PONTIANAK POST - Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan diare mulai menunjukkan peningkatan kunjungan di Rumah Sakit Pontianak Utara selama periode 1 Agustus hingga 9 September 2026. Kondisi tersebut menjadi perhatian di tengah kabut asap akibat karhutla, kemarau berkepanjangan dan persoalan ketersediaan air bersih.
Direktur Rumah Sakit Pontianak Utara, Nuzulisa Zulkifli, mengatakan grafik kunjungan pasien menunjukkan dua diagnosis tersebut mengalami peningkatan, dengan kenaikan lebih terlihat pada pasien ISPA.
“Dari grafik kunjungan terdapat dua penyakit yang mengalami peningkatan, yaitu ISPA dan diare. Salah satu pemicunya adalah kabut asap dan juga kendala air bersih,” ujarnya, Rabu (9/9).
Baca Juga: Waspada ISPA Akibat Kabut Asap Karhutla, Apoteker Ingatkan Warga Tak Sembarangan Minum Obat
Data rumah sakit mencatat terdapat 50 kunjungan pasien dengan diagnosis ISPA selama 40 hari pemantauan. Kunjungan tersebut terjadi pada 27 hari, sedangkan 13 hari lainnya tidak terdapat pasien dengan diagnosis ISPA.
Jumlah kunjungan harian masih berfluktuasi. Sebagian besar berada pada kisaran satu hingga tiga pasien per hari. Namun, pada 8 September tercatat lonjakan hingga enam kunjungan sebelum kembali menjadi dua kunjungan pada 9 September.
Untuk diare, rumah sakit mencatat 113 kunjungan selama periode yang sama atau rata-rata sekitar dua hingga tiga kunjungan per hari. Kunjungan tertinggi mencapai tujuh pasien dalam sehari, masing-masing pada 2 dan 7 September.
Peningkatan kunjungan diare pada awal September menjadi perhatian karena berlangsung bersamaan dengan kemarau berkepanjangan dan tantangan pemenuhan kebutuhan air bersih.
Baca Juga: Kasus ISPA di Sambas Tembus 14.795, Naik 50 Persen dalam Sepekan akibat Kabut Asap
Meski demikian, Nuzulisa menegaskan data kunjungan rumah sakit belum dapat membuktikan bahwa peningkatan diare secara langsung disebabkan keterbatasan air bersih. Penyakit tersebut dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai infeksi virus dan bakteri, makanan atau minuman terkontaminasi, hingga kebersihan, sanitasi dan perilaku.
Di tengah kondisi udara yang memburuk, gangguan kesehatan juga mulai dirasakan pada mata. Apoteker Rumah Sakit Sultan Syarif Mohammad Alkadrie, Juliyastin Randa Pagiling, mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan menggunakan obat mata ketika mengalami keluhan akibat paparan asap.
“Ketika mata terpapar asap, masyarakat perlu memperhatikan kebersihan dan kenyamanan mata. Jangan langsung menganggap keluhan tersebut sebagai hal biasa, terutama apabila gejalanya menetap atau semakin berat,” ujarnya saat memberikan edukasi kepada pasien dan pengunjung RSUD SSMA Kota Pontianak, Rabu (9/9).
Baca Juga: Kabut Asap Karhutla di Mempawah, PEJUANG Bagikan 5.000 Masker dan Vitamin C kepada Warga
Paparan asap dan partikulat dapat menyebabkan mata merah, perih, terasa terbakar, gatal, berair hingga muncul sensasi seperti terdapat benda asing. Masyarakat juga diminta tidak mengucek mata ketika mengalami iritasi karena dapat memperburuk kondisi.
Juliyastin menyarankan masyarakat membersihkan wajah dan area sekitar mata setelah beraktivitas di luar ruangan serta mencuci tangan sebelum menyentuh mata. Aktivitas di luar ruangan juga sebaiknya dibatasi ketika kualitas udara memburuk.
“Apabila mata mengalami keluhan yang tidak kunjung membaik, gangguan penglihatan, nyeri yang berat, atau gejala lain yang mengkhawatirkan, masyarakat disarankan untuk mendapatkan pemeriksaan tenaga kesehatan,” katanya.
Dampak kabut asap juga terlihat dari meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap produk kesehatan. Owner Apotek Agung sekaligus Ketua Gabungan Perusahaan Farmasi (GP Farmasi) Kalimantan Barat, Sukamto, mengatakan permintaan masker medis melonjak hingga 10 kali lipat dibandingkan kondisi normal.
Baca Juga: Ketika Kalimantan Barat Kembali Tercekik Asap
“Persediaan di apotek juga sering kehabisan karena kami dominan mendistribusikan masker produk dari luar Kalbar,” ujarnya, Selasa (8/9).
Masker medis tiga lapis menjadi salah satu produk yang paling banyak dicari karena harganya relatif terjangkau. Meski permintaan meningkat, Sukamto mengatakan harga masker belum mengalami kenaikan karena distributor tidak menaikkan harga.
Selain masker, permintaan nebulizer, tabung oksigen, obat asma dan vitamin C juga meningkat. Permintaan sejumlah produk tersebut disebut naik hampir 30 persen seiring meningkatnya keluhan terkait gangguan pernapasan.
“Untuk obat-obatan asma juga cukup meningkat permintaannya dan vitamin-vitamin, terutama vitamin C, juga meningkat hampir 30 persen,” katanya.
Sukamto mengatakan pihaknya bersama Gakeslab Kalbar juga menyiapkan aksi sosial dengan membagikan sekitar 2.000 paket masker dan vitamin C kepada masyarakat. Kegiatan tersebut sekaligus disertai edukasi mengenai perlindungan kesehatan di tengah kondisi udara yang kurang baik.
Sementara itu, Ahli Epidemiologi Poltekkes Pontianak, Malik Saepudin, mengingatkan bahwa ancaman kesehatan dari kabut asap bukan sekadar bau atau rasa tidak nyaman. Partikel halus, terutama PM2,5, dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
“WHO menempatkan partikulat sebagai ancaman utama kesehatan masyarakat dari asap kebakaran,” katanya.
Menurut Malik, paparan asap dapat menimbulkan keluhan mulai dari mata perih, iritasi hidung dan tenggorokan, batuk serta sakit kepala. Pada paparan lebih berat, masyarakat dapat mengalami mengi, sesak napas, nyeri dada hingga serangan asma.
Pandangan tersebut sejalan dengan keterangan WHO yang menyebut asap kebakaran mengandung berbagai polutan, dengan partikulat halus menjadi salah satu ancaman kesehatan utama. Paparan asap dapat memicu iritasi mata dan saluran pernapasan serta memperburuk kondisi seperti asma.
Malik meminta masyarakat mengurangi paparan asap dengan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, memantau informasi kualitas udara dan menggunakan masker dengan pemasangan yang benar.
“Masker harus terpasang dengan baik agar filtrasi efektif,” katanya.(iza/mrd/sti)
Editor : Hanif