PONTIANAK POST – Boleh jadi, Anda semua mengira Pulau Kalimantan tidak pernah memiliki jalur kereta api.
Padahal, jejak rel dan lokomotif ternyata sudah pernah ada di Borneo alias Kalimantan sejak masa kolonial Belanda.
Meski bukan kereta penumpang umum seperti di Pulau Jawa, jaringan rel di Kalimantan saat itu digunakan untuk mendukung aktivitas industri minyak dan tambang pada awal abad ke-20.
Salah satu wilayah yang pernah memiliki rel kereta api adalah Balikpapan, Kalimantan Timur.
Dibangun untuk Industri Minyak Belanda
Sejarah tentang adanya rel kereta api di Kalimantan bermula ketika perusahaan minyak Belanda, Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), membuka industri minyak besar di Balikpapan.
Untuk mendukung distribusi minyak dan logistik industri, BPM membangun jalur kereta api khusus yang menghubungkan area kilang dengan pelabuhan.
Jalur itu difungsikan untuk mengangkut drum minyak, material industri, hingga pekerja perusahaan.
Baca Juga: Ambisi Besar Kereta Api Kalimantan, Proyek 2.772 Km Siap Dorong Hilirisasi dan Efisiensi Distribusi
Berdasar catatan sejarah Indonesian Railway Preservation Society (IRPS), rel di Balikpapan sudah aktif sejak akhir 1910-an.
“Kereta ini bukan transportasi umum, melainkan untuk kebutuhan industri minyak,” tulis IRPS dalam kajian sejarah perkeretaapian Indonesia.
Menggunakan Rel Khusus Industri
Jaringan rel di Balikpapan menggunakan sistem Decauville, yakni jalur kereta ringan yang banyak dipakai untuk kebutuhan industri pertambangan dan perkebunan pada masa kolonial.
Rel tersebut memiliki lebar sekitar 1.000 mm hingga 1.067 mm dan dioperasikan menggunakan lokomotif uap maupun diesel yang didatangkan langsung dari Eropa, terutama Jerman dan Belanda.
Selain Balikpapan, jejak lori dan rel industri juga pernah dijumpai di sejumlah area pertambangan di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.
Pontianak - Sambas Pernah Diwacanakan Punya Jalur Kereta
Tak hanya di Kalimantan Timur, Kalimantan Barat juga pernah masuk dalam rencana pembangunan rel kereta api kolonial.
Baca Juga: B50 Kini Diuji Coba di Kereta Api: Siap-siap, Revolusi Energi Indonesia Dimulai Juli
Dalam arsip sejarah yang dipublikasikan IRPS, pemerintah Hindia Belanda (sebelum menjadi nama Indonesia) pada 1915 pernah melakukan penelitian pembangunan jalur trem dari Pontianak menuju Singkawang hingga Sambas melalui pesisir barat Kalimantan.
Rencana tersebut diusulkan oleh Residen Westerafdeling van Borneo, Roelofs Valk.
Adapun rute yang dirancang meliputi:
- Pontianak
- Jungkat
- Sungai Purun
- Peniraman
- Mempawah
- Sungai Duri
- Singkawang
- Pemangkat
- Sambas
Total panjang jalur diperkirakan mencapai 217 kilometer.
Baca Juga: Sambut Haji 1447 H, Kereta Cepat Haramain Tambah 210 Ribu Kursi Penumpang
Proyek Rel Kalbar Gagal Terlaksana
Meski sudah dikaji serius, proyek jalur kereta Pontianak–Sambas akhirnya gagal dilaksanakan.
IRPS menyebut pemerintah kolonial pusat di Batavia lebih memprioritaskan rencana jalur besar Pontianak–Banjarmasin yang melintasi Pulau Kalimantan. Namun, akhirnya juga tidak pernah terwujud.
Dalam laporan De Javasche Bank tahun 1917, biaya pembangunan jalur Pontianak–Sambas saat itu ditaksir mencapai 5 juta gulden.
Kini Tinggal Sejarah
Seiring berlangsungnya waktu, jaringan rel industri di Kalimantan perlahan hilang akibat perang, modernisasi transportasi, dan perubahan sistem distribusi industri.
Kini, sebagian besar rel peninggalan kolonial tersebut sudah tidak tersisa dan hanya dapat ditemukan melalui dokumentasi sejarah, foto lama, dan arsip kolonial.
Meski demikian, fakta bahwa Kalimantan pernah memiliki rel kereta api menunjukkan bahwa gagasan transportasi berbasis rel di Pulau Borneo sebenarnya bukanlah hal baru. (*)
Editor : Miftahul Khair