PONTIANAK POST – Sebanyak 49 penerbangan dari dan menuju Bandara Internasional Supadio terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau selama dua hari, Minggu–Senin (6–7/9). Gangguan terjadi pada rute Pontianak–Jakarta dan arah sebaliknya setelah Bandara Soekarno-Hatta ditutup sementara.
Sebanyak 24 penerbangan terdampak pada Minggu dan 25 penerbangan pada Senin. Sejumlah penerbangan dibatalkan, sedangkan lainnya berpotensi terlambat.
Pihak Bandara Supadio belum memerinci jumlah pembatalan dan keterlambatan dari total 49 penerbangan tersebut.
“Kemarin ada sekitar 24 penerbangan yang terdampak, baik keberangkatan maupun kedatangan dari Jakarta. Hari ini ada 25 penerbangan,” kata Branch Communication and CSR Department Head Bandara Internasional Supadio M. Joko Wahyudi di Kubu Raya, Senin (7/9).
Pengelola bandara masih menunggu perkembangan kondisi ruang udara dan informasi operasional terbaru. Belum dapat dipastikan kapan penerbangan Pontianak–Jakarta kembali normal.
Penumpang yang penerbangannya dibatalkan dapat mengajukan pengembalian dana melalui maskapai.
“Untuk pesawat yang dibatalkan, penumpang dapat mengajukan refund di konter check-in bandara,” ujarnya.
Supadio Hadapi Gangguan Ganda
Selain erupsi Anak Krakatau, operasional Bandara Supadio terganggu kabut asap kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat. Pada Senin, empat penerbangan terdampak, terdiri atas dua keberangkatan dan dua kedatangan.
Jarak pandang di sekitar bandara sempat turun hingga 500 meter sebelum meningkat menjadi sekitar 1.200 meter. Kondisi yang berubah-ubah membuat potensi keterlambatan tetap tinggi, terutama pada pagi dan sore.
“Pelaksanaan penerbangan bergantung pada jarak pandang dan kebijakan masing-masing maskapai,” kata Joko.
Abu vulkanik dan kabut asap sama-sama menjadi ancaman bagi keselamatan penerbangan. Selain mengurangi jarak pandang, partikel di udara dapat memengaruhi mesin dan komponen pesawat.
Layanan Penumpang Diperkuat
Bandara Supadio memperkuat pelayanan bagi penumpang yang terdampak pembatalan dan keterlambatan. Pelayanan difokuskan pada keselamatan, keamanan, penyampaian informasi, dan penanganan keluhan.
Airport Quality and SMS Department Head Bandara Internasional Supadio Yakobus Thomry Toto mengatakan, penumpang membutuhkan kepastian informasi di tengah perubahan jadwal yang cepat.
“Dalam kondisi seperti ini, pengguna jasa membutuhkan informasi terbaru. Kami juga menangani keluhan pelanggan,” ujarnya.
Pengelola bandara menyediakan masker dan air minum bagi penumpang yang harus menunggu lebih lama. Kursi di ruang tunggu dan personel pelayanan juga ditambah untuk mengantisipasi penumpukan.
Koordinasi dilakukan bersama maskapai, petugas kesehatan, Balai Kekarantinaan Kesehatan, dan BMKG. Informasi cuaca serta jarak pandang menjadi dasar pengambilan keputusan operasional.
Penumpang diimbau memeriksa jadwal melalui kanal resmi maskapai sebelum menuju bandara. Kondisi abu vulkanik dan kabut asap dapat berubah sewaktu-waktu.
Tujuh Bandara Masih Ditutup
Gangguan penerbangan di Supadio merupakan dampak penutupan sejumlah bandara di Jawa dan Sumatera. Hingga Senin pukul 18.00 WIB, tujuh bandara masih ditutup karena abu vulkanik Anak Krakatau berada di jalur penerbangan.
BMKG mencatat abu vulkanik tersebar pada ketinggian 15 ribu–50 ribu kaki atau sekitar 4,6–15,2 kilometer. Arah sebarannya berubah mengikuti kondisi angin.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan, penutupan diperpanjang sambil menunggu perkembangan terbaru dari BMKG. Keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan utama.
Berdasarkan notice to airmen (NOTAM), bandara yang ditutup meliputi Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II, Husein Sastranegara, Pondok Cabe, Budiarto, dan Muhammad Taufiq Kiemas.
Bandara Atung Bungsu di Pagar Alam telah kembali beroperasi pada Senin pukul 09.00 WIB.
“Status bisa berubah sewaktu-waktu tergantung sebaran abu. Keselamatan tetap menjadi prioritas,” tegas Dudy.
Sebanyak 270 Ribu Penumpang Terdampak
Dampak erupsi terhadap penerbangan dirasakan sejak 5 September. Hingga Senin pukul 18.00 WIB, sebanyak 2.319 penerbangan dan 270.337 penumpang terdampak.
Sebanyak 1.397 penerbangan pada bandara yang ditutup terdampak dengan jumlah penumpang 177.579 orang. Sementara itu, 922 penerbangan dialihkan dan berdampak terhadap 92.758 penumpang.
Kementerian Perhubungan menyiapkan Bandara Kertajati, Juanda, Yogyakarta International Airport, Adisutjipto, Ahmad Yani, dan Adi Soemarmo sebagai bandara alternatif.
Empat penerbangan Garuda Indonesia telah mendarat di Kertajati sejak Minggu. Penerbangan dari Jeddah dan Amsterdam juga dijadwalkan dialihkan ke bandara tersebut.
Singapore Airlines akan menggunakan Airbus A350 berkapasitas lebih besar. Sejumlah penerbangan juga dialihkan dengan transit di Surabaya dan Jogjakarta.
Transportasi Lanjutan Gratis
Penumpang internasional yang semula menuju Soekarno-Hatta, tetapi mendarat di bandara alternatif, mendapat transportasi lanjutan gratis. Angkasa Pura menanggung biaya bus dan kereta api menuju Jakarta.
“Kami siapkan bus dan kereta untuk transportasi lanjutannya. Itu ditanggung sepenuhnya oleh Angkasa Pura,” kata Dudy.
Setelah bandara dibuka, pengelola akan membersihkan landasan pacu, taxiway, dan apron. Maskapai juga diminta memeriksa pesawat yang berpotensi terpapar abu vulkanik.
Potensi Letusan Masih Tinggi
Episode erupsi menerus Anak Krakatau berakhir setelah berlangsung sekitar 25 jam. Erupsi terjadi sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB hingga Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB.
Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan, Anak Krakatau kemudian kembali menunjukkan pola erupsi Strombolian. Letusan terjadi secara berkala dan diselingi jeda.
“Teramati tiga kali erupsi Strombolian dengan warna kolom erupsi hitam,” ujarnya.
Pemantauan pada 6–7 September masih menunjukkan aktivitas kegempaan tinggi. Badan Geologi mencatat tiga gempa erupsi, sembilan gempa embusan, 93 gempa frekuensi rendah, 98 gempa hibrida, empat tremor menerus, dan satu gempa vulkanik dangkal.
Status Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga. Potensi terjadinya letusan berikutnya masih dinilai tinggi.
“Probabilitas terjadi letusan dalam beberapa periode waktu selanjutnya masih tinggi,” kata Lana.
Masyarakat dan wisatawan dilarang memasuki kawasan dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau. Bahaya yang perlu diwaspadai meliputi lontaran batu pijar, hujan abu lebat, dan kemungkinan aliran lava.
OMC Dioperasikan dari Kertajati
Pemerintah mengerahkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu mengurangi sebaran abu vulkanik. Pangkalan operasi dipindahkan dari Jabodetabek ke Bandara Kertajati dan Bandara Ahmad Yani karena sejumlah bandara di Jakarta ditutup.
Kepala BNPB Suharyanto mengatakan, aktivitas erupsi mulai menurun. Namun, abu vulkanik masih bertahan di atmosfer.
BNPB juga menyiapkan satu pesawat OMC dari Kalimantan untuk beroperasi melalui Semarang. Operasi diarahkan ke DKI Jakarta, Banten, Lampung, dan Sumatera Selatan.
Deputi Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menjelaskan, pesawat menyemprotkan campuran air dan surfaktan ketika cuaca cerah. Metode itu digunakan untuk membantu mengikat partikel abu agar lebih cepat mengendap.
Jika terdapat awan yang berpotensi menghasilkan hujan, petugas menggunakan campuran air dan bahan semihigroskopis untuk membantu pertumbuhan awan.
“Harapannya, satu atau dua hari ke depan persoalan abu vulkanik dapat selesai, dengan catatan tidak ada letusan baru,” kata Tri.
Maskapai Tawarkan Pengembalian Dana
Sejumlah maskapai menawarkan pengembalian dana, perubahan jadwal, dan pengalihan rute kepada penumpang terdampak.
Indonesia AirAsia memberikan pilihan pengembalian dana penuh melalui metode pembayaran awal atau menyimpannya dalam akun kredit yang berlaku selama 730 hari.
Penumpang juga dapat mengubah jadwal satu kali tanpa biaya untuk rute yang sama. Penerbangan pengganti harus dilakukan paling lama 30 hari setelah jadwal awal dan bergantung pada ketersediaan kursi.
Citilink menawarkan perubahan jadwal tanpa biaya tambahan atau pengembalian dana penuh sesuai ketentuan. Tiket yang dibeli melalui agen perjalanan atau platform daring harus diproses melalui tempat pembelian.
Penumpang diminta terus memeriksa status penerbangan melalui kanal resmi maskapai. Perubahan sebaran abu vulkanik dan jarak pandang dapat kembali memengaruhi perjalanan dari dan menuju Bandara Supadio. (ant/ars/mia/raf/bry/lyn/oni)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro