PONTIANAK POST- Pemerintah mulai merehabilitasi sekitar 10.000 sekolah pada tahun ini sebagai bagian dari percepatan perbaikan fasilitas pendidikan di berbagai daerah, termasuk wilayah terpencil. Jumlah tersebut merupakan tahap awal dari kebutuhan rehabilitasi lebih dari 20.000 sekolah di seluruh Indonesia.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto mengatakan program rehabilitasi itu dijalankan sesuai arahan Presiden untuk meningkatkan kualitas sarana pendidikan.
"Jumlah kebutuhannya lebih dari 20.000 sekolah sesuai arahan Bapak Presiden, tapi untuk tahun ini sudah dimulai sekitar 10.000 sekolah yang direhabilitasi," kata Yandri di Makassar, Rabu.
Utamakan Daerah Terpencil
Yandri mengatakan masih terdapat sejumlah sekolah di daerah terpencil yang membutuhkan perhatian, salah satunya sekolah di Dusun Kuri Caddi, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Sekolah yang berada di bawah pengelolaan Kementerian Agama itu berdampingan dengan Koperasi Nelayan yang pembangunannya berkembang cukup pesat.
Menurut dia, rehabilitasi sekolah tetap berjalan melalui koordinasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sebagai bagian dari upaya meningkatkan fasilitas pendidikan di wilayah terpencil dan terluar.
Perkuat Kolaborasi Antar Kementerian
Selain sektor pendidikan, Kemendes PDT juga mengembangkan desa-desa tematik, seperti desa jagung, desa melon, dan desa semangka, melalui kerja sama dengan Kementerian Pertanian.
"Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, kita ini bukan superman, tetapi super team. Jadi, Kementerian Desa lebih banyak bekerja dengan pendekatan kolaboratif," katanya.
Yandri menambahkan perhatian juga diberikan kepada wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Kemendes PDT menggandeng TNI Angkatan Darat untuk membangun jembatan serta menyediakan akses air bersih bagi masyarakat.
"Intinya, arahan Bapak Presiden sangat jelas, yaitu seluruh kementerian dan lembaga harus bekerja sama. Jadi ini bukan pekerjaan satu kementerian saja, melainkan kerja kolaboratif," pungkasnya. (ant)
Editor : Basilius Andreas GasSumber : Antara