PONTIANAK POST – Dua jenis limbah yang selama ini menjadi tantangan lingkungan, yakni red mud dari pengolahan bauksit dan tandan kosong kelapa sawit (TKKS), berhasil diubah menjadi material bernilai ekonomi oleh mahasiswa Departemen Teknik Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI).
Melalui riset berbasis keberlanjutan, tim mahasiswa FTUI mengembangkan teknologi yang memungkinkan red mud (residu bauksit) dimanfaatkan sebagai sumber mineral strategis sekaligus bahan baku material ramah lingkungan. Sementara limbah sawit dimanfaatkan sebagai reduktor yang lebih hijau dalam proses pengolahan.
Dekan Fakultas Teknik UI, Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, menilai inovasi tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam menjawab tantangan industri masa depan melalui pendekatan teknologi yang berkelanjutan.
“Prestasi ini membuktikan bahwa mahasiswa FTUI tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap isu keberlanjutan dan masa depan industri hijau,” ujarnya dilansir dari ANTARA.
Penemuan ini berhasil menjadi Juara 1 Lomba Poster Ilmiah MINERBA Convex 2025 oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Limbah Sawit Jadi Kunci Ekstraksi Skandium
Salah satu inovasi yang dikembangkan mahasiswa FTUI memanfaatkan tandan kosong kelapa sawit sebagai reduktor ramah lingkungan untuk mengekstraksi skandium dari red mud.
Skandium merupakan logam tanah jarang bernilai tinggi yang banyak digunakan dalam industri teknologi maju, seperti dirgantara, energi terbarukan, hingga manufaktur berteknologi tinggi.
Tim peneliti yang terdiri atas Josafat Pasaribu, Benaya Obednego Sirait, dan Brillian Mozza mengembangkan pendekatan C.L.E.A.N (Circular, Low-emission, Efficient, Affordable, and Natural) untuk mengoptimalkan proses ekstraksi tersebut.
Menurut Josafat, inovasi ini membuktikan bahwa limbah industri tidak selalu berakhir sebagai beban lingkungan.
“Inovasi ini menunjukkan bahwa limbah industri sebenarnya bisa menjadi sumber daya baru yang mendukung ekonomi sirkular,” katanya.
Efisiensi Ekstraksi Mencapai 99,3 Persen
Hasil penelitian menunjukkan tingkat efisiensi ekstraksi skandium mencapai 99,3 persen. Selain menghasilkan mineral bernilai tinggi, proses tersebut juga dirancang menggunakan sistem pemurnian dan regenerasi bahan yang menciptakan siklus tertutup atau closed-loop system.
Pendekatan tersebut dinilai mampu mengurangi limbah sekaligus meningkatkan nilai tambah dari hasil samping industri pengolahan bauksit.
Red Mud Diolah Jadi Material Ramah Lingkungan
Selain digunakan sebagai sumber mineral strategis, red mud juga dimanfaatkan untuk menyerap emisi gas sulfur dioksida (SO₂) sebelum diolah menjadi geopolimer ramah lingkungan.
Riset yang dikembangkan tim FTUI lainnya menunjukkan bahwa material geopolimer hasil pengolahan red mud memiliki kekuatan tekan yang kompetitif dibandingkan semen konvensional.
Keunggulan lainnya adalah emisi karbon yang jauh lebih rendah sehingga berpotensi menjadi alternatif material bangunan yang lebih berkelanjutan.
Dorong Industri Hijau dan Ekonomi Sirkular
Pemanfaatan limbah sawit dan red mud secara bersamaan dinilai sejalan dengan upaya mendorong ekonomi sirkular dan hilirisasi sumber daya alam di Indonesia.
Inovasi tersebut membuka peluang baru bagi industri untuk mengurangi beban limbah sekaligus menciptakan produk bernilai tambah yang mendukung target pembangunan berkelanjutan.
Di tengah meningkatnya tuntutan terhadap praktik industri yang lebih ramah lingkungan, pemanfaatan limbah menjadi sumber daya baru menunjukkan bahwa solusi teknologi dapat berjalan beriringan dengan kepentingan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.
Kalbar Punya Bahan Baku Melimpah
Inovasi tersebut dinilai sangat relevan bagi Kalimantan Barat yang merupakan salah satu sentra bauksit dan kelapa sawit terbesar di Indonesia. Provinsi ini tidak hanya memiliki cadangan bauksit yang melimpah, tetapi juga menjadi pusat pengembangan industri pengolahan alumina nasional.
Pada proses pengolahan bauksit menjadi alumina, dihasilkan limbah red mud dalam jumlah besar yang selama ini menjadi tantangan lingkungan. Studi di fasilitas pengolahan alumina Tayan, Kalimantan Barat, menunjukkan pabrik berkapasitas 300 ribu ton alumina per tahun dapat menghasilkan sekitar 300–350 ribu ton red mud setiap tahun.
Di sisi lain, Kalimantan Barat juga merupakan salah satu daerah penghasil sawit terbesar di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan luas perkebunan kelapa sawit di provinsi ini telah mencapai sekitar 2,16 juta hektare pada 2024.
Melimpahnya tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sebagai limbah perkebunan membuka peluang besar untuk mendukung teknologi ekstraksi mineral yang lebih ramah lingkungan seperti yang dikembangkan mahasiswa FTUI.
Dengan kombinasi sumber daya bauksit dan sawit yang sama-sama melimpah, Kalimantan Barat berpotensi menjadi laboratorium industri hijau berbasis ekonomi sirkular. Limbah red mud dari sektor pertambangan dan limbah sawit dari sektor perkebunan tidak lagi dipandang sebagai beban lingkungan, melainkan dapat diolah menjadi bahan baku mineral strategis dan material bernilai tambah bagi industri masa depan. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro