PONTIANAK POST - Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin melontarkan kritik tajam terhadap kondisi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Dalam perbincangan di kanal YouTube Akbar Faisal Uncensored (29/4), ia menyoroti konflik internal, sistem kepemimpinan, hingga arah organisasi yang dinilai mulai melenceng dari fokus utamanya.
Kritik pada Kepemimpinan PBNU
Cak Imin menilai persoalan utama di tubuh PBNU saat ini terletak pada ketidaksinkronan antara struktur organisasi dan kekuatan kultural NU di masyarakat.
Baca Juga: 4 Calon Ketua Umum PBNU Menguat Jelang Muktamar ke-35 NU 2026, Ada Cak Imin dalam Daftar
“Kesalahan terbesar kepemimpinan hari ini itu adalah kepemimpinan struktur ini tidak mampu mengikuti yang kultur ini. Jalan sendiri, struktur ke mana, kultur ke mana,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kondisi ini berdampak pada tertinggalnya berbagai sektor penting seperti pendidikan, ekonomi umat, hingga pengelolaan pesantren.
“Pesantren enggak diurus, dakwah enggak diurus, padahal NU ini mayoritas desil 1, 2, 3,” tegasnya.
Baca Juga: Cak Imin Pastikan Sekolah Rakyat Mulai Beroperasi 14 Juli
Konflik Internal Dinilai Terlalu Keras
Selain itu, Cak Imin juga menyoroti konflik internal yang terjadi di level pengurus PBNU.
“Konfliknya keras sesama PBNU, sampai hari ini banyak pengurus yang tidak jelas SK-nya,” katanya.
Ia menilai dinamika internal yang sarat kepentingan justru menghambat kerja organisasi.
“Berpolitiknya terlalu mikro, sudahlah urus umat, dakwah itu saja yang paling prioritas,” lanjutnya.
Sistem Voting Disebut Sumber Masalah
Salah satu kritik paling tajam disampaikan terkait sistem pemilihan kepengurusan yang menggunakan voting. “Voting itu kemadaratan bagi NU,” tegas Cak Imin.
Menurutnya, praktik tersebut mulai muncul sejak masuknya kepentingan politik ke dalam tubuh NU. “Sejak politisi masuk NU aja sebetulnya,” ujarnya.
Baca Juga: Gus Yahya Tegaskan Konflik PBNU Selesai, Struktur Pengurus Tidak Berubah
Ia mendorong agar NU kembali pada tradisi musyawarah dalam menentukan kepemimpinan.
“Transformasi NU yang paling mendesak, tidak ada satu pun level kepengurusan yang divoting,” katanya.
Tambang Jadi “Berkah yang Berubah Musibah”
Cak Imin juga menyinggung isu pengelolaan tambang yang dinilai bermasalah.
“Wilayah tambang ini menurut saya wilayah sumber masalah. Ada berkah kok jadi musibah,” ucapnya.
Baca Juga: Haul Gus Dur, Alissa Wahid Singgung Izin Tambang di Tengah Konflik PBNU
Ia kembali menekankan bahwa persoalan tersebut tidak lepas dari kualitas pengelolaan internal. “Yang salah siapa? Ya lagi-lagi pengurusnya,” imbuhnya.
Dukung NU Jauh dari Politik, Tapi...
Meski melontarkan kritik, Cak Imin tetap mengapresiasi langkah Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf yang mendorong NU menjauh dari politik praktis.
“Jempol besar untuk Gus Yahya yang mendorong NU tidak berpolitik itu terbaik,” katanya.
Namun ia mengingatkan agar langkah tersebut tidak justru memicu konflik di internal organisasi.
“Tapi secara internal jangan berpolitik internal konflik seperti itu,” tegasnya.
Seruan Kembali ke Khittah NU
Di akhir pernyataannya, Cak Imin menegaskan bahwa NU harus kembali fokus pada peran utamanya sebagai organisasi keagamaan.
Baca Juga: PBNU Pulihkan Kepemimpinan Gus Yahya, Ini Hasil Lengkap Rapat Pleno
“NU itu harus di atas semua partai, ngurusi dakwah, ekonomi umat, pendidikan,” ujarnya.
Ia berharap kepemimpinan ke depan mampu memperkuat fungsi tersebut, bukan justru terjebak dalam konflik dan kepentingan internal.
Editor : Miftahul Khair