05 WIB
Tumbur Manalu
Tumbur Manalu

 

PONTIANAK POST - Ratusan anak tercatat menjadi korban bunuh diri dalam beberapa tahun terakhir. Angka tersebut menjadi alarm bagi masyarakat dan para pemangku kebijakan. 

Beragam faktor diduga berkontribusi terhadap munculnya kasus tersebut. Penguatan perlindungan dan pendampingan anak pun dinilai semakin mendesak.

Aksi bunuh diri seorang pelajar madrasah di Kota Pontianak pada akhir Januari lalu mengejutkan banyak pihak.

Anak berusia 13 tahun ini ditemukan meninggal dengan kondisi tergantung di rumahnya.

Sebelumnya, dia membuat surat untuk ibunya yang berisi berisi ungkapan ketakutan, rasa malu, dan permohonan maaf kepada sang ibu. 

Pelajar lainnya yang bersekolah di sebuah SMA swasta di Kabupaten Kubu Raya juga memilih mengakhiri hidupnya.

Remaja lelaki itu juga ditemukan meninggal tergantung di rumahnya.

Sumber Pontianak Post menyebutkan, akhir bunuh diri itu diketahui menjelang Salat Magrib oleh pihak keluarga.

Namun, kasus ini tidak dilaporkan ke pihak kepolisian. “Saya datang ke rumah almarhum. Dia meninggal gantung diri. Kebetulan saya membantu (mengurus) jenazah,” ujar pria yang enggan disebutkan namanya. 

Aksi percobaan bunuh diri juga pernah dilakukan pelajar SMA asal Sambas beberapa tahun lalu di sebuah perkantoran di Kota Pontianak.

Saat itu, siswi perempuan itu sedang magang di kantor tersebut bersama temannya. Awalnya, dia mencoba melompat dari lantai paling atas gedung.

Namun, sempat dicegah temannya. Kemudian, dia pergi ke toilet. Ternyata dia mencoba kembali untuk mengakhiri hidup dengan meminum cairan pembersih. 

Beruntung aksi ini diketahui salah satu karyawan di sana, yang ketika itu hendak ke toilet pria yang bersebelahan dengan toilet wanita.

Ketika itu, dia melihat korban terlentang dari sela pintu yang toilet yang tidak tertutup rapat dengan mulut berbusa.

Akhirnya korban segera dilarikan ke rumah sakit dan nyawanya dapat diselamatkan.

Ketua Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Kalimantan Barat, Tumbur Manalu, menyatakan fenomena bunuh diri maupun percobaan bunuh diri yang melibatkan anak dalam beberapa tahun terakhir menjadi peringatan serius bagi orang tua, lingkungan, sekolah, hingga pemerintah untuk memberikan perhatian khusus terhadap kesehatan mental anak.

Dia menyebutkan data nasional menunjukkan persoalan tersebut tidak bisa dianggap sepele.

Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dalam beberapa tahun terakhir terdapat sedikitnya 116 anak yang meninggal akibat bunuh diri.

“Beberapa tahun terakhir ini sudah ada 116 anak yang telah melakukan bunuh diri dan di tahun 2023/2024 Indonesia tertinggi di Asia Tenggara,” katanya, Sabtu (13/6).

Menurut Tumbur, awal 2026 masyarakat Kalimantan Barat dikejutkan oleh kasus seorang siswi di madrasah tsanawiyah Pontianak yang mengakhiri hidup dengan cara gantung diri.

Peristiwa tersebut menyisakan duka mendalam karena korban meninggalkan surat wasiat untuk orang tua dan sekolah, serta meminta agar kasusnya tidak dilaporkan kepada pihak kepolisian.

“Hal tersebut menjadi pertanyaan yang sangat sulit untuk kita terima dengan akal sehat,” katanya.

Tumbur mengakui hingga kini Kalimantan Barat belum memiliki data pasti terkait jumlah kasus bunuh diri anak.

Namun, dari pendekatan perlindungan anak dan penegakan hak asasi manusia, kasus siswa madrasah tsanawiyah yang diduga mengakhiri hidup karena rasa malu atas peristiwa yang terjadi di lingkungan sekolah menunjukkan bahwa dunia pendidikan belum sepenuhnya siap menerapkan konsep sekolah yang aman dan ramah anak.

 Ia menjelaskan, terdapat dua faktor utama yang dapat memicu anak melakukan tindakan bunuh diri.

Pertama adalah faktor internal, yakni kondisi kesehatan mental anak yang membuat mereka tidak mampu mengelola stres, kehilangan rasa percaya diri, serta sulit berpikir positif.

Sementara faktor kedua adalah faktor eksternal, yaitu lingkungan keluarga dan sekolah yang kurang akomodatif, kurang responsif, atau tidak mengetahui cara menghadapi anak yang sedang mengalami tekanan psikologis berat.

Tumbur juga menyoroti besarnya pengaruh media sosial di era digital saat ini.

Menurutnya, media sosial dapat memperparah tingkat stres pada anak, terutama ketika muncul rasa malu, kehilangan kepercayaan diri, hingga anggapan bahwa dirinya tidak berharga dan hanya akan menjadi beban atau mempermalukan keluarga maupun sekolah.

“Sehingga kontrol diri hilang dan ada keinginan untuk mengakhiri hidupnya,” terangnya.

Karena itu, peran orang tua dinilai sangat penting dalam membangun rasa percaya diri anak.

Orang tua harus menjadi tempat paling aman bagi anak untuk bercerita, mendapatkan dukungan, serta memahami kapan harus meminta bantuan pihak lain yang lebih profesional seperti psikolog.

Tumbur menegaskan, setiap kasus yang masuk ke KPPAD Kalbar akan mendapatkan pendampingan psikologis, terutama dalam pemulihan trauma dan membangun kembali rasa percaya diri anak.

“Karena memang itu adalah bagian hak Anak yg harus diberikan oleh lembaga atau instansi terkait ketika ada kasus yang melibatkan anak sebagai korban, saksi atau anak pelaku,” tuturnya.

Ia pun berpesan kepada anak-anak agar tidak menghadapi masalah seorang diri.

Ketika mengalami kesulitan, anak diminta segera berkomunikasi dengan orang tua atau orang dewasa yang dipercaya, serta mencari bantuan dari lembaga yang berwenang.

Pihaknya juga siap melakukan pendampingan apabila dibutuhkan.

“Tugas KPPAD Kalbar memastikan anak-anak terpenuhi haknya, diantaranya hak untuk mendapatkan pendamping psikologis dalam setiap masalah yang dihadapi,” katanya. (*)

 

 

Editor : Chairunnisya
#anak #bunuh diri