PONTIANAK POST - Operasi SAR kecelakaan laut Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya resmi dihentikan pada Senin sore (21/7), dengan temuan 30 selamat, 19 meninggal dunia, dan 16 korban dinyatakan menghilang.
Tragedi nahas ini masih meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban yang belum ditemukan. Termasuk bagi keluarga pasangan suami istri Bintang Nur Hidayat (28) dan Nindy Elly Rosita Zulpri (22).
Pasutri asal Dusun Krajan, Desa Lemahbangkulon, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi ini menjadi korban KMP Tunu Pratama Jaya. Keberadaan keduanya masih menjadi misteri.
Salah satu keluarga Bintang, Ema Novitasari mengungkapkan bahwa Bintang sehari-hari bekerja sebagai sopir truk logistik sembako di Bali. Sementara istrinya, Elly diketahui sedang mengandung 5 bulan.
“Sejak lulus SMA, dia sudah sering kirim barang ke Bali. Sampai akhirnya dia dipercaya bosnya untuk membawa truk sendiri kirim sembako ke Bali,” ujar Ema, dikutip dari Radar Banyuwangi, Jawa Pos Group, Rabu (23/7).
Saat kejadian, Bintang tidak mengirim logistik seorang diri, melainkan ditemani oleh sang istri. Bagi Elly, ini adalah momen bahagia bisa menemani suami bekerja sekaligus berlibur di Bali sebelum sang buah hati lahir.
“Elly sendiri yang minta ikut malam itu. Katanya mungkin ini hormon ibu hamil yang lagi gamau jauh-jauh sama pasangan. Saya maklumi saja karena mereka masih pengantin baru,” imbuhnya dengan suara lirih.
Cita-cita Bintang pun tak muluk, ia hanya ingin membahagiakan istrinya yang sedang hamil 5 bulan. Namun takdir berkata lain, belum sampai menginjakkan kaki di Pulau Dewata, kapal yang dinaiki tenggelam di Selat Bali, Kamis (3/7) lalu.
Ema menceritakan keluarga pertama kali mendapat kabar duka dari seorang sahabat Bintang. Ia menggedor kaca jendela rumah Ema sekitar pukul 03.00 WIB. "Katanya Bintang tenggelam, saya langsung panik," ucap Ema.
Ema yang sudah menjadi seperti ibu bagi Bintang dan Elly, mengaku tak kuasa menahan air mata saat mendengar kabar buruk tersebut. Tak tunggu waktu lama, Ema dan suami pun bergegas ke Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.
Hari pertama mereka datang dengan pakaian seadanya dan wajah yang dipenuhi kebingungan. Tak satu pun terdengar kabar kedua keponakannya selamat. Namun Ema tetap berharap muncul keajaiban.
"Kalau boleh memilih, kami ingin mereka pulang. Tak harus lengkap, asalkan bisa dimakamkan dengan layak agar kami bisa mengikhlaskan dengan tenang," tukas Ema dengan mata berkaca-kaca menahan tangis. (/jpc)
Editor : Miftahul Khair