Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Kereta Api Jadi Solusi Logistik Masa Depan di Tengah Ledakan Industri Kalimantan, Lebih Ramah Lingkungan Dibanding Truk Tambang

Khoiril Arif Ya'qob • Selasa, 26 Mei 2026 | 13:48 WIB
Ilustrasi kereta api jadi andalan distribusi material konstruksi. (ANTARA)
Ilustrasi kereta api jadi andalan distribusi material konstruksi. (ANTARA)

PONTIANAK POST - Rencana pembangunan jalur kereta api di Kalimantan kembali menjadi sorotan di tengah tingginya aktivitas angkutan tambang dan logistik yang masih mengandalkan ribuan truk besar.

Sejumlah pihak menilai transportasi berbasis rel jauh lebih ramah lingkungan dibanding angkutan jalan raya, terutama untuk distribusi batu bara, sawit, dan hasil industri dalam jumlah besar.

Selain lebih efisien, kereta api juga disebut mampu mengurangi kerusakan jalan, polusi debu, hingga emisi karbon yang selama ini menjadi keluhan masyarakat di daerah tambang.

Baca Juga: Kalimantan Bakal Punya Jalur Kereta Api Sepanjang 2.772 Km, Pemerintah Susun Rencana Besar Infrastruktur

Moda Transportasi Masa Depan

Kementerian Perhubungan menyebut kereta api menjadi salah satu transportasi paling ramah lingkungan untuk masa depan Indonesia.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub, Mohamad Risal Wasal mengatakan transportasi rel memiliki peran penting dalam mendukung sistem transportasi berkelanjutan.

“Kereta api merupakan salah satu moda transportasi yang mampu menjadi tulang punggung transportasi ramah lingkungan Indonesia di masa depan,” ujar Risal Wasal dikutip dari Antara (2/6).

Direktur Utama PT Krakatau Jasa Logistik (KJL) Hanif Wijaya juga menyatakan penggunaan kereta api untuk distribusi barang lebih efektif untuk angkutan volume besar dan jarak jauh.

Baca Juga: Ambisi Besar Kereta Api Kalimantan, Proyek 2.772 Km Siap Dorong Hilirisasi dan Efisiensi Distribusi

Menurutnya, pengiriman logistik menggunakan kereta api sejalan dengan target net zero emission atau NZE 2060 pemerintah.

Truk Tambang Jadi Sorotan

Di banyak daerah Kalimantan, pergerakan truk besar sering dikaitkan dengan kerusakan jalan dan kepadatan lalu lintas.

Pemerintah Kota Pontianak bahkan memperketat aturan jam operasional truk kontainer untuk mengurangi kepadatan kendaraan dan meningkatkan keselamatan pengguna jalan.

Dalam laporan Pontianak Post (30/1), Walikota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono menyebut distribusi angkutan barang memang sangat penting bagi perekonomian daerah, namun pengelolaannya harus tetap terorganisir.

Selain lalu lintas, kendaraan logistik berat juga dinilai mempercepat kerusakan jalan akibat beban muatan yang besar dan intensitas penggunaan tinggi.

Bisa Kurangi Emisi dan Tekanan Jalan

Masih merujuk pernyataan Hanif Wijaya, ia mengatakan pengiriman barang menggunakan kereta api lebih efektif terutama untuk volume besar dan jarak jauh.

Baca Juga: B50 Kini Diuji Coba di Kereta Api: Siap-siap, Revolusi Energi Indonesia Dimulai Juli

“Langkah strategis ini sejalan dengan tujuan pemerintah mewujudkan net zero emission (NZE) 2060,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa satu perjalanan kereta logistik dapat mengangkut hingga 30 gerbong datar dalam bentuk kontainer maupun breakbulk.

Perusahaan juga menyebut penggunaan moda rel membantu mengurangi kemacetan, polusi udara, dan risiko keterlambatan distribusi barang.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono juga mengatakan hal serupa.

Baca Juga: Sambut Haji 1447 H, Kereta Cepat Haramain Tambah 210 Ribu Kursi Penumpang

Katanya kontribusi emisi kereta api di Indonesia tercatat kurang dari satu persen atau sekitar 0,6 persen, jauh lebih rendah dibanding moda transportasi darat lainnya.

Selain itu, Kementerian Perhubungan pada laporan Antara (20/9/2023) juga menyatakan kereta api lebih hemat energi dibanding moda jalan raya.

Waktu itu, Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub, Mohamad Risal Wasal menjelaskan kereta api hanya membutuhkan sekitar tiga liter BBM per kilometer untuk mengangkut 1.500 orang, jauh lebih efisien dibanding moda transportasi jalan.

Disamping mengurangi emisi, penggunaan kereta api logistik juga dapat memberi tekanan terhadap jalan raya akibat lalu lintas kendaraan tinggi yang selama ini mempercepat kerusakan infrastruktur jalan.

Kalimantan Pernah Punya Rel Kereta Api

Perlu Anda tahu Kalimantan sebenarnya bukan wilayah asing bagi transportasi rel.

Catatan Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) menunjukkan Kalimantan pernah memiliki jalur kereta api industri sejak masa kolonial Belanda, terutama di Balikpapan untuk mendukung distribusi minyak.

Selain itu, pemerintah Hindia Belanda juga pernah merancang jalur kereta Pontianak–Singkawang–Sambas pada 1915, meski proyek tersebut tidak pernah terealisasi.

Baca Juga: Prabowo Prioritaskan Kereta Api Kalimantan, Menteri AHY Lapor Perkembangan Proyek ke Presiden

Tantangan Pembangunan Masih Besar

Meski dinilai lebih ramah lingkungan, pembangunan kereta api di Kalimantan tetap menghadapi tantangan besar.

Kementerian Perhubungan dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNAS) membeberkan pengembangan kereta api di Kalimantan banyak menghadapi tantangan.

Mulai dari investasi, pembebasan lahan, hingga kondisi geografis. Walau begitu, transportasi rel tetap dinilai potensial untuk mendukung distribusi logistik jangka panjang yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Walhasil, di tengah meningkatnya aktivitas industri dan logistik di Pulau Borneo, transportasi rel tetap dinilai relevan sebagai solusi jangka panjang yang efisien plus berkelanjutan. (*)

Editor : Miftahul Khair
#kereta api kalimantan #tambang #industri #logistik