Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Polisi Kumpulkan Sidik Jari dan DNA untuk Identifikasi Korban Ponpes Al-Khoziny

Hanif PP • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 09:38 WIB

 

PENCARIAN KORBAN: Petugas gabungan Basarnas, damkar, BPPD, TNI, dan Polri berusaha menyisir reruntuhan bangunan Ponpes Al-Khoziny di Kecamatan Buduran, Sidoarjo, yang ambruk, kemarin.
PENCARIAN KORBAN: Petugas gabungan Basarnas, damkar, BPPD, TNI, dan Polri berusaha menyisir reruntuhan bangunan Ponpes Al-Khoziny di Kecamatan Buduran, Sidoarjo, yang ambruk, kemarin.

PONTIANAK POST - Sebanyak lima jenazah santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Sidoarjo, hingga kemarin (3/10) siang pukul 14.30 telah tiba di kamar mayat RS Bhayangkara Surabaya Samsoeri Mertojoso. Kabiddokkes Polda Jawa Timur Kombespol dr. M. Khusnan Marzuki menyampaikan bahwa semua jenazah akan diambil data post mortem untuk diidentifikasi.

Proses identifikasi selama post mortem nantinya akan dicocokkan dengan data ante mortem yang dikumpulkan dari pihak keluarga korban. “Sejauh ini, pihak kepolisian telah mengumpulkan 63 sampel DNA dari keluarga para santri Ponpes Al-Khoziny. Dari jumlah tersebut, sebanyak lima santri sudah ditemukan, jadi tinggal 58,” katanya.

Dua jenazah pertama tiba bersamaan pada sekitar pukul 08.30 pagi. Tiga jenazah lainnya menyusul pada pukul 10.40, 12.00, dan 14.30.

Data-data yang dikumpulkan oleh kepolisian untuk pencocokan dengan identitas korban diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, yaitu data primer, data sekunder, dan data DNA. Data primer yang dikumpulkan oleh pihak kepolisian meliputi sidik jari dan profil gigi dari korban.

“Jadi, kalau sidik jari sudah match, itu berarti sudah fix bahwa itu keluarganya,” imbuh Khusnan.

Masih di Bawah Umur

Sampel sidik jari sementara ini banyak didapatkan dari ijazah sekolah. Sebab, mayoritas korban santri berasal dari kalangan pelajar yang masih di bawah umur, sehingga data sidik jari dari perekaman e-KTP masih belum terdata.

Selain data primer, pihak forensik kepolisian juga telah mengumpulkan data sekunder, berupa tanda lahir korban, pakaian yang dikenakan para santri, dan foto semasa hidup.

Apabila kedua data tersebut tidak tersedia, langkah terakhir yang ditempuh tim forensik adalah menggunakan tes DNA. “Kalau memang betul-betul tidak ada semua, baru itu tes DNA, dan DNA itu butuh waktu agak lama,” terang Khusnan.

RS Bhayangkara turut menyediakan cold storage (tempat penyimpanan) untuk menampung jenazah para santri yang telah dilakukan pengambilan data ante mortem. Terlebih, kondisi jenazah yang dibawa ke kamar mayat telah terjebak selama lebih dari tiga hari, sehingga kondisi pembusukan jenazah perlu dilakukan pendinginan agar tidak semakin parah.

“Kita siapkan kontainer freezer yang muatnya bisa sampai 100. Suhunya bisa disesuaikan, bisa di bawah nol,” katanya. (leh/ttg)

Editor : Hanif
#sidik jari #polisi #jenazah #keluarga korban #Ponpes Al Khoziny #sampel dna