PONTIANAK POST — Tiga helikopter berat CH-47 Chinook milik Pasukan Bela Diri Jepang digeser ke Kabupaten Ketapang untuk memperkuat pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Operasi pengeboman air di Kecamatan Kendawangan dijadwalkan dimulai Senin (21/9).
Helikopter tersebut diangkut dari Pelabuhan Internasional Kijing, Mempawah, menggunakan kapal perang amfibi Jepang JS Kunisaki, Minggu (20/9). Wilayah selatan Kalimantan Barat dipilih karena masih memiliki titik api yang membutuhkan penanganan dari udara.
Perwakilan Kementerian Pertahanan sekaligus liaison officer Chinook Jepang, Kapten Pnb Dhimas Jati, mengatakan operasi di Kendawangan dijadwalkan berlangsung lima hari.
“Pada Senin, 21 September 2026, helikopter CH-47 Chinook akan langsung melakukan water bombing di Kecamatan Kendawangan,” katanya dalam pengarahan tim terpadu di Pusdalops BPBD Kalbar, Jumat (18/9) malam.
Setelah operasi selesai, ketiga helikopter dijadwalkan kembali ke Pelabuhan Kijing pada Sabtu (26/9). Pemindahan dilakukan setelah operasi di Mempawah terkendala kabut asap dan persoalan teknis.
Satu Chinook sempat menjalankan satu penerbangan dan menjatuhkan air di Desa Semparong Parit Raden, Kecamatan Sungai Kunyit, Jumat (18/9). Dalam sekali angkut, Bambi Bucket yang digunakan mampu membawa sekitar 5.000 liter air.
Kapasitas tersebut dibutuhkan untuk mencapai kawasan terbakar yang sulit dijangkau petugas darat. Operasi seluruh Chinook berada di bawah kendali TNI untuk mendukung Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Kapal Jadi Pangkalan Terapung
Selain bantuan Jepang, pemerintah menyiapkan kekuatan jangka panjang melalui bekas kapal induk Angkatan Laut Italia, Giuseppe Garibaldi. Kapal tersebut akan berganti nama menjadi KRI Sriwijaya setelah diserahterimakan kepada Indonesia pada 24 September 2026.
Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali mengatakan kapal itu dapat mendukung operasi militer selain perang, termasuk penanggulangan karhutla.
“Apabila dibutuhkan, kita bisa menggunakannya untuk kepentingan OMSP. Penanganan karhutla juga termasuk OMSP,” kata Ali di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (18/9).
KRI Sriwijaya diproyeksikan menjadi pangkalan bergerak bagi lebih dari 10 helikopter. Kapal dapat mendekati perairan terdekat dari wilayah dengan konsentrasi titik api tinggi sehingga waktu tempuh armada udara menjadi lebih singkat.
Tak Bergantung Pangkalan Darat
Helikopter TNI Angkatan Laut, Angkatan Darat, dan Angkatan Udara dapat lepas landas dari kapal menuju kawasan terbakar. Setelah menjalankan misi, helikopter kembali ke kapal untuk mengisi bahan bakar, menjalani pemeriksaan, dan bersiap untuk penerbangan berikutnya.
“Helikopter bisa kembali ke kapal induk karena di sana tersedia avtur. Jadi, tidak perlu mendarat di daerah yang belum tentu memiliki bahan bakar pendukung,” jelas Ali.
Pesawat nirawak akan digunakan untuk memetakan titik api, memantau arah penjalaran kebakaran, dan menentukan sasaran prioritas. Kapal juga dapat membawa logistik, peralatan pemadaman, serta kebutuhan personel.
Presiden Prabowo Subianto mengatakan kemampuan membawa banyak helikopter dapat mempercepat respons terhadap karhutla.
“Kalau kita mempunyai 10 helikopter, semuanya bisa segera merapat ke titik api yang paling banyak. Ini akan sangat membantu respons kita,” katanya dalam rapat terbatas penanganan bencana, Senin (7/9).
Siapkan 400 Awak
Sebanyak 400 personel TNI AL disiapkan untuk mengawaki KRI Sriwijaya. Seratus personel telah berada di kapal, sedangkan 300 lainnya masih menyelesaikan pelatihan.
Sebagian awak mengikuti familiarisasi di Pangkalan Angkatan Laut Italia di Taranto. Pengawakan bersama personel Italia selama pelayaran menuju Indonesia menjadi bagian dari transfer pengetahuan.
Setelah serah terima, kapal masih harus menjalani modernisasi untuk menyesuaikan teknologi, fasilitas, dan sistem operasinya dengan kebutuhan TNI AL serta karakter perairan tropis Indonesia.
Karena itu, KRI Sriwijaya belum dapat langsung dikerahkan dalam penanganan karhutla tahun ini. Kapal tersebut dipersiapkan sebagai kekuatan jangka panjang agar operasi udara tidak sepenuhnya bergantung pada pangkalan di daratan.
Infografis
Peran KRI Sriwijaya
- Dek penerbangan: menampung lebih dari 10 helikopter.
- Pangkalan pesawat nirawak: memantau titik api dan arah penjalaran kebakaran.
- Tangki avtur: mendukung pengisian bahan bakar helikopter.
- Ruang logistik: membawa peralatan dan kebutuhan operasi.
- Pusat komando: mengoordinasikan misi pemadaman.
- Hanggar: mendukung penyimpanan dan perawatan armada udara.
Skema Operasi Karhutla
- Mendekati wilayah kebakaran
Kapal bergerak menuju perairan terdekat dari konsentrasi titik api. - Drone memetakan sasaran
Pesawat nirawak memantau lokasi, arah api, dan kawasan prioritas. - Helikopter lepas landas
Armada udara bergerak dari dek kapal menuju wilayah kebakaran. - Air dijatuhkan
Helikopter melakukan water bombing pada sasaran yang telah ditentukan. - Kembali dan bersiap
Helikopter kembali untuk mengisi avtur dan menjalani pemeriksaan, kemudian mengambil air dari sumber terdekat untuk misi berikutnya.
Data Kunci
| Keterangan | Data |
|---|---|
| Nama lama | Giuseppe Garibaldi |
| Nama baru | KRI Sriwijaya |
| Negara asal | Italia |
| Serah terima | 24 September 2026 |
| Kapasitas | Lebih dari 10 helikopter |
| Awak TNI AL | 400 personel |
| Fungsi | Operasi militer dan penanggulangan bencana |
| Armada udara | Helikopter TNI AL, AD, dan AU |
| Pendukung | Drone, avtur, logistik, dan peralatan pemadaman |
Editor : Aristono Edi Kiswantoro