Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Belasan Siswa SMAN 2 Lamongan Muntah Usai Santap MBG, Sekolah di Surabaya Adukan Menu Sayur Basi

Hanif PP • Jumat, 19 September 2025 | 10:28 WIB

 

MBG: pemerintah terpaksa menggunakan dana penghematan sebesar Rp24 triliun untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
MBG: pemerintah terpaksa menggunakan dana penghematan sebesar Rp24 triliun untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).

PONTIANAK POST – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memantik masalah. Di Lamongan, Jawa Timur, sejumlah siswa diduga keracunan setelah menyantap paket MBG. Lalu, di Surabaya, makanan yang diberikan kepada siswa ternyata sudah basi.

Insiden keracunan terjadi di SMA Negeri 2 (Smada) Lamongan, Rabu (17/9). Hingga kemarin, beberapa siswa masih dirawat di rumah sakit dan puskesmas. Pantauan Radar Lamongan Grup Jawa Pos, ada enam siswa yang dirawat di Rumah Sakit Islam Nashrul Ummah (RSI NU). Lalu, satu pelajar dirawat di RS Permata Hati, dua pelajar di RS Sartika, dan satu lainnya dibawa ke Puskesmas Deket.

Kepala Humas dan Pemasaran RSI NU Lamongan Irmayanti menjelaskan, ada 18 pasien yang mengalami mual, muntah, dan pusing. Dari jumlah tersebut, 12 pasien sudah diperbolehkan pulang. ’’Sebanyak enam pasien lain sampai saat ini masih menjalani perawatan di sini,’’ paparnya. Menurut dia, kondisi enam pasien tersebut berangsur membaik.

Kasi Humas Polres Lamongan Ipda M. Hamzaid memaparkan, polisi sedang menelusuri kasus tersebut bersama dengan Dinas Kesehatan Lamongan. Mereka sudah mengambil sampel makanan untuk dilakukan uji lab.

Pada bagian lain, Kepala Smada Lamongan Sofyan Hadi menuturkan, pendistribusian MBG di sekolahnya dihentikan sementara sampai hasil uji lab keluar. Meski demikian, dia membantah jika menu MBG disebut sudah basi. Buktinya, banyak siswa yang memakan sampai habis dan baik-baik saja. ’’Minggu depan sudah normal lagi distribusinya (MBG) setelah sampel keluar,” ujar Sofyan.

 

Telusuri Asal Bahan Makanan

MBG yang disantap siswa SMAN 2 (SMADA) Lamongan didistribusikan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jetis, Lamongan. Pengelola Dapur SPPG Jetis Frangky Irawan mengungkapkan, pihaknya telah menelusuri dari mana bahan makanan yang diduga meracuni belasan siswa SMAN 2 Lamongan. Dia juga telah bersurat ke pemerintah pusat untuk menghentikan sementara distribusi MBG. Sampel makanan juga telah dikirim.

Dia juga membantah jika makanan yang disajikan SPPG Jetis mengandung racun. Alasannya, hanya ada 12 siswa yang diduga keracunan. Padahal, penerima MBG sebanyak 1.200 orang. Dia mengatakan, proses memasak dan penyajian sudah dilakukan sesuai dengan prosedur.

Kepala SPPG Lamongan Agustina Nurul Hardian mengatakan, penyebab kasus yang terjadi di Smada belum bisa disimpulkan sebelum hasil laboratorium keluar. 

‘’Karena hasil laboratorium belum keluar, kepala SPPG diminta tidak berstatemen dulu,” ujarnya. Dia menegaskan, dari 3.560 porsi makanan yang disediakan, indikasi keracunan hanya terjadi pada belasan siswa. Karena itu, dia berharap semua pihak menunggu hasil uji lab keluar.

Sementara itu, di Surabaya, kasus menu MBG basi terjadi dua kali dalam sepekan terakhir. Yakni di SMAN 15 dan SMAN 12. Kepala SMAN 15 Surabaya Johanes Mardijono menjelaskan, menu MBG ditemukan bau pada hari kesembilan pelaksanaan kemarin (18/9). Setelah istirahat kedua, menu dibagikan kepada ribuan anak. Saat hendak disantap, ditemukan bau tidak sedap pada sayuran. "Siswa lalu komplain ke wali kelas. Sayuran yang bau ditemukan tidak di semua anak. Sekitar 30 persen dari jumlah 1.286 siswa," paparnya.

Merespons temuan itu, Johanes mengatakan, wali kelas meminta siswa langsung mengembalikan tempat makan dan tidak menyantap menu tersebut. "Baru kali ini (kemarin, Red) ada temuan seperti itu (sayur bau, Red). Hari pertama hingga delapan lancar," tuturnya.

 Pihaknya lalu melaporkan temuan tersebut ke penyedia yang berada di wilayah Gayungan. Mengantisipasi kejadian serupa, sebelum menu dibagikan akan dicek oleh guru kelas. "Pembagian kan saat istirahat kedua. Nanti akan kami cek dulu," jelasnya. Kasus serupa terjadi di SMAN 12 Surabaya. Jumat pekan lalu (12/9) ditemukan menu nasi goreng yang dimasak kurang matang dan bau. Setelah ada temuan tersebut, wali kelas meminta siswa mengembalikan dan tidak mengkonsumsi. "Sudah kami laporkan ke penyedia. Setelah itu (Jumat pekan lalu, Red) alhamdulillah lancar, tidak ada temuan," tutur Kepala SMA 12 Surabaya Mugono kepada dihubungi Jawa Pos kemarin.

Untuk mengantisipasi kejadian serupa, sebelum makanan dibagikan, pihaknya selalu mengecek langsung bersama wali kelas. "Kami memastikan dulu kondisi menu yang akan disantap anak anak," tambahnya. (ata/mal/rka/ind/oni)

Editor : Hanif
#Mbg #sekolah #lamongan #SURABAYA #Sayur Basi #siswa