PONTIANAK POST – Dugaan keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di dua daerah. Di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, jumlah korban terus bertambah dan kini tidak hanya melibatkan pelajar, tetapi juga ibu hamil serta ibu menyusui. Sementara itu, belasan siswa di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, mengalami keluhan serupa usai menyantap menu MBG.
Rangkaian kasus tersebut kembali menjadi sorotan terhadap pelaksanaan program MBG. Pemerintah daerah masih menyelidiki penyebab pasti munculnya gejala, termasuk melalui pemeriksaan laboratorium.
Korban di Kulon Progo Bertambah
Kepala Dinas Kesehatan Kulon Progo Susilaningsih mengatakan pemantauan masih terus dilakukan karena gejala diduga dapat muncul hingga sekitar 32 jam setelah makanan dikonsumsi.
Hingga Rabu (22/7), Dinas Kesehatan mencatat 105 orang mengalami gejala, terdiri atas 98 siswa, empat tenaga pendidik SMPN 3 Wates, satu ibu hamil, dan dua ibu menyusui.
"Hasil pemantauan kemarin ada 105 orang yang bergejala," kata Susilaningsih.
Data tersebut diperoleh dari penelusuran puskesmas dan laporan penerima MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangwuni melalui formulir daring.
Pemantauan masih berlanjut karena laporan baru juga datang dari sejumlah sekolah, antara lain SDN Sogan, MI Ma'arif Wates, dan SDN Darat.
Ibu Hamil dan Menyusui Terdampak
Program MBG dari SPPG Karangwuni tidak hanya menyasar pelajar, tetapi juga ibu hamil dan ibu menyusui melalui posyandu.
Dua ibu menyusui dari Posyandu Anggrek Karangwuni dilaporkan mengalami pusing ringan, sedangkan seorang ibu hamil dari Posyandu Marsudi Siwi mengeluhkan mual, muntah, dan diare.
Meski jumlah korban terus bertambah, Dinas Kesehatan Kulon Progo belum menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) karena penyebab gejala masih menunggu hasil investigasi dan uji laboratorium.
"Kami belum bisa menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB)," ujar Susilaningsih.
Belasan Siswa di Pasuruan Bergejala
Kasus serupa juga terjadi di SMAN 1 Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Sebanyak 14 siswa kelas X mengalami keluhan setelah mengonsumsi menu MBG pada Selasa (21/7).
Sebanyak sembilan siswa menjalani perawatan di Instalasi Gawat Darurat Puskesmas Pandaan, sedangkan lima lainnya ditangani di Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
Seorang siswa mengaku awalnya hanya merasakan mual sebelum muncul gatal di bibir dan telinga. Sementara seorang siswi mengalami muntah, nyeri dada, hingga sesak napas sehingga harus mendapat penanganan medis.
Wakil Kepala Kesiswaan SMAN 1 Pandaan Imad mengatakan keluhan muncul tidak lama setelah para siswa selesai makan siang bersama.
"Setelah selesai makan, tiba-tiba ada pelajar mengeluh mual, muntah, gatal-gatal, dan keluhan lainnya," katanya.
Menu Masih Diuji
Pada hari kejadian, SMAN 1 Pandaan menerima 1.296 paket MBG dari SPPG Sumbergedang. Menu yang disajikan terdiri atas nasi putih, tempe bacem, nugget, capcay, selada, saus, dan jeruk.
Dokter Puskesmas Pandaan Reviola mengatakan gejala yang dialami siswa beragam, mulai dari mual, muntah, nyeri perut, gatal, kram, menggigil, nyeri dada, hingga sesak napas.
Seluruh korban mendapat penanganan sesuai kondisi masing-masing, termasuk pemberian oksigen, infus, dan obat-obatan. Setelah menjalani observasi selama tiga hingga enam jam, seluruhnya diperbolehkan pulang.
Pengawasan Diminta Diperketat
Munculnya dugaan keracunan MBG di dua daerah dalam waktu berdekatan memicu desakan agar pengawasan keamanan pangan diperketat, mulai dari proses pengolahan, distribusi, hingga penyajian makanan.
Hasil investigasi dan pemeriksaan laboratorium kini menjadi dasar untuk memastikan penyebab kejadian sekaligus mengevaluasi tata kelola program agar insiden serupa tidak kembali terulang. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro