Oleh: Agus Handini*
Dalam perjalanan hidup, kita tak pernah lepas dari peristiwa, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan. Pengalaman menyenangkan akan membekas sebagai kenangan indah. Sebaliknya, pengalaman pahit sering kali menorehkan luka emosional yang dalam, yang kita kenal sebagai trauma. Sayangnya, tidak semua dari kita memiliki ruang aman untuk mengungkapkan atau bahkan sekadar mengenali luka tersebut.
Perlu kita pahami bersama bahwa kenangan sejatinya bukan hanya sekadar memori. Ia adalah perpaduan antara ingatan dan emosi. Maka ketika emosi yang melekat pada sebuah peristiwa bersifat negatif, kenangan itu pun menjadi beban yang sulit dilupakan. Sebaliknya, jika emosi yang menyertainya positif, maka kenangan itu akan tersimpan sebagai sesuatu yang manis dan menguatkan.
Trauma bukanlah sekadar ‘terluka secara emosional’. Ia adalah bentuk pengalaman menyakitkan yang bisa berdampak jangka panjang pada kesehatan mental dan emosional seseorang. Dalam memahami trauma, kita tidak bisa hanya mengandalkan penilaian sepihak. Diperlukan pandangan lintas teori dan pendekatan yang menyeluruh untuk benar-benar memaknai dan membantu proses penyembuhan.
Beberapa teori dalam psikologi mencoba menjelaskan bagaimana trauma bekerja. Pertama, psikoanalisa freud menurut sigmund freud. Trauma adalah kenangan menyakitkan yang ditekan masuk ke dalam alam bawah sadar. Jika tidak diproses, tekanan ini akan muncul dalam bentuk kecemasan, stres pascatrauma (PTSD), atau depresi. Pendekatan ini menekankan pentingnya terapi untuk mengakses dan mengolah trauma, seperti melalui hipnoterapi, analisis mimpi, atau teknik grafis.
Kedua, teori belajar sosial trauma bisa dipelajari. Misalnya, seseorang yang mengalami kecelakaan mobil mungkin mengembangkan rasa takut setiap kali berada di dalam kendaraan. Ini adalah bentuk pengkondisian yang membuat trauma semakin mengakar karena terus dikaitkan dengan rangsangan tertentu.
Ketiga, pendekatan neurobiologis trauma tidak hanya menyentuh psikis; ia juga mengubah cara kerja otak. Aktivitas di amigdala meningkat (pusat ketakutan), sementara korteks prefrontal (pengatur keputusan) menurun. Inilah yang menyebabkan penderita trauma sulit mengatur emosi atau selalu dalam keadaan siaga berlebihan.
Keempat, trauma kompleks. Trauma yang terjadi secara berulang dan dalam jangka panjang—seperti kekerasan dalam rumah tangga atau pelecehan seksual—meninggalkan bekas yang lebih dalam. Gangguan kepribadian, gangguan makan, atau penyalahgunaan zat sering kali menjadi efek lanjutannya.
Lantas, bagaimana peran lingkungan sekitar? Setiap individu yang mengalami trauma seharusnya diberi ruang untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya tanpa dihakimi. Ini penting agar ia dapat mengenali emosi yang selama ini ditekan dan mulai menapaki jalan penyembuhan. Di sinilah peran support system menjadi vital, bukan untuk memberi solusi instan, tetapi untuk hadir, mendengar, dan memahami.
Terkadang, pengalihan sederhana dari masalah bisa menjadi langkah awal yang penting. Bukan untuk menghindari trauma, tapi untuk memberi jeda agar seseorang tidak terjebak terlalu dalam dalam rasa sakitnya. Setelah itu, penting untuk membantu individu tersebut mengenali dan menamai emosinya, lalu mencari makna logis yang dapat ia terima.
Alquran tidak secara spesifik membahas "trauma" seperti yang dipahami dalam konteks psikologi modern. Namun, Alquran membahas berbagai emosi dan pengalaman manusia yang dapat berkontribusi pada trauma, seperti kesedihan, ketakutan, dan kehilangan.
Ketika seseorang mampu menerima luka batinnya sebagai bagian dari takdir, bukan sebagai beban semata, maka proses penyembuhan pun menjadi lebih ringan. Penyerahan diri kepada Allah menjadi bentuk penerimaan paling utuh terhadap masa lalu.
Trauma bukan akhir dari segalanya. Ia bisa menjadi awal dari pertumbuhan. Dengan sikap positif, trauma bisa menjadi guru kehidupan. Luka bisa menjadi pelajaran. Dan setiap pelajaran adalah langkah menuju penerimaan diri yang lebih dalam. Wallahualam bisawab.**
*Penulis adalah Dosen Psikologi dan Psikolog di IAIN Pontianak.
Editor : Hanif