Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, Kembali ke Rumah Sejarah untuk Menatap Abad Kedua

Aristono Edi Kiswantoro • Minggu, 12 Juli 2026 | 23:36 WIB
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf bersilaturahmi ke Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, menjelang Muktamar NU ke-35. (JAWA POS)
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf bersilaturahmi ke Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, menjelang Muktamar NU ke-35. (JAWA POS)

 

PONTIANAK POST – Pemilihan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, sebagai lokasi Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 memiliki makna lebih dari sekadar tempat penyelenggaraan agenda lima tahunan organisasi.

Bagi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, Tambakberas merupakan ruang sejarah yang mempertemukan perjalanan masa lalu dan masa depan NU. Pesantren tersebut merupakan tempat yang memiliki hubungan erat dengan salah satu pendiri NU, KH Abdul Wahab Chasbullah.

Karena itu, Gus Yahya mengaku memiliki kebahagiaan tersendiri ketika muktamar akhirnya dapat digelar di pesantren tersebut.

“Ini menjadi kebahagiaan bagi saya dan warga Nahdlatul Ulama,” ujar Gus Yahya saat bersilaturahmi ke Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Minggu (12/7).

Cita-Cita Lama Gus Yahya yang Terwujud

Keputusan membawa Muktamar NU ke-35 ke Tambakberas disebut sebagai salah satu cita-cita yang ingin diwujudkan Gus Yahya sejak lama.

Menurutnya, pesantren bukan hanya tempat pendidikan agama, tetapi juga menjadi pusat lahirnya gagasan dan perjuangan kebangsaan. Tambakberas memiliki rekam jejak panjang dalam membentuk tradisi keilmuan Islam yang menjadi fondasi perjalanan NU.

Dalam kunjungannya, Gus Yahya disambut Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum KH Abdurrozaq Sholeh atau Gus Rozak bersama jajaran pengasuh pesantren.

Ia menyebut kedatangannya sebagai bentuk silaturahmi dan sowan sebelum pelaksanaan muktamar yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus mendatang.

Muktamar Abad Kedua dan Tantangan Zaman

Selain bernilai historis, Muktamar NU ke-35 juga berlangsung dalam momentum penting karena organisasi memasuki fase abad kedua perjalanan sejarahnya.

Gus Yahya berharap muktamar tidak hanya menghasilkan kepengurusan baru, tetapi juga melahirkan gagasan strategis untuk menghadapi perubahan zaman.

Menurut dia, NU harus mampu merespons berbagai tantangan global, mulai dari perkembangan teknologi, perubahan sosial, dinamika ekonomi, hingga persoalan kemanusiaan.

“Semoga seluruh proses muktamar berjalan dengan baik dan menghasilkan keputusan-keputusan yang membawa kemaslahatan, bukan hanya bagi Nahdlatul Ulama dan warganya, tetapi juga bagi bangsa Indonesia, kehidupan beragama, hingga kemanusiaan secara luas,” katanya.

Pesantren sebagai Ruang Melahirkan Gagasan Besar

Dipilihnya pesantren sebagai lokasi muktamar juga mempertegas identitas NU yang tumbuh dari tradisi pendidikan Islam berbasis pesantren.

Atmosfer keilmuan dan spiritual di Bahrul Ulum diharapkan mampu memberikan suasana reflektif bagi para peserta muktamar dalam menyusun arah organisasi ke depan.

Gus Yahya optimistis keputusan yang lahir dari Tambakberas dapat menjadi pijakan bagi NU agar semakin kuat, adaptif, dan tetap relevan dalam menghadapi perubahan global.

Menjaga Warisan, Menyiapkan Masa Depan

Muktamar NU ke-35 di Tambakberas menjadi pertemuan antara sejarah dan masa depan. Tempat yang pernah melahirkan tokoh pendiri organisasi kini menjadi ruang untuk membicarakan arah perjalanan NU berikutnya.

Bagi warga Nahdlatul Ulama, muktamar bukan hanya pergantian kepemimpinan, tetapi juga momentum memperbarui komitmen terhadap nilai keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan. **

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#Muktamar NU ke-35 Tambakberas #Pondok Pesantren Bahrul Ulum #Gus Yahya Cholil Staquf #Nahdlatul Ulama abad kedua #KH Abdul Wahab Chasbullah