Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Udara Jakarta Memburuk, Masuk Empat Besar Kota Berpolusi Terparah Dunia Saat Musim Kemarau Mulai Mengancam

Basilius Andreas Gas • Rabu, 27 Mei 2026 | 08:37 WIB
Ilustrasi - Warga menggunakan masker saat menuju halte Transjakarta Setiabudi Utara Aini, Jakarta. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc/pri.)
Ilustrasi - Warga menggunakan masker saat menuju halte Transjakarta Setiabudi Utara Aini, Jakarta. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc/pri.)

PONTIANAK POST- Kualitas udara di Jakarta pada Rabu pagi tercatat memburuk hingga masuk kategori tidak sehat dan menempatkan ibu kota Indonesia di posisi keempat kota dengan tingkat polusi udara terburuk di dunia.

Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 05.50 WIB, indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) Jakarta berada di angka 152 dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 59,9 mikrogram per meter kubik.

Kondisi tersebut masuk kategori tidak sehat karena dinilai berisiko bagi kelompok sensitif, baik manusia maupun hewan, serta berpotensi menimbulkan dampak terhadap tumbuhan dan menurunkan nilai estetika lingkungan.

IQAir merekomendasikan masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara memburuk. Warga yang harus beraktivitas di luar disarankan menggunakan masker dan menutup jendela rumah guna mengurangi paparan udara kotor dari luar.

Dalam klasifikasi kualitas udara, kategori baik berada pada rentang PM2.5 sebesar 0-50 yang dinilai tidak menimbulkan dampak bagi kesehatan manusia, hewan, maupun lingkungan.

Sementara kategori sedang berada pada rentang 51-100, yakni kualitas udara yang umumnya tidak berdampak bagi kesehatan manusia dan hewan, namun mulai memengaruhi tumbuhan sensitif dan estetika lingkungan.

Adapun kategori sangat tidak sehat berada pada rentang PM2.5 sebesar 200-299 yang dapat memicu gangguan kesehatan pada sejumlah kelompok masyarakat. Sedangkan kategori berbahaya berada di rentang 300-500 dan dinilai dapat menyebabkan dampak kesehatan serius secara luas.

Dalam daftar kota dengan kualitas udara terburuk dunia, Lahore di Pakistan menempati posisi pertama dengan AQI 162, disusul Delhi, India dengan angka 155. Posisi ketiga ditempati Kinshasa, Republik Demokratik Kongo dengan angka 152, sementara Johannesburg, Afrika Selatan berada di urutan kelima dengan AQI 103.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan langkah cepat untuk mengantisipasi pencemaran udara selama musim kemarau yang diperkirakan berlangsung mulai awal Mei hingga Agustus mendatang.

Upaya penanganan dilakukan melalui peningkatan sistem pemantauan kualitas udara dan pelaksanaan uji emisi kendaraan bermotor secara lebih masif.

Pemprov DKI Jakarta juga terus mengevaluasi Strategi Pengendalian Pencemaran Udara (SPPU) dengan mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari tren PM2.5, kontribusi emisi dari setiap sektor, hingga dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.

Pemerintah menilai pengendalian pencemaran udara tidak dapat dilakukan secara parsial oleh satu daerah saja sehingga diperlukan kolaborasi lintas wilayah dan sinergi antarorganisasi perangkat daerah di kawasan sekitar Jakarta. (ant)

Editor : Basilius Andreas Gas
#terburuk #Air Quality Index #tidak sehat #JAKARTA #kualitas udara