PONTIANAK POST – Ibunda dari Nadiem makarim Atika Algadrie memberikan pernyataan terkait kasus yang tengah menimpa Nadiem Makarim, anaknya.
Pada wawancara eksklusif di kanal youtube Hukum Perubahan, Atika menyebut dirinya selalu menanamkan nilai kejujuran dalam mendidik anak-anaknya.
“Saya sebagai ibunya, saya tahu apa yang saya lakukan dan keluarga lakukan dalam mendidik anak-anak kami. Anak-anak kami dididik dalam keluarga besar itu menanamkan nilai-nilai kejujuran, kebenaran, tidak boleh korupsi atau mengambil harta orang lain atau harta negara tau apapun, itu adalah nilai-nilai yang sudah tertanam dalam pendidikan keluarga kami,” terang Atika.
Seperti diketahui, sidang perdana pembacaan dakwaan terhadap Nadiem Anwar Makarim digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Selasa (5/1).
Atika Algadrie juga mengungkapkan bahwa dirinya menunggu-nunggu sidang tersebut dengan harapan berjalan cepat dan lancar.
Ia berharap pada akhirnya semua akan terbuka dan kebenaran akan muncul pada persidangan tersebut.
Selanjutnya, ia berharap bahwa persidangan itu bisa adil. Hakim dan jaksa bisa menyatakan kebenaran. Sehingga penegakkan hukum bisa adil dan tercapai.
Keluarga Bersentuhan dengan Anti Korupsi
Lebih lanjut, ia mengatakan orang tuanya pada zaman Soekarno juga pernah bersentuhan dengan soal anti korupsi, memperjuangkan anti korupsi.
Atika juga menyebut suaminya Nono Makarim bagian dari komite etik KPK, sedangkan dirinya sendiri bersama teman-teman mendirikan oraganisasi Bung Hatta Anti Corruption Award.
Tidak Hanya Nilai Anti Korupsi Tapi Juga Mengabdi Pada Negeri. Ibu Nadiem juga mengatakan tidak hanya nilai kejujuran yang ditanamkan, tapi juga pengabdian pada negeri.
“Saya merasa membesarkan anak-anak kami, menyekolahkan di luar negeri ada satu nilai yang penting juga, bahwa kalau mereka kembali kenegaranya mereka harus menyumbang kembali kepada bangsanya. Karena mereka adalah anak-anak yang beruntung, anak-anak privilege mendapat pendidikan yang baik. Oleh karena itu dia tidak bisa kalau bekerja hanya untuk dirinya sendiri,” jelas ibu Nadiem.
Pada pemaparan lanjut, Atika mengatakan bahwa ayahnya selalu mengingatkan bahwa seorang manusia tidak akan utuh kalau tidak menjadi bagian dari suatu yang lebih dari dirinya sendiri.
“Oleh karena itu Nadiem meninggalkan pekerjaanya dia yang sebagai pendiri gojek, dan menerima tawaran dari presiden untuk menjadi Menteri Pendidikan, karena dia merasa bagaimana lagi bisa menyumbang kepada bangsa dan negara kalau tidak melalui pendidikan,” pungkas ibu Nadiem. (*)
Editor : Miftahul Khair