PONTIANAK POST – Upaya membangun budaya peduli lingkungan sejak usia dini terus dilakukan di SDIT Al Mumtaz Pontianak. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Tanjungpura (Untan), sekolah tersebut mendapat pendampingan pengelolaan sampah berbasis teknologi tepat guna untuk mengubah limbah organik dan anorganik menjadi produk bernilai tambah.
Kegiatan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang berlangsung pada 9 Juni 2026 itu difokuskan pada pengelolaan sampah sekolah berbasis edukasi lingkungan, pemanfaatan teknologi, serta peningkatan keterampilan warga sekolah. Program ini sekaligus mendukung penguatan budaya sekolah hijau atau Adiwiyata.
Tim PKM Untan terdiri atas Aini Sulastri, S.Si., M.Si. dari Program Studi Teknik Lingkungan, Ir. Dedi Wijayanto, S.T., M.T. dari Teknik Industri, dan Dr. Hikma Yanti, S.Hut., M.Si.
Dalam kegiatan tersebut, tim PKM menyerahkan sejumlah sarana pendukung pengelolaan lingkungan kepada SDIT Al Mumtaz. Bantuan yang diberikan meliputi mesin pencacah sampah organik, satu set vertical garden, plang ecobrick, peralatan ecoprinting, serta alat pendukung pembuatan ecobrick.
Sampah organik yang berasal dari dedaunan dan tanaman di lingkungan sekolah diolah menggunakan mesin pencacah sebelum diproses menjadi kompos. Hasil pengolahan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung penghijauan sekolah.
Selain dijadikan kompos, berbagai jenis sampah organik juga dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami dan motif dalam kegiatan ecoprinting yang memiliki nilai edukasi sekaligus nilai ekonomi.
Sementara itu, sampah anorganik berupa botol plastik bekas diolah menjadi ecobrick. Metode ini memungkinkan limbah plastik yang sulit terurai dimanfaatkan kembali menjadi bahan konstruksi sederhana dan produk kreatif.
Sebagai informasi, data Kementerian Lingkungan Hidup melalui SIPSN menunjukkan bahwa sampah rumah tangga masih menjadi penyumbang terbesar timbulan sampah nasional, mencapai 8,38 juta ton per tahun atau sekitar 57,5 persen dari total sampah yang tercatat pada 2025. Kondisi ini menunjukkan pentingnya edukasi pengelolaan sampah sejak usia sekolah untuk membangun kebiasaan memilah dan mengolah sampah dari sumbernya.
Program PKM juga menghadirkan vertical garden sebagai sarana penghijauan sekaligus media pembelajaran bagi siswa. Kehadiran taman vertikal tersebut menjadi solusi pemanfaatan ruang terbatas di lingkungan sekolah.
Melalui fasilitas ini, siswa diajak mengenal pentingnya ruang hijau, fungsi tanaman bagi lingkungan, serta praktik bercocok tanam yang ramah lingkungan.
Pada area vertical garden juga ditanam berbagai tanaman apotek hidup. Keberadaan tanaman tersebut diharapkan dapat memperkenalkan manfaat tanaman herbal dan meningkatkan pengetahuan siswa tentang kesehatan berbasis lingkungan.
Kegiatan PKM menjadi bagian dari komitmen Universitas Tanjungpura dalam mendampingi sekolah membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya berfokus pada prestasi akademik, tetapi juga pembentukan karakter peduli lingkungan.
Melalui pengelolaan sampah yang lebih produktif, siswa tidak hanya belajar menjaga kebersihan sekolah, tetapi juga memahami bahwa limbah dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat dan memiliki nilai tambah.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari pihak sekolah dan Yayasan Al Mumtaz Pontianak. Kepala SDIT Al Mumtaz, Eka Irsyamudana, S.P., M.Pd., mengapresiasi dukungan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Tanjungpura.
Menurutnya, program tersebut memberikan manfaat besar bagi sekolah dalam meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan dan pendidikan karakter siswa.
“Semoga melalui kegiatan ini sekolah memperoleh banyak manfaat, termasuk mendukung peningkatan status Adiwiyata dari Adiwiyata Nasional menuju Adiwiyata Mandiri,” ujarnya.
Program PKM ini didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi melalui kontrak Nomor 197/C3/DT.05.00/PM/2026. (ars/ser)
FAQ
Apa manfaat mesin pencacah sampah organik di sekolah?
Mempercepat proses pengolahan sampah organik menjadi bahan kompos yang dapat dimanfaatkan kembali.
Apa itu ecobrick?
Ecobrick adalah botol plastik yang diisi padat dengan sampah plastik untuk dimanfaatkan sebagai bahan bangunan atau produk kreatif.
Apa tujuan program ini?
Meningkatkan kesadaran lingkungan, keterampilan siswa, serta mendukung sekolah menuju predikat Adiwiyata Mandiri.