PONTIANAK POST - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian wilayah Kalimantan Barat (Kalbar), khususnya kawasan selatan, akan mengalami curah hujan rendah pada periode 11–20 Juli 2026. Kondisi tersebut meningkatkan potensi kekeringan hingga munculnya titik panas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan.
Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Kalbar, Fanni Aditya, mengatakan curah hujan pada periode tersebut diperkirakan berada dalam kategori rendah, yakni berkisar 0–50 milimeter per dasarian.
Terdapat tiga wilayah yang berpotensi mengalami curah hujan rendah di provinsi ini. "Ketapang, Kayong Utara, dan Kubu Raya berpotensi mengalami curah hujan rendah sehingga perlu diwaspadai munculnya kekeringan dan titik panas," katanya, kemarin.
Baca Juga: BNPB Keluarkan Peringatan Dini, Kalbar Bakal Hadapi Cuaca Ekstrem
Meski secara umum Kalbar masih berpeluang diguyur hujan dengan intensitas rendah, pihaknya mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut.
Selain itu, BMKG Kalbar juga menyebut peluang fenomena El Nino berkembang hingga mencapai kategori kuat mencapai 98 persen. Kondisi ini diperkirakan memengaruhi musim kemarau di Indonesia, termasuk Kalbar.
Berdasarkan prediksi BMKG, lanjut dia, puncak musim kemarau di provinsi ini akan terjadi secara bertahap. Pada Juli, puncak kemarau diperkirakan terjadi di sebagian wilayah Bengkayang, Sambas, Landak, dan Kapuas Hulu. Memasuki Agustus, sebagian besar wilayah Kalbar diprediksi mengalami puncak musim kemarau, sementara pada September kondisi tersebut bergeser ke Kubu Raya, Kayong Utara, Ketapang, dan Melawi.
Sementara itu, Dosen Program Studi Geofisika FMIPA Universitas Tanjungpura, Andi Ihwan, menjelaskan dampak El Nino di Kalbar tidak merata karena dipengaruhi karakteristik pola hujan masing-masing wilayah. Secara garis besar, dampak dari fenomena El Nino untuk wilayah Indonesia akan mengalami kekeringan yang berkepanjangan.
Baca Juga: Hadapi Ancaman El Nino di Kalbar, Pakar Untan Sarankan Pemerintah Lakukan Langkah Ini
“Terutama untuk wilayah-wilayah yang berpola curah hujan monsunal, yaitu pola curah hujan yang dipengaruhi oleh adanya angin monsun Asia dan monsun Australia,” jelasnya.
Menurutnya, daerah dengan pola hujan monsunal seperti Ketapang, Kayong Utara, dan sebagian Kabupaten Kubu Raya akan lebih rentan mengalami kekeringan berkepanjangan saat El Nino terjadi. Adapun wilayah di sekitar garis khatulistiwa seperti Pontianak, Mempawah, dan sejumlah daerah lainnya memiliki pola hujan ekuatorial sehingga dampak El Nino cenderung berbeda dibandingkan kawasan monsunal.
Andi mengingatkan, kekeringan yang berlangsung lama dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Ia menilai kondisi tersebut pernah terjadi saat El Nino kuat pada 1997, 2015, dan 2019 yang memicu kebakaran hutan dalam skala besar di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Kalbar.
Selain meningkatkan potensi karhutla, kekeringan berkepanjangan juga dapat memicu krisis air bersih serta mengganggu sektor pertanian hingga menyebabkan gagal panen.
Andi juga menekankan potensi kebakaran di gambut menjadi salah satu faktor yang memperparah dampak El Nino. Menurutnya, lahan gambut yang mengering sangat mudah terbakar. Berbeda dengan kebakaran pada tanah mineral, api di lahan gambut membakar lapisan bawah permukaan.
“Nah jika terjadi kebakaran di bawah permukaan maka sangat sulit untuk dipadamkan,” katanya.
Selain itu, kekeringan berkepanjangan menyebabkan debit sungai menurun drastis sehingga meningkatkan risiko intrusi air laut ke wilayah daratan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas sumber air baku yang digunakan perusahaan daerah air minum (PDAM).
“Air laut itu bisa masuk ke dalam tanah menggantikan air mineral tersebut. Hal ini akan berdampak pada pasokan air baku pada PDAM,” ujarnya. (sti)
Editor : Hanif