PONTIANAK POST - Indonesia membuka peluang investasi China untuk membangun jaringan kereta api Trans-Kalimantan sepanjang 2.772 kilometer.
Proyek raksasa tersebut diproyeksikan menghubungkan berbagai wilayah di Kalimantan yang selama ini belum memiliki jaringan kereta api umum yang beroperasi.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyebut China dan Rusia telah menunjukkan minat terhadap proyek tersebut.
Pemerintah kini masih menjajaki bentuk investasi yang memungkinkan untuk merealisasikan jaringan kereta tersebut.
Baca Juga: Kereta 2.772 Km di Kalimantan Dibidik China, Warisan Utang Whoosh Jadi Perhatian
China Punya Modal Pengalaman
Minat China menjadi perhatian karena negara tersebut memiliki pengalaman panjang dalam pembangunan jaringan perkeretaapian.
Salah satu buktinya adalah Whoosh, kereta cepat Jakarta-Bandung sepanjang 142,8 kilometer.
Peneliti senior ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura, Siwage Dharma Negara, menilai pengalaman tersebut dapat menjadi modal penting bagi China jika dipercaya membangun jaringan di Kalimantan.
Baca Juga: Ketimpangan Infrastruktur Kalimantan Mencuat, Kereta Api Trans-Kalimantan Jadi Sorotan
“Saya pikir China dapat menawarkan Indonesia ekosistem perkeretaapian yang lengkap, termasuk pembiayaan, keahlian teknik, teknologi, dan personel berpengalaman,” ungkapnya dikutip dari SCMP (27/9).
Menurutnya, pengalaman pembangunan Whoosh juga telah menunjukkan kemampuan teknis kontraktor China dalam mengerjakan proyek perkeretaapian berskala besar.
Medan Kalimantan Jadi Tantangan
Namun, membangun rel ribuan kilometer di Kalimantan bukan pekerjaan sederhana. David Feng, spesialis perkeretaapian independen, menilai pengalaman China mengerjakan proyek di berbagai kondisi geografis dapat menjadi keunggulan.
“China telah melakukannya di seluruh negerinya sendiri, jadi dari segi geologi mereka memiliki semuanya,” tuturnya.
Feng mengingatkan kondisi Indonesia memiliki tantangan tersendiri, termasuk kelembapan dan kondisi medan yang tidak stabil.
“Di Indonesia, mereka mungkin memiliki kelembapan yang jauh lebih tinggi, medan yang tidak stabil, dan hal-hal semacam itu,” tambahnya.
Baca Juga: Prabowo Sudah Minta Kereta Api Kalimantan Dimulai, Mengapa Rutenya Belum Terungkap?
Jika terealisasi, jaringan Trans-Kalimantan bukan hanya menjadi proyek transportasi, tetapi juga dapat memperkuat konektivitas kawasan kaya sumber daya dan mendukung pengembangan ekonomi hingga 2045.
Meski demikian, proyek tersebut masih berada pada tahap penjajakan dan belum memiliki kepastian mengenai skema investasi maupun waktu pembangunan.
Editor : Khoiril Arif Ya'qob