PONTIANAK POST - Fenomena El Nino yang diperkirakan bakal memengaruhi kondisi cuaca tahun ini di Kalimantan Barat. Risiko bencana hidrometeorologi diperkirakan kian meningkat.
Dosen Program Studi Geofisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Tanjungpura, Andi Ihwan mengatakan perubahan iklim global yang dipicu meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca turut memengaruhi karakteristik El Nino. Secara teori, siklus El Nino terjadi setiap dua hingga tujuh tahun. Namun perubahan iklim dapat mengubah pola kemunculan, memperpanjang durasi, hingga meningkatkan intensitas fenomena tersebut.
Ia menyebut, indikator kekuatan El Nino diukur melalui anomali suhu permukaan laut. “Semakin tinggi anomali suhu permukaan lautnya, maka ketegori el nino nya akan semakin tinggi,” katanya.
Baca Juga: Pakar Ungkap Daerah di Kalbar yang Berpotensi Terdampak El Nino pada 2026, Ini Daftarnya
Ia mencontohkan El Nino pada 2015 yang berlangsung dalam durasi panjang dengan kategori sangat kuat sehingga dampaknya dirasakan hampir sepanjang tahun hingga berlanjut pada tahun berikutnya.
Karena itulah, lanjut dia, untuk menghadapi potensi El Nino, maka pemerintah daerah perlu memperkuat koordinasi lintas instansi untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau. Pemantauan titik panas (hotspot) melalui satelit juga harus terus diintensifkan sebagai indikator awal munculnya kebakaran hutan dan lahan.
“Pengawasan hotspot yang dipantau satelit menjadi indikator awal terjadinya kebakaran. Semakin banyak titik hotspot maka potensi terjadinya kebakaran semakin besar,” terangnya.
Selain itu, sosialisasi larangan pembakaran lahan kepada masyarakat perlu diperkuat, terutama menjelang puncak musim kemarau. Menurutnya, pengembangan sistem peringatan dini kebakaran hutan juga menjadi langkah penting.
Baca Juga: Pemkot Pontianak Perkuat Mitigasi El Nino untuk Cegah Karhutla dan Gagal Panen
Dalam jangka panjang, Andi menilai pengelolaan hidrologi lahan gambut harus menjadi prioritas mitigasi di provinsi ini. Menurutnya, gambut perlu dijaga tetap basah atau lembab agar tidak mudah terbakar, baik pada musim hujan maupun musim kemarau. Upaya tersebut dinilai mampu mengurangi risiko karhutla saat El Nino terjadi.
Ia juga mendorong modernisasi sektor pertanian melalui penerapan teknologi pembukaan lahan tanpa membakar sebagai pengganti praktik tradisional yang berisiko memicu kebakaran.
Selain itu, pemerintah perlu memastikan ketersediaan air bersih selama musim kemarau panjang karena kekeringan sering menyebabkan pasokan air masyarakat terganggu.
Di samping itu, penguatan sistem peringatan dini kebakaran hutan dan lahan tetap menjadi salah satu langkah paling efektif. “Oleh karena itu penguatan sistem atau early warning system kebakaran lahan dan hutan itu sangat diperlukan untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat,” pungkasnya. (sti)
Editor : Miftahul Khair