Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Lima Jenazah Korban Ambruknya Musala Ponpes Al-Khoziny Ditemukan, 59 Santri Masih Hilang

Hanif PP • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 09:35 WIB
EVAKUASI KORBAN: Petugas melakukan evakuasi jenazah korban ambruknya bangunan musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Sidoarjo, Jumat (3/10). Hingga pukul 15.00 kemarin, lima jenazah berhasil die
EVAKUASI KORBAN: Petugas melakukan evakuasi jenazah korban ambruknya bangunan musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Sidoarjo, Jumat (3/10). Hingga pukul 15.00 kemarin, lima jenazah berhasil die

PONTIANAK POST – Pukul 16.29 kemarin (3/10), saat proses pencarian korban ambruknya bangunan musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Sidoarjo, masih berlangsung, sejumlah keluarga santri mencoba menerobos masuk ke area evakuasi. Mereka protes karena menganggap proses evakuasi yang dilakukan tim gabungan lamban.

"Adik saya sampai hari ini (kemarin) belum ketemu. Ini lebih cepat kalau kami semua turun membantu evakuasi," ujar Putra, salah seorang kakak santri yang jadi korban.

Menurut Putra, dia sama sekali tidak punya kepentingan apa pun selain kemanusiaan. "Keluarga santri semua siap membantu," tambahnya.

Aksi dorong antara keluarga korban dengan aparat pengamanan pun terjadi di pos perbatasan sisi timur ponpes. Namun, ketegangan akhirnya bisa diredam. Sebagian keluarga santri kembali ke posko informasi di kompleks ponpes tempat mereka menginap selama ini.

Hingga pukul 15.00, lima jenazah berhasil dievakuasi. Kelimanya dibawa ke RS Bhayangkara Surabaya yang dijadikan pusat rujukan evakuasi.

Kepala Kantor SAR Surabaya Nanang Sigit menjelaskan, tiga jenazah pertama ditemukan di sektor A2. Jenazah keempat di A4 dan yang kelima di A3. Total ada empat sektor pencarian.

Jenazah pertama berhasil dievakuasi pukul 07.30, disusul jenazah kedua enam menit berselang. "Lokasinya bersebelahan di tempat wudu," ujarnya.

Nanang menambahkan, jenazah ketiga dievakuasi pukul 10.19. Letaknya beberapa meter di sebelah timur dari titik sebelumnya. "Di lantai satu juga," katanya.

Jenazah keempat, lanjutnya, dievakuasi pukul 11.34. Sedangkan korban kelima dievakuasi pukul 14.00.

Hingga Kamis (2/10) malam, jumlah santri yang dilaporkan hilang sebanyak 59 orang. "Kalau memang masih di dalam (reruntuhan), dugaannya meninggal. Tapi, kalau ada keajaiban, itu hal lain lagi," kata Nanang.

Lebih lanjut dia menuturkan, pencarian dilakukan dengan dua upaya, yakni dengan dan tanpa alat berat. "Metode secara manual diterapkan ke titik yang dapat dijangkau," bebernya.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menambahkan, proses evakuasi dilakukan dengan sangat hati-hati. Sebab, struktur bangunan kondisinya tidak stabil. "Tim gabungan bekerja selama 24 jam," ujarnya.

Suharyanto juga menjelaskan, tim sudah berusaha maksimal. Evakuasi dengan alat berat baru membuahkan hasil kemarin karena sebelumnya petugas harus memindahkan puing bagian atas. Di sisi lain, para korban berada di lantai bawah.

Menurut dia, asesmen reruntuhan tidak hanya berdasarkan pengamatan kasat mata, tetapi juga melibatkan ahli teknis agar evakuasi berjalan aman. Keselamatan tim evakuasi disebut juga perlu mendapat prioritas.

Menko Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, sempat meninjau lokasi pada Kamis (2/10) sore. Dia menekankan pentingnya standar pembangunan di lingkungan pesantren agar tragedi di Al-Khoziny tidak terulang di kemudian hari.

"Pesantren yang membangun hendaknya menggunakan standar ilmu teknik. Kepada yang belum ada ahlinya, tolong dihentikan dulu," paparnya.

Berjaga 24 Jam

Sementara itu, para orang tua santri terpantau cemas menanti proses evakuasi. Salah satunya Imron yang sejak pagi bolak-balik mengecek layar yang menyiarkan live evakuasi di posko informasi.

"Semalam (2/10) sempat berhenti live-nya, beberapa keluarga santri marah kok berhenti, padahal anak-anak kami masih ada di dalam," kata ayah dari M. Haikal Ridwan itu menirukan sejumlah keluarga santri.

Warga Bangkalan tersebut masih berjaga 24 jam jika sewaktu-waktu anaknya diangkut ambulans. Putranya tersebut masih duduk di bangku kelas V MI Ponpes Al-Khoziny.

"Kami hanya bisa menunggu dan berdoa di sini, semoga bisa ditemukan secepatnya," katanya.

Di sisi lain, Sholehudin, orang tua Achmad Suwaifi, mengaku sudah lebih tenang selepas adanya pergerakan dari alat berat. "Kami sudah ikhlas, kami hanya ingin cepat bertemu dengan anak kami, apa pun kondisinya," paparnya. (edi/eza/ttg)

Editor : Hanif
#hilang #evakuasi #korban #santri #musala #jenazah #pondok pesantren #Al Khoziny