PONTIANAK POST - Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) masih digelar untuk membantu menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Hujan yang turun di sejumlah wilayah sasaran pada Jumat (4/9) diharapkan dapat meningkatkan kelembapan lahan, terutama di kawasan yang rawan terbakar.
Di Kalimantan Barat, OMC telah dilakukan sejak 28 Agustus hingga 14 September 2026. Dalam periode tersebut, sebanyak 10 sortie penerbangan dilakukan dengan total bahan semai 8.000 kilogram natrium klorida (NaCl).
Pada 4 September, hujan terpantau turun di Putussibau, Kabupaten Kubu Raya, dan Kota Pontianak. Hujan tersebut menjadi bagian penting dalam upaya pembasahan lahan dan pendinginan lokasi yang berpotensi mengalami kebakaran.
Baca Juga: Hujan Singkat di Pontianak hingga Putussibau Membawa Lega
Namun, hujan hasil operasi modifikasi cuaca tidak serta-merta mengakhiri ancaman karhutla. Kondisi lahan, terutama gambut, tetap membutuhkan pemantauan dan pembasahan secara berkelanjutan untuk mencegah api kembali muncul.
Direktur Pengendalian Kebakaran Lahan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Dasrul Chaniago, mengatakan OMC hanya salah satu instrumen dalam penanganan karhutla.
“Operasi Modifikasi Cuaca merupakan intervensi penting dalam penanganan karhutla, khususnya untuk membantu pembasahan lahan gambut dan mendukung kerja tim pemadam di lapangan,” ujar Dasrul.
Menurut dia, efektivitas penanganan karhutla tetap bergantung pada upaya lain di lapangan, seperti patroli, pemantauan titik panas, pemadaman darat, pembasahan gambut, pengelolaan tata air, serta pengawasan terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Baca Juga: Karhutla di Singkawang Utara Hanguskan 32,5 Hektare Lahan Gambut, Sudah Berlangsung 14 Hari
Dasrul menegaskan bahwa pelaksanaan OMC sendiri tidak dilakukan secara rutin tanpa mempertimbangkan kondisi atmosfer. Setiap penerbangan ditentukan berdasarkan keberadaan awan potensial, arah dan kecepatan angin, sebaran titik panas, serta kebutuhan pembasahan di wilayah rawan karhutla.
OMC juga masih berlangsung di Kalimantan Tengah. Sejak 26 Agustus hingga 14 September 2026, sebanyak sembilan sortie penerbangan telah dilakukan dengan penggunaan 7.200 kilogram NaCl. Hujan pada 4 September terpantau turun di Kabupaten Kotawaringin Barat.
Untuk Kalimantan Barat, OMC mendapat dukungan BNPB dan dilanjutkan pada 3–9 September 2026. Sementara di Kalimantan Tengah, keberlanjutan operasi mendapat dukungan Kementerian Kehutanan.
KLH/BPLH masih memantau perkembangan titik panas, curah hujan, kualitas udara, serta kondisi lapangan untuk melihat kebutuhan operasi selanjutnya. Pemantauan tersebut menjadi penting karena keberhasilan pembasahan melalui OMC sangat bergantung pada kondisi cuaca dan kemampuan mempertahankan kelembapan lahan.
“Kewaspadaan tidak boleh menurun. Tujuan utama kita adalah mencegah kebakaran meluas, melindungi kesehatan masyarakat, menjaga kualitas udara, serta memastikan penanganan karhutla berlangsung cepat, terpadu, dan berkelanjutan,” tegas Dasrul. (mse)
Editor : Hanif