Dukungan moral terus mengalir kepada Ketua BEM Universitas Indonesia Melki Sedek Huang dan keluarga pasca-intimidasi yang menimpanya. Satu di antaranya datang dari Forum Aktivis Lintas Generasi Kalimantan Barat.
--
“SETENGAH jam lalu, kami berkunjung ke rumah Melki untuk memberikan dukungan moral kepadanya dan keluarga terkait dugaan intimidasi yang dilakukan oleh oknum aparat kepada keluarga Melki,” ujar Juru bicara Forum Komunikasi Aktivis Lintas Generasi Kalbar Ireng Maulana dalam dialog bersama sejumlah jurnalis, Minggu (12/11) sore.
Menurut Ireng, praktik intimidasi semacam itu mestinya tidak perlu dilakukan. Kekritisan Melki adalah sikap warga negara yang ingin negara ini menjadi lebih baik.
Kalaupun sikap kritis tersebut dinilai mengganggu dinamika kekuasaan yang ada saat ini, jangan sampai dibawa ke ranah keluarga.
Karena keluarga bukan domain dari aktivitas yang dilakukan oleh Melki.
“Saya rasa praktik semacam ini tidak perlu dilakukan. Intinya kami menyampaikan keprihatinan dan menolak praktik intimidasi. Apa yang dilakukan Melki adalah hal yang wajar dilakukan oleh warga negara,” kata Ireng.
Hal senada juga diungkapkan mantan aktivis 98, M Hermayani Putera dan Hermawansyah.
Menurut Wawan, sapaan akrab Hermawansyah, intimidasi yang dialami oleh Melki Sedek Huang merupakan tindakan yang bernuansa masa lalu yang mengingatkannya pada Orde Baru.
Wawan mengatakan, dengan adanya tindakan intimidasi ini, dirinya merasa seolah kembali diajak ke masa mudanya sebagai aktivis tahun 1998. Ketika intimidasi dilakukan, menurutnya itu mencerminkan bahwa demokrasi sudah tidak sehat.
“Kami merasa diajak kembali ke masa lalu dengan adanya tindakan intimidasi ini. Melki yang menyampaikan pandangan kritisnya terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara justru kemudian mendapatkan tindakan tersebut. Saya rasa demokrasi kita sudah tidak sehat,” ucapnya.
Sementara, Hermayani mengatakan hal seperti ini tidak perlu terulang kembali karena hanya akan menimbulkan ketakutan kepada mahasiswa atau pemuda sebagai penerus bangsa untuk mengkritik sesuatu hal.
“Karena hal ini sudah terjadi maka kami akan memberikan dukungan moral kepada Melki agar anak muda tidak takut untuk mengkritisi sebagai warga negara Indonesia dalam berdemokrasi," tutupnya.
Sebelumnya, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia, Melki Sedek Huang mengaku telah mendapatkan intimidasi oleh oknum aparat berseragam TNI, setelah menyampaikan kritik atas putusan Mahkamah Konstitusi tentang syarat minimal usia capres-cawapres.
Melki menyebut, keluarganya didatangi oleh sejumlah pihak yang mengaku sebagai aparat keamanan beberapa minggu lalu.
Kapendam XII Tanjungpura, Kolonel Inf Ade Rizal Muharram mengatakan, informasi dugaan intimidasi itu belum jelas kebenarannya.
“Sampai saat ini Info tersebut belum jelas kebenarannya apalagi sampai mengintimidasi. Sampai saat ini pihak kita belum dapat informasi,” katanya.
Ade Rizal mengatakan, Kodam XII Tanjungpura sudah melakukan pengecekan terhadap anggotanya.
Sampai saat ini ia memastikan tak ada oknum anggotanya yang terlibat. “Sudah kita cek, sementara gak ada (anggota terlibat, red),” terangnya.
Ia memastikan, jika ada anggota Kodam XII Tanjungpura yang terlibat melakukan intimidasi maka pasti akan disanksi.
“Ya, dilihat dulu sejauh mana tindak tanduknya. Tapi kalau sudah sampai intimidasi ya, pasti kena sanksi,” pungkasnya. (arf)