Oleh: Dr Abidin*
Gagasan Presiden Prabowo memutus rantai kemiskinan pada Keluarga Indonesia berpendapatan rendah, memiliki evidens kuat yaitu model “Sekolah Rakyat” yang dibangun Prabowo Subianto di Belu, Nusa Tenggara Timur tak jauh dari perbatasan Timor Leste tahun 2021, saat menjabat Menteri Pertahanan RI.
Saya mendapat gambar jelas dan optimis dari diskusi bebas hangat berkualitas bersama narasumber Letjen TNI (Purn) Agus Sutomo (selain menjabat Jabatan strategis, juga jabatan ummat yaitu Ketua Pengurus Wilayah IPHI DKI Jakarta), didampingi Mayjen TNI (Purn) Ahmad Yani Basuki (Ketua Umum PP IPHI), Mayjen TNI (Purn) Cucu Somantri).
Hadir juga Tokoh Masyarakat Jakarta/Betawi H Zainuddin,SH,SE (juga dikenal sebagai Bang Oding), Ustadz DR.HM.Sodri,SM,MA, Ibu DR.Hj.Riadi Jannah Siregar,MA dan sejumlah tokoh lainnya, serta Bung M.Amin yang mengorganisir acara Silaturrahmi. Terungkap bahwa Konsep Sekolah Rakyat yang diusulkan oleh Prabowo Subianto, ketika masih calon presiden Indonesia, mengungkapkan bahwa Sekolah Rakyat bertujuan untuk meningkatkan akses pendidikan berkualitas bagi masyarakat Indonesia, terutama bagi mereka yang kurang mampu atau dalam katargori dunia disebut sebagai keluarga miskin.
Sekolah yang tak biasa dan berbeda ini, memiliki kurikulum yang relevan dengan kebutuhan zaman dan industri. Didukung guru-guru yang berkualitas dan terlatih. Pembangunan Sekolah Rakyat, selain meningkatkan akses Pendidikan bagi mereka yang kurang mampu, juga meningkatkan kualitas Pendidikan agar anakanak Indonesia dapat bersaing di era global.
Sekolah Rakyat Sudah Dimulai
Sekolah Rakyat sudah “di-gaspol” sejak Pelantikan Kabinet Merah Putih 21 Oktober 2024. Belum diagendakan dalam APBN 2025, namun dengan semangat, tekad dan pengalaman, Pembangunan Sekolah Rakyat sudah dimulai dengan target dalam 3 (tiga) tahun telah berdiri 514 Unit, masing-masing 1 unit pada 514 Kabupaten/Kota se Indonesia. Konsep Sekolah Rakyat Prabowo Subianto bertujuan untuk meningkatkan akses atau kesempatan bersekolah bagi semua anak Indonesia dan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, semua akan bermuara pada setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk sukses dimasa depan.
Kriteria Sekolah Rakyat berdiri diatas lahan 5 Hektar dengan fasilitas Sekolah yang menampung 1.000 (seribu) orang setiap tahun Pelajaran sejak tahun pertama, dari tingkat Dasar, Menengah Pertama dan Menengah Atas. Diatas lahan juga dibangun Asrama Siswa, Kolam Renang dan Lapangan Olahraga, serta fasilitas Kesehatan sederhana dan lainnya, Mess khusus untuk Orang Tua siswa yang datang berkunjung untuk selama 2 hari dengan semua fasilitas gratis. Semua siswa mendapatkan semua kebutuhannya Gratis selama Pendidikan termasuk Makanan, Pakaian, Kesehatan dan Perlengkapan Belajar, Olahraga dan pelayanan Kesehatan.
Tahun 2025 dimulai dengan mendirikan 100 unit pada 100 Kabupaten/Kota, Tahun 2026 menjadi 300 Unit dan tahun 2027 menjadi 514 Unit diseluruh Indonesia. Siswanya adalah semua anak dari keluarga kurang mampu diwilayah tersebut. Tahun 2025 akan ada 100.000 siswa. Tahun 2026 sebanyak 300.000 siswa, tahun 2027 menjadi 514.000 siswa. Pada tahun 2027 jumlah siswa Sekolah Rakyat menjadi 914.000 orang. Setelah 2028 terjadi pertambahan 514.000 siswa setiap tahunnya. Hingga kelas 3 SMA (12 tahun belajar) di tahun 2038-2039 kumulasi siswa belajar akan berjumlah lebih 6.000.000 orang !!. Dan setiap Tahunnya ada sekitar 514.000 orang lulusan tingkat SMA yang memasuki Pasar kerja ataupun melanjut ke Perguruan Tinggi dan Vokasi.
Sekolah Rakyat Teladan Kesehatan
Sebagai Observer Kesehatan dan Kordinator WA-Group Menua Bermartabat dengan komunitas lebih 400 Tokoh Nasional berusia lanjut, ingin memperkaya gagasan ini agar tidak hanya melahirkan generasi terdidik, tetapi juga cerdas dan sehat berkualitas, agar mampu kuat bijaksana hingga berumur panjang. Ada factor risiko yang perlu diantisipasi, yaitu Imunitas setiap orang terhadap penyakit yang diturunkan (genetic), atau ditularkan dan atau karena kesalahan sendiri.
Untuk itu semua, semua siswa harus mendapat pengetahuan dan keterampilan untuk mengantisipasi dan menatakelola factor risiko sakit, baik yang sudah ada dalam dirinya, atau mencegah yang mengancam kesehatannya. Sejalan dengan teori Hendrik Blum, seorang ahli Public Health asal Inggris, pada tahun 1974 menemukan 4 Faktor yang menentukan Status Kesehatan setiap orang, setiap faktor memiliki tingkat kekuatan yang berbeda.
Faktor Lingkungan mempengaruhi 50% status kesehatan. Perilaku 30%. Genetik/Penyakit yang diturunkan dari Orang tua 10%. Dan Upaya Kesehatan hanya 10%. Adalah pandangan yang salah jika kita mengandalkan Kesehatan diri dan keluarga kepada Fasilitas Kesehatan. Karena penyebab terbesar ada pada lingkungan hidup dan Perilaku setiap orang. Setiap Siswa harus diberi ajaran untuk Sadar Lingkungan dengan Pengetahuan dan Keterampilan menjadikan Sanitasi dan Lingkungan hidup yang bersih berkualitas, serta membangun Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang diterapkan secara disiplin penuh agar kelak menjadi role model ditengah Masyarakat sebagai bahagian dari keteladanan alumni Sekolah Rakyat. Dengan demikian Siswa Sehat dan jadi Teladan Kesehatan ditengah Masyarakat.
Sekolah Rakyat Melahirkan Generasi Emas
Jika kurikulumnya selain penguatan Fisik, Mental, Kejujuran, Kesehatan, Keimanan dan Kebangsaan, tetapi juga diperkaya Keterampilan, maka 6 Juta lulusan Angkatan pertama paket Sekolah Rakyat (SD, SMP, SMA) bisa langsung masuk lapangan kerja, sebagai tenaga muda yang handal dan terampil yang berguna dan terpercaya. Dan tentu telah memiliki pendapatan finansial yang dapat membantu Orangtua dan menabung untuk Rencana hidupnya sekaligus mengawali proses pengentasan kemiskinan setiap Keluarga di Indonesia.
Jika sebahagian diantaranya melanjut ke Perguruan Tinggi, maka tahun 20442045 mereka sudah menjadi Sarjana dengan Indeks Prestasi yang dapat dijamin membanggakan. Pikiran saya menerawang, mendengar diskusi bebas dan hangat dengan narasumber hebat Pak Agus Sutomo, mulai Tahun 2040, akan ada 514.000 keluarga, keluar dari status Keluarga Miskin atau Keluarga Kurang mampu SETIAP TAHUNNYA. Dan pada tahun 2045 dimulai dari 3.000.000 dan dalam 10 tahun mencapai 30.000.000 Keluarga bebas dari status Kurang Mampu melalui Pendidikan Sekolah Rakyat dengan Siswa/Lulusan yang Cerdas, Berakhlak, Teladan dan Sehat Berkualitas.
Sungguh ide Pengentasan Kemiskinan yang Nyata, dan Nyata pula Indonesia Emas akan kita raih, bukan Indonesia yang semula dicemaskan. Sekolah Rakyat melahirkan Generasi Emas dan sekaligus Mengentaskan Kemiskinan di Indonesia, mewujudkan Indonesia Emas 2045.
*Penulis adalah Observer Kesehatan-Sekretaris Jenderal PP IPHI
Editor : Miftahul Khair