PONTIANAK POST - Pemerintah memperpanjang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah hingga 14 September 2026 untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Perpanjangan dilakukan setelah operasi sebelumnya dinilai memberikan dampak terhadap turunnya hujan dan kondisi lahan di sejumlah wilayah.
OMC di Kalimantan Barat dilaksanakan sejak 22 Agustus hingga 4 September 2026 dengan dukungan pembiayaan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH). Operasi kemudian diperpanjang pada 5–14 September dengan dukungan pembiayaan Kementerian Kehutanan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo mengatakan, pelaksanaan OMC mengandalkan data radar cuaca untuk menentukan sasaran penyemaian awan. Misi penerbangan dikendalikan dari Posko OMC di Pangkalan Udara Supadio, Kabupaten Kubu Raya.
Baca Juga: Hujan Mulai Guyur Kalbar dan Kalteng, Operasi Modifikasi Cuaca Diperpanjang Hingga 14 September
“Dalam operasi ini, petugas menerbangkan 27 sorti dengan total bahan semai 24.600 kilogram garam murni (Natrium Klorida/NaCl) pada ketinggian 6.000 hingga 10.000 kaki untuk menembus awan hujan potensial,” ujar Budi.
Menurutnya, penyemaian awan memicu hujan di sejumlah wilayah, termasuk Putussibau, Kabupaten Kubu Raya, dan Kota Pontianak pada 4 September 2026. Hujan tersebut membantu meningkatkan kelembapan tanah gambut, mendinginkan kawasan terdampak, serta mengurangi kabut asap dan potensi munculnya titik api baru.
OMC juga dilakukan di Kalimantan Tengah sejak 26 Agustus hingga 5 September 2026. Dalam periode tersebut, tercatat 10 sorti penerbangan dengan total 8.000 kilogram NaCl. Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang terpantau di sejumlah wilayah, antara lain Murung Raya, Barito Utara, Kotawaringin Barat, Kapuas, Lamandau, dan Barito Selatan.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto mengatakan perpanjangan operasi dilakukan dengan mempertimbangkan efektivitas hasil serta kebutuhan di lapangan. Menurutnya, akurasi data cuaca menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan penyemaian awan.
Baca Juga: OMC Kalbar-Kalteng Diperpanjang, BMKG Optimalkan Analisis Cuaca Real-Time
“Penyemaian awan dilakukan di area lahan gambut yang terdeteksi hotspot untuk mengurangi titik panas dan memperbaiki kualitas udara akibat pekatnya kabut asap,” ujar Seto.
Selain operasi udara, penanganan karhutla di Kalimantan Barat juga diperkuat melalui operasi darat. Salah satu metode yang digunakan adalah suntik gambut untuk memadamkan bara yang masih bertahan di bawah permukaan tanah.
Kepala BNPB Letjen Suharyanto mengatakan asap yang masih muncul di sejumlah lokasi dapat menjadi indikasi bahwa bara di dalam lapisan gambut belum sepenuhnya padam. Kondisi tersebut membuat pemadaman tidak cukup hanya dengan membasahi permukaan.
Baca Juga: Sudah Padam, Karhutla Singkawang Kembali Menyala, Brimob Temukan Titik Api di Lahan Tujuh Hektare
“Masalahnya kebakaran hutan dan lahan di Kalbar ini sudah liar. Sudah padam, tetapi yang jadi masalah adalah asap karena lahan gambut. Jadi harus betul-betul padam,” ujar Suharyanto saat memantau penanganan karhutla di Kalimantan Barat.
Ia menjelaskan, teknik suntik gambut dilakukan dengan memasukkan air langsung ke lapisan gambut menggunakan pipa dan pompa. Metode tersebut ditujukan untuk menjangkau bara yang bertahan di bawah permukaan.
“Salah satu tekniknya adalah suntik gambut. Pipa panjang ujungnya tajam, di ujung dikasih pompa agar air langsung masuk ke dalam,” katanya.
Suharyanto juga meninjau operasi darat di Desa Rasau Jaya Tiga, Kabupaten Kubu Raya. Di lokasi tersebut, kebakaran disebut telah berlangsung selama enam hari dengan luas sekitar tujuh hektare. Sekitar enam hektare di antaranya telah berhasil ditangani.
Penanganan karhutla dilakukan melalui kombinasi operasi darat dan udara dengan melibatkan TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, BPBD, Dinas Kehutanan, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), serta unsur terkait lainnya.
Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengatakan pemerintah daerah terus memperkuat operasi di wilayah rawan karhutla. Dukungan bagi petugas dan relawan dilakukan melalui penyediaan makanan, minuman, air bersih, vitamin, masker, hingga peralatan pemadaman.
Pemerintah juga memperkuat pencegahan melalui sosialisasi larangan pembukaan lahan dengan cara membakar hingga tingkat desa dan RT/RW. Posko kesehatan serta pembagian masker turut dilakukan di wilayah yang terdampak kabut asap.
Sementara itu, BMKG, KLH/BPLH, BNPB, TNI Angkatan Udara, Kementerian Kehutanan, dan pemerintah daerah terus mengintegrasikan pemantauan cuaca dengan operasi di lapangan. Pergerakan awan, arah angin, dan kelembapan udara dipantau secara real-time untuk memastikan penyemaian dilakukan pada lokasi yang berpotensi menghasilkan hujan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menggeser penanganan karhutla dari sekadar pemadaman setelah api membesar menuju pencegahan dan pengendalian lebih dini.(mrd/mse)
Editor : Hanif