PONTIANAK POST – Selama ini hutan rawa gambut Indonesia dikenal sebagai ekosistem penting karena kemampuannya menyimpan karbon dalam jumlah besar. Namun, penelitian terbaru mengungkap fungsi lain yang tidak kalah penting: gambut berperan sebagai “mesin uap” alami yang membantu memperkuat pembentukan hujan di wilayah tropis.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal internasional Climate Dynamics terbitan Springer Nature pada 2026. Penelitian ini menunjukkan bahwa ekosistem gambut memiliki peran besar dalam mengatur siklus hidrologi dan menjaga kestabilan iklim regional.
Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Albertus Sulaiman, selaku principal investigator penelitian, mengatakan hasil riset tersebut mengubah cara pandang terhadap fungsi ekologis gambut.
Menurutnya, perhatian terhadap gambut selama ini lebih banyak berfokus pada kemampuan menyimpan karbon dan dampak kebakaran hutan. Padahal, ekosistem tersebut juga berperan mengatur pergerakan uap air dan pembentukan hujan.
"Penelitian ini menunjukkan bahwa hutan rawa gambut bukan hanya gudang karbon, tetapi juga berfungsi seperti mesin uap alami yang memperkuat sirkulasi angin darat-laut dan membantu menjaga ritme hujan harian di wilayah pesisir tropis," ujar Albertus.
Bengkalis Jadi Laboratorium Alam untuk Membongkar Rahasia Gambut
Penelitian ini dilakukan tim gabungan BRIN bersama Kyoto University, Kobe University, Hokkaido University, IPB University, dan GMIT Mongolia.
Lokasi penelitian berada di Pulau Bengkalis, Provinsi Riau. Wilayah tersebut dipilih karena sebagian besar kawasan masih didominasi ekosistem rawa gambut alami.
Kondisi itu membuat Bengkalis menjadi laboratorium alam untuk melihat hubungan antara gambut, atmosfer, dan pola hujan.
Untuk mendapatkan data detail, para peneliti memasang radar cuaca polarimetrik X-band buatan Jepang di kompleks STAIN Bengkalis sejak Februari 2020.
Radar tersebut mampu memetakan distribusi hujan setiap lima menit dengan resolusi ratusan meter dalam radius sekitar 50 kilometer.
Teknologi tersebut memberikan gambaran yang lebih rinci mengenai bagaimana hujan terbentuk dan bergerak di atas wilayah gambut.
Gambut Menggerakkan Sirkulasi Udara dan Memicu Hujan
Hasil pengamatan selama Mei hingga Desember 2024 menunjukkan pola hujan yang konsisten di Bengkalis.
Wilayah pedalaman pulau cenderung mengalami hujan pada siang hingga sore hari. Sementara kawasan pesisir dan laut lebih sering mengalami hujan pada tengah malam hingga menjelang subuh.
Pola tersebut menunjukkan adanya sirkulasi angin darat-laut yang bekerja secara teratur setiap hari.
Para peneliti kemudian membuat simulasi atmosfer menggunakan tiga skenario berbeda: wilayah pantai tanpa pulau, wilayah dengan pulau dan selat, serta wilayah pulau gambut.
Hasil simulasi menunjukkan keberadaan Pulau Bengkalis memperkuat pertemuan angin dari laut dan selat sehingga pembentukan awan hujan menjadi lebih intensif.
Albertus menjelaskan, karakteristik gambut yang selalu basah menjadi faktor penting dalam proses tersebut.
Vegetasi gambut melepaskan uap air melalui proses evapotranspirasi. Ketika uap air berubah menjadi awan, panas laten yang dilepaskan memperkuat arus udara naik dan menarik lebih banyak udara lembap dari laut.
"Pulau gambut ternyata memperkuat sistem sirkulasi atmosfer secara alami. Semakin banyak uap air yang dilepaskan vegetasi gambut, semakin besar peluang terbentuknya awan dan hujan," katanya.
Kerusakan Gambut Bisa Mengganggu Siklus Hujan
Temuan ini memberikan perspektif baru dalam perlindungan ekosistem gambut.
Kerusakan gambut selama ini sering dikaitkan dengan pelepasan emisi karbon akibat pengeringan lahan dan kebakaran. Namun, penelitian ini menunjukkan dampaknya bisa lebih luas, yakni mengganggu sistem alami pembentukan hujan.
Albertus mengatakan menjaga gambut berarti menjaga lebih dari sekadar cadangan karbon.
"Menjaga gambut bukan hanya menjaga karbon, tetapi juga menjaga hujan. Degradasi gambut berpotensi mengganggu siklus hidrologi regional dan dalam jangka panjang dapat memengaruhi stabilitas sistem iklim tropis," ujarnya.
ndonesia memiliki salah satu kawasan gambut tropis terluas di dunia dengan luas sekitar 13,9 juta hektare yang tersebar terutama di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Ekosistem tersebut menyimpan cadangan karbon yang sangat besar, diperkirakan mencapai lebih dari 50 miliar ton karbon dalam bentuk bahan organik yang tertimbun selama ribuan tahun.
Besarnya simpanan karbon membuat gambut memiliki peran strategis dalam mitigasi perubahan iklim. Namun, ketika gambut dikeringkan atau terbakar, karbon yang tersimpan tersebut dapat terlepas ke atmosfer dalam jumlah besar sebagai emisi gas rumah kaca.
Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan kebakaran hutan dan lahan gambut menjadi salah satu sumber utama peningkatan emisi karbon Indonesia. Pada periode kebakaran besar 2015, emisi akibat kebakaran gambut diperkirakan mencapai ratusan juta ton CO₂ ekuivalen dan sempat menjadikan Indonesia sebagai salah satu penyumbang emisi harian terbesar dunia saat puncak kejadian.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa menjaga gambut bukan hanya persoalan konservasi karbon. Hilangnya tutupan gambut juga berpotensi mengurangi kemampuan ekosistem dalam menyimpan air, menjaga kelembapan udara, dan mempertahankan keseimbangan siklus hidrologi di wilayah tropis.
Temuan Baru untuk Kebijakan Perubahan Iklim
Penelitian ini juga memperkuat pembahasan mengenai konsep biotic pump atau pompa biotik.
Konsep tersebut menjelaskan bahwa hutan melalui proses evapotranspirasi dapat membantu menggerakkan sirkulasi atmosfer dan memengaruhi distribusi hujan.
Selama ini teori tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan atmosfer. Namun, penelitian di Bengkalis menunjukkan adanya hubungan yang konsisten antara teori, pengamatan radar, dan simulasi atmosfer.
Tim peneliti merekomendasikan pengukuran langsung fluks panas laten menggunakan metode eddy covariance serta memasukkan pengaruh gambut terhadap pembentukan hujan ke dalam model iklim global.
Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan akurasi prediksi cuaca dan iklim di kawasan Indonesia sebagai bagian dari wilayah Benua Maritim.
Gambut Kecil di Peta, Besar bagi Masa Depan Iklim
Indonesia memiliki hamparan hutan rawa gambut luas yang tersebar terutama di Sumatera, Kalimantan, dan Papua.
Meski sering terlihat sebagai kawasan terpencil, penelitian terbaru menunjukkan perannya sangat besar bagi keseimbangan iklim tropis.
"Pulau-pulau gambut dan hutan rawa gambut yang tersebar di tepi Pantai timur Sumatera, Kalimantan, dan Papua mungkin tampak kecil di peta, tetapi kontribusinya terhadap sistem iklim tropis sangat besar," kata Albertus.
Menurutnya, menjaga gambut berarti menjaga air, hujan, dan ketahanan Indonesia menghadapi perubahan iklim. **
Editor : Aristono Edi Kiswantoro