PONTIANAK POST - Kalimantan Barat dikenal sebagai salah satu wilayah yang sejak lama mengandalkan transportasi sungai untuk pergerakan masyarakat dan distribusi barang.
Hingga kini, jalur sungai masih menjadi moda penting terutama untuk wilayah pedalaman yang belum sepenuhnya terhubung jalan darat.
Kapal bandong masih menjadi sarana vital distribusi logistik di sejumlah daerah di Kalbar.
Merujuk pada laporan Antara, Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Kalbar juga menyebut angkutan sungai masih sangat dibutuhkan karena belum semua wilayah di Kalbar terhubung jaringan jalan yang memadai.
Dinilai Efektif untuk Wilayah Pedalaman
Transportasi sungai memiliki keunggulan karena mampu menjangkau daerah yang sulit diakses kendaraan darat.
Selain itu, biaya pembangunan infrastruktur sungai dinilai lebih rendah dibanding pembangunan rel kereta api atau jalan baru.
Di sejumlah wilayah perbatasan dan pedalaman Kalbar, distribusi bahan pokok masih banyak mengandalkan kapal kayu dan kapal bandong melalui Sungai Kapuas dan anak sungainya.
Baca Juga: Soal Rel Kereta Api Kalimantan, Akademisi Bantah Hambatan Lahan Gambut
Namun di sisi lain, transportasi sungai juga memiliki keterbatasan.
Waktu tempuh relatif lebih lama, bergantung pada kondisi cuaca dan debit air, serta kapasitas distribusi yang tidak selalu stabil.
Lebih Efisien untuk Logistik Massal
Di tengah tingginya aktivitas industri dan distribusi barang, moda transportasi rel mulai kembali dilirik sebagai solusi logistik jangka panjang di Kalimantan.
PT KAI menyebut angkutan logistik berbasis rel memiliki potensi besar untuk mendukung distribusi barang yang lebih efisien dan berkelanjutan.
KAI menyebut moda rel mampu mengangkut barang dalam volume besar sekaligus dengan biaya distribusi yang lebih stabil dibanding angkutan jalan raya.
Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) juga menilai optimalisasi angkutan barang berbasis kereta api perlu dikembangkan untuk mengurangi beban jalan raya dan menjaga kelancaran distribusi logistik nasional.
Baca Juga: Negara-Negara ini Sukses Bangun Rel Kereta Api di Lahan Gambut, Kalimantan Selanjutnya
Tantangan Kereta Api di Kalbar
Meski dinilai efisien, pembangunan kereta api di Kalbar tidak mudah.
Kementerian Perhubungan dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNAS) menyebut pembangunan jaringan rel di Kalimantan membutuhkan investasi besar serta menghadapi tantangan geografis dan pembebasan lahan.
Selain itu, hingga saat ini Kalbar belum memiliki jaringan rel aktif sehingga seluruh pembangunan harus dimulai dari awal.
Mana yang Lebih Efisien?
Walhasil, transportasi sungai dan kereta api sebenarnya memiliki fungsi berbeda dan bisa saling melengkapi.
Baca Juga: Kalteng Desak Kepastian Proyek Kereta Api Lintas Kalimantan
Transportasi sungai tetap penting untuk menjangkau wilayah pedalaman dan kawasan yang sulit diakses jalan darat.
Sementara kereta api dinilai lebih cocok untuk distribusi logistik massal antarkota dan kawasan industri karena mampu mengangkut barang dalam kapasitas besar secara lebih stabil.
Di tengah pertumbuhan industri, perdagangan, dan pembangunan kawasan perbatasan di Kalbar, kombinasi transportasi sungai, jalan raya, dan moda rel dinilai dapat menjadi solusi jangka panjang untuk memperkuat konektivitas daerah. (*)
Editor : Miftahul Khair