Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Tradisi Ruwah Di Bulan Syakban; Ini Penjelasannya dalam Islam

Salman Busrah • Jumat, 23 Februari 2024 | 09:19 WIB
Photo
Photo

Istilah tradisi ruwah dalam masyarakat nusantara sejak lama sudah dikenal. Menunjukkan indikasi kepercayaan yang dilandasi religi dan falsafi, yakni terdapat keterhubungan antara jasad dan roh (jamak arwah). Baik roh maupun ruwah.

Penduduk nusantara membacanya ada dengan sebutan roh dan sebutan ruwah. Keduanya memiliki arti yang sama, minimal mengarah kepada wujud nonmateri, transenden, supranatural, dan sejenisnya.

Meyakini bahwa kematian adalah perpindahan alam yaitu keterpisahan jasmani dan rohani sudah menjadi keyakinan semua agama. Walau terdapat perbedaan sesuai dengan kitab suci mereka masing-masing. Perpindahan alam bukan menunjukkan hubungan (relasi) antara yang hidup dan yang mati terputus.

Penggunaan kata hidup dan mati hanya sekadar menunjukkan perbedaan alam saja, tidak berarti terputus. Dengan nota selama keduanya beriman kepada Allah, beriman kepada Rasulullah Muhammad SAW dan beramal saleh.

Disamping itu, secara duniawi, surat kematian menjadi tanda mengeluarkan seseorang dari status kekeluargaan, kependudukan, kewarganegaraan. Dan penghapusan hak-hak sipil lainnya.

Item apakah yang masih terhubung antara yang hidup dengan yang mati? Nama, sifat, perbuatan, diri rohani. Keempat wujud inilah yang selalu terhubung, sehingga tidak tersekat oleh kematian.

Dengan catatan selama mereka mengimani Nur Muhammad sebagai pembawa risalah (rasul) nama, sifat, af'al (perbuatan), diri rohani. Tersampaikan kepada Tuhan melalui utusan resmi (birasulillah). Bila tidak, roh (jamak arwah) akan mengalami kepayahan dalam perjalanan akhiratnya.

Ada roh yang sesat jalan bermil-mil sambil terseok-seok dalam gumpalan asap hitam. Ada roh yang terbakar hangus seperti kayu yang gosong. Ada roh yang termangu, tidak tahu untuk berbuat apa? Ada pula roh yang mencari kayu bakar untuk membakar dirinya, sebuah gambaran penyesalan diri yang tidak berkesudahan.

Ada lagi roh yang berdiam di rumah yang kosong dengan atap yang cabik-cabik dan tiang rumah yang hampir roboh, sementara disekitarnya tumbuhan kering yang siap dilalap api.

Didapati pula roh yang menjadi kuli sebagai pembakar roti dengan pakaian yang lusuh, badan yang kurus, bekerja tanpa upah yang sangat meletihkan dan melelahkan sepanjang masa. Semua ini merupakan gambaran ruh manusia yang berdosa, tidak mengenal Tuhan, tidak beriman kepada-Nya, mengingkari Muhammad SAW.

Gambaran dari mi'raj Rasulullah SAW dan mimpi para waliyullah rahimahullah tersebut menunjukkan bahwa roh yang sesat setelah kematian adalah manusia yang semasa hidup tidak peduli (abai) terhadap tujuan hidup (untuk apa aku dihadirkan). Lupa dengan posisi yang sekarang (dimana aku), lupa akan tempat kembali akhirat (kemana aku).

Roh yang mencari kayu bakar, lalu membakar dirinya adalah gambaran ruh manusia yang suka menfitnah, mengadu domba (namimah), gosip (ghibah), saksi palsu (qaulaz-zur).

Ada pula roh yang hangus terbakar seperti kayu yang gosong dan keadaan diri yang berasap hitam, wajahnya gelap dan pekat, itulah gambaran ilmuwan yang gemar merubah data dan angka, jual beli jabatan, penyelewengan kekuasaan, memakan uang beasiswa dengan cara yang haram, serta KKN (korupsi, kolusi, nepotisme). Kemudian, tamsil roh yang berada di rumah yang sebentar lagi roboh adalah visualisasi ruh yang menipu dengan dalih menolong.

Agunan rumah yang berakhir menjadi hak milik tanpa sah secara agama dan negara. Sedang Si tukang roti yang hina merupakan visualisasi ruh yang durhaka kepada bunda dan ayahnda semasa hidup di dunia. Ibu yang telah menjadi kulinya, dan anak yang berlaku kasar kepada ayahnda. Sebagai tanda harikiamat adalah tiada ibu yang melahirkan dari rahimnya, kecuali dia akan melahirkan tuannya (anak yang durhaka).

Ada pula gambaran roh yang menggunting lidahnya dan menggunting kemaluannya hingga terpotong-potong, dua gambaran orang yang suka berdusta dan gemar berzina.

Ada pula roh yang menghancurkan kepalanya ke batu besar. Setiap kali utuh kepalanya dipukulkan lagi ke batu, begitu seterusnya. Untuk Kami rasakan siksa selamanya tanpa berkesudahan.

Berkata Jibril, "Itulah tamsil umat Muhammad SAW yang tidak mau sujud kepada Allah SWT."

Sebaliknya, hadir pula ruh (jamak arwah) orang-orang yang saleh (shalihun), dan orang-orang yang jujur dalam iman (shiddiqun) yang memiliki istana di dalam jannah.

Derajat bertingkat tinggi adalah roh yang memiliki rumah besar serta menyimpan jutaan kamar dan pemilik perumahan seluas mata memandang, dilengkapi dengan kolam pemancingan.  Sisi kanan dan kiri terdapat kebun-kebun dengan aneka macam buah, persawahan dan kolam renang. Kepunyaan siapakah gerangan, rumah seluas itu dan dilengkapi dengan fasilitas yang lebih sempurna?

Anugerah tersebut Tuhan berikan kepada Nabi Muhammad SAW dan guru- guru spiritual yang berjuang memperkenalkan Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan kepada manusia.

Mereka berderajat wali (jamak auliya) Allah SWT. Mereka kaum'arifin billah dan menyediakan para pendatang baru untuk menempati kamar-kamar yang disediakan, dan perumahan yang lengkap dengan perabotan yang lux.

Dengan catatan selama di dunia, mereka termasuk kaum beriman dan istikamah dalam iman, ilmu, ihsan. Dalam sanad ilmu yang mentauhidkan (mengesakan) Allah dengan tauhid yang benar (pure monotheisme), bukan monotheisme semu.

Lalu, dimana letak urgensi (kepentingan) doa arwah di bulan ruwah (Syakban)? Apa signifikansi (kebermaknaan) doa arwah bagi ruh yang baik dan bagiruh yang jahat? Sebelumnya harus dipahami, tradisi ruwah dapat diartikan sedekah untuk arwah dari orang yang masih hidup.

Minimal sedekah adalah doa. Namun, doa tidak akan melesat dengan cepat seperti anak panah yang terbang dari busurnya. Doa yang segera terkabul (lebih-lebih) untuk arwah selayaknya diawali dengan sedekah. Kemudian dirancang di bulan Syakban dalam bentuk tradisi ruwah yaitu sedekah dan doa untuk arwah. Sebab, orang yang telah mati sangat berhajat kepada orang yang masih hidup. Terutama doa, haji dan umrah yang dibadalkan untuk almarhum dan almarhumah, serta sedekah atas nama mereka yang telah wafat.

Demikian betapa mulia bulan Syakban. Jangan dilewatkan tanpa doa kepada orang-orang tersayang dan terkasih yang lebih dahulu menghadap Tuhan. Sambungan sayang adalah doa arwah untuk mereka, sambungan kasih adalah bersedekah atas nama almarhum ayahnda, dan bersedekah atas nama almarhumah ibunda.

Hubungan cinta adalah membadalkan haji dan umrah untuk mendiang kedua orang tua, supaya kelak dipertemukan di jannah Firdausi. Bagi semua yang masih hidup selalu memanjatkan doaselama kesempatan masih tersisa separuh Syakban.

"Allahumma bariklana fi Sya'ban, wa ballighna Ramadhan. (Wahai Allah Tuhan kami, berkati kami di bulan Syakban, dan sampaikan umur kami di bulan Ramadan). Salawat dan salam atas Nabi Muhammad beserta keluarganya. Walhamdulillahi rabbil 'alamin.**

Ma’ruf Zahran Sabran

Penulis adalah dosen IAIN Pontianak

Editor : Salman Busrah
#tahlilan #puasa #syakban