Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kebanyakan Tidur saat Puasa Ramadan Bisa Tingkatkan Risiko Kematian! Begini Penjelasan Dokter

Khoiril Arif Ya'qob • Sabtu, 28 Februari 2026 | 16:30 WIB

Ilustrasi tidur seharian selama puasa Ramadan.
Ilustrasi tidur seharian selama puasa Ramadan.

PONTIANAK POST - Perubahan pola tidur saat puasa Ramadan sering kali tak terhindarkan. Bangun lebih awal untuk sahur, tidur lebih larut setelah tarawih, hingga balas dendam tidur di akhir pekan menjadi kebiasaan yang umum terjadi.

Namun, sebuah temuan ilmiah terbaru justru mengingatkan agar kita tidak menyepelekan durasi tidur selama bulan puasa.

Hal ini diangkat oleh Adam Prabata melalui unggahannya di platform X. Ia mengaku mulai khawatir setelah membaca jurnal ilmiah terkait durasi tidur dan risiko kesehatan.

“Jadi di beberapa hari bulan Ramadhan ini gue ngerasa durasi tidur gue cukup berantakan. Pas weekday itu gue tidurnya kurang, eh giliran weekend tidurnya malah lebih banyak dari biasanya,” tulisnya.

“Karena pengalaman tersebut, akhirnya gue iseng mencari jurnalnya dan ternyata hasilnya cukup membuat gue takut untuk meneruskan kebiasaan tidur yang seperti sekarang,” imbuhnya.

Studi Ilmiah: Pola Durasi Tidur dan Risiko Kematian

Penelitian yang dimaksud merupakan meta-analisis terhadap 35 studi kohort prospektif yang dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports.

Studi tersebut menganalisis hubungan antara total durasi tidur dalam 24 jam dengan risiko kematian dari berbagai sebab (all-cause mortality).

Hasilnya menunjukkan pola yang menarik sekaligus mengkhawatirkan.

Tidur kurang dari 5 jam per hari berkaitan dengan peningkatan risiko kematian sebesar 7% (terutama pada durasi 4 jam). Kondisi ini sering dikaitkan dengan gangguan metabolik dan ketidakseimbangan sistem saraf otonom.

Tidur lebih dari 10 jam per hari justru menunjukkan peningkatan risiko yang jauh lebih tinggi, yakni hingga 53%. Risiko ini bahkan meningkat lagi pada durasi di atas 11 jam per hari.

“Mekanisme yang mendasarinya mencakup gangguan irama sirkadian, inflamasi, faktor usia, hingga adanya penyakit tertentu. Jadi jangan jadikan bulan Ramadan ini sebagai alasan untuk tidur terus seharian ya,” tutupnya. (*)

Editor : Miftahul Khair
#jurnal #puasa #dokter #Ramadan 2026 #kebanyakan tidur