PONTIANAK POST – Sejumlah organisasi mahasiswa di Kalimantan Barat membuka posko bantuan untuk mendukung relawan yang terlibat dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalbar.
Koordinator Lapangan Aliansi Mahasiswa Kalimantan Barat, Oky Pramadhani, mengatakan posko tersebut dibuka selama tiga hari, 25–27 Agustus 2026, dengan mengusung gerakan “Rakyat Bantu Rakyat”.
Menurut Oky, gerakan tersebut merupakan bentuk solidaritas mahasiswa terhadap relawan yang berada di lapangan untuk membantu pemadaman dan penanganan karhutla.
“Ini bentuk kepedulian dan solidaritas kepada para relawan yang berada di garis depan penanganan karhutla,” kata Oky, Selasa (25/8) dalam pesan tertulisnya.
Ia mengatakan kebutuhan relawan di lapangan tidak hanya berkaitan dengan peralatan pemadaman, tetapi juga kebutuhan dasar seperti konsumsi, perlengkapan kesehatan dan masker. Karena itu, posko membuka penggalangan bantuan berupa alat medis, konsumsi relawan, masker, dana, serta kebutuhan lain yang relevan dengan kondisi di lapangan.
Oky berharap masyarakat, komunitas, organisasi kepemudaan, pelaku usaha dan berbagai elemen lainnya dapat turut berpartisipasi dalam gerakan tersebut.
“Semangatnya rakyat bantu rakyat. Ketika ada masyarakat dan relawan yang membutuhkan dukungan, kita berupaya hadir dengan kemampuan yang kita punya,” ujarnya.
Posko pengumpulan bantuan dipusatkan di Bundaran Digulis, Pontianak. Gerakan tersebut melibatkan sejumlah organisasi mahasiswa, di antaranya Forum Koordinasi BEM Kalimantan Barat, BEM Seluruh Indonesia (BEM SI), FOMDA Kalimantan Barat, BEM Nusantara Kalimantan Barat, DEMA Se-Indonesia, serta Forum Mahasiswa Lingkungan dan Riset.
Oky menegaskan, aksi solidaritas tersebut tidak dimaksudkan menggantikan peran pemerintah dalam penanganan karhutla. Menurutnya, dukungan masyarakat diperlukan untuk membantu kebutuhan relawan selama berada di lapangan.
Di sisi lain, ia menilai penanganan karhutla tidak cukup hanya dilakukan ketika kebakaran terjadi. Upaya pencegahan, penegakan hukum, perlindungan ekosistem dan pengelolaan hutan serta lahan secara berkelanjutan juga diperlukan untuk mengatasi persoalan karhutla dalam jangka panjang.
“Penanganan darurat memang penting, tetapi pencegahan dan penanganan akar persoalan karhutla juga harus menjadi perhatian,” katanya.
Ia mengajak masyarakat yang ingin memberikan bantuan untuk berkoordinasi terlebih dahulu, terutama untuk bantuan dalam jumlah besar atau bantuan berupa barang, agar penyalurannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan relawan di lapangan. (mse)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro