Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Prabowo Umumkan Swasembada Pangan Tercapai Lebih Cepat, Produksi Beras Diklaim 34,69 Juta Ton di Bawah Mentan Amran Sulaiman

Aristono Edi Kiswantoro • Minggu, 17 Mei 2026 | 15:37 WIB
Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan Operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, sekaligus mengumumkan capaian swasembada pangan nasional yang tercapai lebih cepat dari target awal pemerintah.
Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan Operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, sekaligus mengumumkan capaian swasembada pangan nasional yang tercapai lebih cepat dari target awal pemerintah.

 

PONTIANAK POST — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyatakan Indonesia berhasil mencapai swasembada pangan hanya dalam waktu satu tahun, jauh lebih cepat dari target awal empat tahun.

Pernyataan itu disampaikan saat Peresmian Operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Jumat (16/5/2026). Keberhasilan ini disebut sebagai capaian penting ketahanan pangan nasional di tengah tekanan krisis pangan global.

Presiden menegaskan capaian tersebut tidak lepas dari kerja cepat jajaran Kementerian Pertanian di bawah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

Prabowo mengungkapkan pemerintah awalnya menargetkan swasembada pangan dalam empat tahun. Namun, target itu berhasil dicapai lebih cepat melalui percepatan produksi dan kebijakan pertanian yang terintegrasi.

“Saya beri tugas ke Menteri Pertanian dan semua timnya, saya minta swasembada pangan dalam empat tahun. Mereka bisa hasilkan dalam satu tahun,” kata Prabowo.

Ia menilai keberhasilan ini menunjukkan efektivitas kerja lintas sektor dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

Data Badan Pusat Statistik mencatat produksi beras Indonesia pada 2025 mencapai 34,69 juta ton, meningkat 13,29 persen dibanding tahun sebelumnya.

Kenaikan ini setara tambahan sekitar 4,07 juta ton dalam satu tahun, menjadi salah satu lonjakan produksi terbesar dalam satu dekade terakhir.

Produksi padi dalam bentuk gabah kering giling juga mencapai sekitar 60,21 juta ton dengan luas panen 11,32 juta hektare.

Dengan konsumsi nasional yang berada di kisaran 30–31 juta ton per tahun, Indonesia berada dalam kondisi surplus produksi beras.

Cadangan beras pemerintah pada 2026 tercatat mencapai 5,3 juta ton, memperkuat stok pangan nasional di tengah ketidakpastian global.

FAO sebelumnya mencatat bahwa gangguan iklim dan pembatasan ekspor di sejumlah negara produsen dapat memperketat pasokan pangan dunia.

Capaian swasembada pangan didorong oleh berbagai kebijakan strategis pemerintah, termasuk penambahan pupuk bersubsidi menjadi 8,55 juta ton serta penurunan harga hingga 20 persen.

Pemerintah juga menetapkan harga pembelian pemerintah gabah sebesar Rp6.500 per kilogram untuk menjaga pendapatan petani.

Kementerian Pertanian mencatat kebijakan ini turut meningkatkan Nilai Tukar Petani di atas 120 poin pada 2025.

Di bawah komando Mentan Amran, Kementerian Pertanian menjalankan program optimalisasi lahan, pompanisasi, penyediaan benih unggul, modernisasi alat dan mesin pertanian, serta perbaikan irigasi.

Langkah ini mempercepat siklus tanam dan meningkatkan produktivitas di berbagai sentra produksi padi nasional.

Presiden Prabowo menyebut sejumlah negara kini mulai meminta pasokan beras dari Indonesia di tengah krisis pangan global.

Hal ini menandai perubahan posisi Indonesia dari negara importir menjadi calon pemasok beras di tingkat regional.

Namun pemerintah menegaskan ekspor dilakukan secara selektif dengan prioritas utama memenuhi kebutuhan dalam negeri.

USDA dan FAO sebelumnya mencatat tekanan pada pasar beras global akibat pembatasan ekspor dan dampak perubahan iklim di negara produsen utama.

Presiden Prabowo menegaskan kebijakan pangan nasional harus berpihak kepada petani.

Harga gabah harus tetap menguntungkan agar petani tidak dirugikan oleh fluktuasi pasar.

“Yang utama kita amankan rakyat dulu. Jangan petani kita korban,” tegasnya.

Dengan capaian produksi yang melampaui kebutuhan nasional, pemerintah menilai Indonesia berada dalam fase penguatan ketahanan pangan.

Sinergi kebijakan pemerintah dan eksekusi teknis kementerian menjadi faktor utama percepatan capaian ini.

Meski demikian, sejumlah lembaga internasional menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan produksi agar swasembada tetap stabil dalam jangka panjang. (ars)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#swasembada pangan Prabowo #swasembada pangan Indonesia 2026 #produksi beras Indonesia 2025 #Mentan Amran Sulaiman swasembada pangan #ketahanan pangan nasional