Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Warga Pontianak Diimbau Hemat Air, Kemarau Panjang Ancam Pasokan Air Baku PDAM

Uray Ronald • Kamis, 16 Juli 2026 | 00:09 WIB
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono. (Prokopim)
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono. (Prokopim)

 

PONTIANAK POST – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengimbau masyarakat mulai menghemat air bersih menyusul prakiraan musim kemarau yang berpotensi berlangsung lebih panjang tahun ini. Imbauan itu disampaikan sebagai langkah antisipasi agar ketersediaan air baku bagi PDAM Tirta Khatulistiwa tetap terjaga.

Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), periode Juli hingga September diperkirakan menjadi puncak musim kemarau dengan curah hujan yang rendah. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi pelayanan air bersih apabila tidak diantisipasi sejak dini.

Baca Juga: Kalbar Mulai Memasuki Musim Kemarau, El Nino Tingkatkan Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan

Kemarau Berpotensi Turunkan Debit Sungai Kapuas

Edi mengatakan curah hujan dalam beberapa hari terakhir sudah mulai menurun. Karena itu, masyarakat diminta menggunakan air secara bijak dan menyiapkan cadangan air di rumah apabila memiliki bak penampungan.

"Beberapa hari terakhir curah hujan sudah sangat rendah. Kami mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air bersih. Bagi yang memiliki bak penampungan air, sebaiknya dimanfaatkan sebagai cadangan untuk menghadapi musim kemarau," ujarnya, Rabu (15/7/2026).

Ia menjelaskan, apabila kemarau berlangsung lebih dari tiga minggu tanpa hujan, debit Sungai Kapuas berpotensi menurun. Kondisi itu dapat memicu intrusi air laut saat air pasang sehingga kadar garam di Sungai Kapuas meningkat.

Sungai Kapuas merupakan sumber utama air baku PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak. Apabila kadar garam melampaui ambang batas, kualitas air yang diproduksi dapat terganggu.

Baca Juga: BMKG: Kemarau Panjang Ancam Lebih dari 80 Persen Wilayah Indonesia, Petani Diminta Segera Beradaptasi

Intake Penepat Disiapkan sebagai Cadangan Air Baku

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Pemerintah Kota Pontianak menyiapkan pemanfaatan intake Penepat sebagai sumber air baku cadangan.

"Air dari Penepat akan dicampurkan dengan air Sungai Kapuas agar kadar garamnya tidak terlalu tinggi. Langkah ini memang disiapkan khusus apabila terjadi kemarau panjang," jelas Edi.

Ia mengungkapkan, berdasarkan prakiraan BMKG, fenomena El Nino berpotensi menyebabkan musim kemarau berlangsung lebih lama. Dampaknya, risiko intrusi air laut ke Sungai Kapuas juga meningkat.

Berdasarkan pemutakhiran Prediksi Musim Kemarau 2026 yang dirilis BMKG pada Juni 2026, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mengalami musim kemarau yang lebih kering dan berdurasi lebih panjang dari kondisi normal.

BMKG juga menyatakan peluang terjadinya fenomena El Nino pada 2026 meningkat, sehingga berpotensi mengurangi curah hujan di banyak wilayah, termasuk meningkatkan risiko kekeringan, penurunan debit sungai, dan gangguan ketersediaan air baku.

Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Juli hingga September, dengan cakupan terluas pada Agustus.

Operasional Intake Membutuhkan Biaya Besar

Edi menjelaskan penyediaan air baku menjadi kewenangan pemerintah pusat melalui Balai Wilayah Sungai Kalimantan I. Saat ini telah tersedia intake Penepat di lahan milik PDAM seluas sekitar sembilan hektare sebagai cadangan air tawar ketika intrusi air laut terjadi.

Namun, pengoperasian fasilitas tersebut membutuhkan biaya yang besar. Air harus dipompa menggunakan lima pompa sejauh sekitar 21 kilometer menuju Instalasi Pengolahan Air (IPA) Imam Bonjol dengan kapasitas sekitar 500 liter per detik.

Sementara itu, produksi air bersih Kota Pontianak mencapai sekitar 1.250 liter per detik. Layanan tersebut telah menjangkau sekitar 90,6 persen masyarakat Kota Pontianak.

"Produksi air bersih kita mencapai sekitar 1.250 liter per detik untuk melayani sekitar 90,6 persen masyarakat Kota Pontianak. Karena itu, kami terus meminta perhatian pemerintah pusat agar kebutuhan air baku Kota Pontianak dapat dipenuhi," katanya.

Baca Juga: BMKG Keluarkan Prediksi Terbaru: Kalbar Bersiap Hadapi Puncak Kemarau 2026, Ancaman Kekeringan dan Karhutla Mulai Membayangi Warga

Warga Diminta Jaga Kesehatan Selama Musim Kemarau

Selain mengantisipasi gangguan pelayanan air bersih, Pemerintah Kota Pontianak juga mengingatkan masyarakat menjaga kesehatan selama musim kemarau.

Edi mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar ruangan saat suhu udara meningkat. Masyarakat juga diminta menggunakan masker apabila terjadi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.

"Masyarakat yang memiliki riwayat ISPA maupun asma harus lebih berhati-hati. Kurangi aktivitas di luar ruangan dan gunakan masker apabila kualitas udara memburuk," pesannya.

Pemkot Siapkan Antisipasi Karhutla

Menghadapi musim kemarau, Pemerintah Kota Pontianak telah membentuk tim serta menyiapkan langkah pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Upaya tersebut difokuskan di kawasan yang dinilai rawan, yakni Pontianak Utara, Pontianak Selatan, dan Pontianak Tenggara.

"Mudah-mudahan musim kemarau tahun ini tidak berlangsung terlalu lama sehingga pelayanan air bersih tetap berjalan optimal dan masyarakat dapat menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa kendala berarti," pungkasnya.*

Editor : Uray Ronald
Sumber : prokopim pontianak
hemat air bersih musim kemarau Pontianak intrusi air laut PDAM Tirta Khatulistiwa Edi Rusdi Kamtono