Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

IHSG Meledak 2,31 Persen ke 5.879, Investor Panik Berbalik Arah Usai Kebijakan BI dan Dorongan Buyback Saham

Basilius Andreas Gas • Rabu, 10 Juni 2026 | 11:11 WIB
Ilustrasi - Pengunjung mengambil gambar layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (ANTARA FOTO/FAUZAN)
Ilustrasi - Pengunjung mengambil gambar layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (ANTARA FOTO/FAUZAN)

PONTIANAK POST- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Rabu melanjutkan penguatan signifikan setelah sebelumnya sempat dibuka melemah, seiring meningkatnya respons positif investor terhadap berbagai kebijakan pasar modal dan langkah moneter di dalam negeri.

IHSG dibuka turun 2,59 poin atau 0,05 persen ke level 5.744,06, namun berbalik menguat tajam 132,84 poin atau 2,31 persen ke posisi 5.879,49 pada pukul 09.35 WIB.

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menilai reli tersebut mampu meredam kepanikan pasar dalam jangka pendek, meski tekanan eksternal dan domestik belum sepenuhnya mereda.

“Kiwoom Research menilai reli ini berhasil menghentikan kepanikan pasar untuk sementara, namun faktor-faktor yang memicu tekanan sebelumnya seperti arus keluar dana asing, meningkatnya sovereign risk premium, serta kekhawatiran terhadap kondisi fiskal belum sepenuhnya hilang. Kebangkitan IHSG akan jumpai tantangan terdekat di sekitar 5.900 (Resistance MA10) dan support 5.550,” ujarnya di Jakarta, Rabu.

Menurutnya, penguatan IHSG juga ditopang relief rally sebelumnya yang tercatat melonjak 7,57 persen atau 404 poin ke level 5.722, setelah sehari sebelumnya sempat menyentuh titik terendah tahun berjalan di 5.317.

Pemulihan tersebut terjadi setelah pemerintah menggelar pertemuan dengan jajaran CEO BUMN untuk mendorong aksi pembelian kembali saham (buyback), serta kebijakan tak terduga Bank Indonesia yang menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen di luar jadwal rapat reguler.

Langkah tersebut diambil setelah Gubernur BI mengakui pelemahan nilai tukar rupiah berlangsung lebih cepat dan lebih dalam dari proyeksi awal.

“Pemulihan terjadi setelah pemerintah menggelar pertemuan dengan para CEO BUMN untuk mendorong aksi buyback saham, serta langkah mengejutkan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan BI Rate 25 bps menjadi 5,50 persen di luar jadwal rapat reguler, setelah Gubernur BI mengakui pelemahan Rupiah terjadi lebih cepat dan lebih dalam dari perkiraan,” kata Liza.

Dari sisi kebijakan nasional, Presiden Prabowo Subianto menerima laporan rutin Dewan Ekonomi Nasional (DEN) yang dipimpin Luhut Binsar Pandjaitan mengenai kondisi ekonomi, evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), percepatan integrasi GovTech berbasis kecerdasan buatan, serta potensi risiko global di kawasan strategis Selat Hormuz.

Di sisi lain, pasar juga mencermati dampak kenaikan harga BBM non-subsidi. Mulai 10 Juni 2026, Pertamax (RON 92) naik 32 persen menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300, sementara Pertamax Green 95 naik 31,7 persen menjadi Rp17.000 per liter dari Rp12.900 per liter. Meski demikian, Pertalite dan Biosolar dipastikan tidak mengalami perubahan harga.

Sentimen global turut membayangi pergerakan pasar dengan eskalasi konflik Iran dan Amerika Serikat (AS), di tengah ketidakpastian data inflasi AS dan kebijakan suku bunga The Federal Reserve.

Optimisme sempat muncul setelah Iran dan Israel menghentikan serangan, serta pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut kesepakatan nuklir Iran berada di tahap akhir dan pembukaan Selat Hormuz segera terjadi.

Namun situasi kembali memanas setelah Trump menyebut Iran menembak jatuh helikopter Apache AS di Selat Hormuz, yang kemudian diikuti respons militer dari CENTCOM. Iran membantah serangan tersebut dan memperingatkan balasan jika eskalasi berlanjut.

Pelaku pasar kini menantikan rilis Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat yang menjadi acuan penting arah kebijakan The Fed. Probabilitas kenaikan suku bunga tambahan bahkan disebut mencapai sekitar 69 persen.

Di pasar global, bursa Eropa dan Wall Street mayoritas melemah, sementara mayoritas indeks Asia juga terkoreksi akibat meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan ekspektasi suku bunga tinggi yang lebih lama. (ant)

Editor : Basilius Andreas Gas
#respons positif #bumn #buyback #ihsg #kebijakan moneter