PONTIANAK POST – Setelah terjaring OTT KPK di Riau, Gubernur Riau Abdul Wahid dibawa ke Gedung Merah Putih komisi antirasuah di Jakarta, kemarin (4/11). Ia tiba pukul 09.35 WIB untuk menjalani pemeriksaan lanjutan. Politisi PKB itu bungkam saat ditanya awak media.
Abdul Wahid langsung naik ke lantai dua untuk menjalani pemeriksaan. Hingga kini, KPK belum menjelaskan secara detail terkait status hukum Abdul Wahid yang ikut terjaring OTT KPK.
Selain Abdul Wahid, ada dua kader PKB lain yang juga dibawa ke KPK terkait operasi tangkap tangan (OTT) ini. Mereka yakni Tata Maulana dan Dani M. Nursalam. Keduanya menjadi orang yang terakhir tiba di Gedung Merah Putih KPK.
Pewarta di lapangan, Selasa (4/11), melaporkan Tata Maulana tiba pada pukul 18.56 WIB dengan mengenakan kaos berwarna merah bata dan rompi berwarna hijau tentara.
Sementara itu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkapkan Dani M. Nursalam tiba di Gedung Merah Putih KPK sebelum Tata Maulana. “Dengan demikian, total yang sedang dilakukan pemeriksaan oleh penyidik saat ini berjumlah 10 orang,” ujar Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo kepada para jurnalis di Jakarta. Budi mengungkapkan, Tata Maulana merupakan orang kepercayaan Gubernur Riau, sedangkan Dani M. Nursalam merupakan Tenaga Ahli Gubernur Riau.
Hingga Selasa (4/11) malam, KPK masih melakukan gelar perkara atau ekspose untuk menentukan status Gubernur Riau Abdul Wahid pasca-OTT. “Masih berlangsung ekspose,” ujar Budi Prasetyo. Oleh sebab itu, KPK meminta masyarakat bersabar terkait pengumuman status pihak-pihak yang ditangkap, termasuk Abdul Wahid.
Sebelumnya, Wakil Ketua KPK Fitroh Rohcahyanto mengonfirmasi kabar OTT yang turut menangkap Gubernur Riau. “Ya,” ujar Fitroh saat dikonfirmasi, Senin (3/11). Ketua KPK Setyo Budiyanto juga mengonfirmasi penangkapan Gubernur Riau Abdul Wahid dalam OTT. “Benar, sementara masih berproses,” ujar Setyo saat dihubungi, Senin (3/11).
Dalam OTT ini, KPK menyita uang lebih dari Rp1 miliar. “Jika dirupiahkan, maka lebih dari Rp1 miliar,” ujar Juru Bicara KPK Budi Prasetyo kepada para jurnalis, Selasa (4/11). Budi menjelaskan bahwa uang yang disita tersebut terdiri atas mata uang rupiah, dolar Amerika Serikat (AS), hingga poundsterling.(jp/ant)
Editor : Hanif