PONTIANAK POST - Kalimantan Barat selama ini dikenal sebagai penghasil kratom terbesar di Indonesia.
Namun saat Kalbar masih bertumpu pada ekspor daun mentah, Kalimantan Timur justru mulai serius membangun industri hilirisasi kratom bernilai miliaran rupiah per hektare.
Kalbar Kuat di Produksi, Kaltim Bergerak ke Hilirisasi
Berdasarkan laporan Pontianak Post (16/5), Kalimantan Barat sudah lama menjadi pusat produksi kratom nasional, terutama di wilayah Kapuas Hulu dan sekitarnya.
Ribuan petani menggantungkan hidup dari komoditas yang selama ini diekspor dalam bentuk daun kering mentah.
Namun, kondisi berbeda mulai terlihat di Kalimantan Timur. Pemerintah Provinsi Kaltim kini mulai mendorong kratom atau kedemba sebagai komoditas ekspor unggulan berbasis industri dan hilirisasi.
Perbedaan Utama: Kalbar Jual Bahan Mentah, Kaltim Bidik Produk Ekstrak
Perbedaan paling mencolok ada pada arah pengembangan industrinya.
Kalbar masih didominasi perdagangan bahan mentah. Petani umumnya hanya memanen, mengeringkan daun, lalu menjualnya ke pengepul atau eksportir. Nilai tambah industri di tingkat daerah dinilai masih sangat minim.
Sementara itu, Kaltim mulai berbicara tentang ekstraksi, laboratorium, hingga pengembangan produk farmasi berbahan dasar kratom.
Dalam pemaparan “Peta Jalan Transformasi Kratom”, PT Borneo Riseta Naturafarm menyebut penjualan daun segar hanya menghasilkan sekitar Rp80 juta hingga Rp120 juta per hektare per tahun.
Namun melalui hilirisasi menjadi ekstrak berkadar tinggi, nilainya dapat melonjak menjadi Rp2,3 miliar hingga Rp5,7 miliar per hektare per tahun.
Kaltim Mulai Siapkan Ekosistem Industri Kratom
Keseriusan Kaltim terlihat dari keterlibatan pemerintah daerah dalam membangun regulasi dan ekosistem industri.
Mengutip laporan Antara (13/5), Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji menyatakan pemerintah siap mendukung pendanaan serta penguatan regulasi untuk memastikan kratom memberi nilai tambah maksimal bagi daerah.
Kaltim juga mulai menyiapkan langkah strategis dengan melibatkan Dinas Kehutanan, tim ahli gubernur, hingga industri pengolahan.
Bahkan fasilitas produksi di Tenggarong Seberang disebut sudah memiliki grinder mill dan disk mill untuk mendukung pengolahan kratom skala industri.
Kalbar Dinilai Mulai Tertinggal
Langkah agresif Kaltim memunculkan sorotan terhadap Kalbar yang selama ini justru dikenal sebagai sentra utama kratom nasional.
Pontianak Post menilai Kalbar mulai tertinggal karena belum bergerak cepat membangun hilirisasi. Di saat Kaltim mulai masuk ke industri ekstrak dan farmasi herbal, Kalbar masih bergulat dengan persoalan regulasi ekspor dan dominasi penjualan bahan mentah.
Bahkan sebelumnya sempat terjadi hambatan administrasi ekspor yang menyebabkan ribuan ton kratom tertahan dan berdampak langsung terhadap petani.
Baca Juga: Kalbar Dinilai Tertinggal dalam Hilirisasi Kratom karena Kendala Regulasi
Indonesia Kuasai Pasar Kratom Dunia
Meski persaingan antar daerah mulai terlihat, Indonesia tetap menjadi pemain utama kratom global.
Pelaku industri menyebut Indonesia saat ini memasok lebih dari 80 persen kebutuhan kratom dunia, dengan pasar utama berasal dari Amerika Serikat, Eropa, India, dan Thailand.
Karena itu, daerah yang lebih cepat membangun hilirisasi diperkirakan akan menjadi pusat industri kratom nasional di masa depan.
Tantangan Besar Kalbar: Bertahan sebagai Penjual Daun atau Masuk Industri Modern
Kalbar sebenarnya masih memiliki keunggulan besar dari sisi produksi, pengalaman ekspor, dan jaringan petani.
Namun tantangan ke depan bukan lagi soal siapa paling banyak menghasilkan daun kratom, melainkan siapa yang lebih cepat membangun industri bernilai tambah tinggi.
Jika hilirisasi tidak segera dipercepat, Kalbar berisiko hanya menjadi pemasok bahan baku, sementara nilai ekonomi terbesar justru dinikmati daerah lain yang lebih siap membangun industri modern kratom. (*)
Editor : Miftahul Khair