Oleh: Ferdianus Jelahu, S.Pd*
Perekembangan artificial intelligence saat ini sangat signifikan. Perkembangan kecerdasan buatan ini menimbulkan kegelisahan bagi sebagian orang. Sebagian orang lain lagi, rasanya senang dengan perkembangan kecerdasan buatan ini. Yang cenderung membuat kegelisahan karena tidak liyan menggunakan teknologi. Sedangkan bagi yang senang perkembangan teknologi lebih dilihat manfaat kegunaannya. Namun, ada satu dampak lain yang memikat otak kita supaya ada rasa ketergatungan dengan teknologi yakni daya tarik terhadap fitur yang ada. Umpan balik desain fitur yang membuat kita tidak bisa lepas dari gawai. Ketegatungan yang berlebihan menyebabkan “keenakan”. Tidak lagi mencari dan menggali informasi secara lebih mendalam berdasarkan kemampuan intelektual.
Kegelisahan itu muncul karena kurang up date perkembangan teknologi saat ini. Bisa merasa ‘terkejut” sehingga sulit menerima perubahan itu terjadi. Kedua, tidak mau tahu tentang perubahan kecerdasan buatan yang terkoneksi hampir semua fitur aplikasi online. Penolakan ini tidak hanya terjadi di kalangan masyakarat, dalam dunia pendidikan sekalipun masih ‘kaku’ pemanfaatan AI dalam kegiatan pembelajaran.
Menurut Witono (2025:170) dalam buku Pendidikan Nilai Merajut Masa Depan ada beberapa masalah yang sulit diterapkan karena kurangnya pengalaman di kalangan pendidik, seringkali mengakibatkan buruknya penerapan atau kurang dimanfaatkannya teknologi baru. Di lain sisi ada juga keterbatasan sumber daya dan minimnya standarisasi semakin mempersulit proses adopsi.
Perubahan menuntut jawaban dari generasi masa kini agar mampu menjawab tantangan di masa depan. AI perkembangan yang tak bisa dihindari. Bahkan, dari waktu ke waktu perubahan AI akan terus meninjau kebutuhan manusia masa kini. AI tahu apa yang sedang dibutuhkan manusia masa kini? Desain pemrograman AI pun semakin merekayasa agar kita terus mengakses tiap saat.
Perkembangan yang sangat pesat ini memberikan berbagai dampak terhadap dimensi kehidupan manusia, baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial dan politik. Meninjau perkembangan ini, peranan manusia sangat menentukan intensitas IA dapat digunakan ke arah yang mana?
Mendiang Paus Fransiskus (2025:7-8) dalam dokumen Antiqua et Nova, bahwa “Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan bentuk usaha-usaha manusia lainnya, sebagai bagian dari kerjasama antara manusia dan Allah dalam menyempurnakan ciptaan yang tak kelihatan” (AN, 2). Pendidikan harus menjawab perubahan dan tantangan zaman secara bijaksana. Cukup menarik untuk dikaji lebih mendalam bahwa kemajuan teknologi dan usaha manusia merupakan dua hal yang tidak terpisah. Keduanya saling melengkapi. Teknologinya maju karena ada usaha manusia untuk menciptakan teknologi baru. Tanpa ada usaha manusia, maka teknologi itu tidak akan ada. Dalam perkembangan selanjutnya, pun ada karena ada usaha manusia sebelumnya.
Newport (2024:15) dalam bukunya yang berjudul “Digital Minimalism” seorang tokoh, Harris setelah keluar dari perusahan Google mendirikan organisasi nirlaba yang disebut Time Well Spent dengan misi menuntut teknologi untuk melayani kita, bukan beriklan kepada kita, serta memperingatkan masyarakat tentang sejauhmana perusahan teknologi akan mencoba membajak pikiran manusia. Perspektifi ini menjadi kenyataan dalam hidup sehari-hari, dimana tiap orang sibuk dengan gawainya sendiri. Lebih konsentrasi scroll gawai di tangan dari pada menyapa orang yang sedang lewat depan kita.
Berbeda dengan beberapa tokoh yang diuraikan oleh Newport (2024:35-43), misalkan Tyler (dari pengguna medsos menjadi tidak pengguna), Adam (pengusaha kecil yang selalu menggunakan koneksi internet untuk kelancaran usaha menjadi sadar betapa pentingnya hidup di luar layar ponsel). Charles (dari media daring ke langganan media cetak) dan Dave (dari banyak pengguna media, menjadi pilihan hanya satu, instagram). Mereka adalah penganut paham minimalis digital yang menyebabkan penolakan atas beragam layanan perangkat teknologi yang umumnya dipadang budaya kita sebagai sesuatu yang dimiliki. Bagi mereka masih ada nilai-nilai yang lebih fundamental perlu dilakukan di luar layanan koneksi internet dan itu jauh lebih bermanfaat dan indah.
Mendiang Paus Fransiskus dalam Dokumen Antiua et Nova bahwa pengalaman perjumpaan sangat penting karena melibatkan pengalaman, fisik, sosial emosi, kongitif, dan spiritual dalam kehidupan (AN, 32) yang tidak bisa temukan dalam AI. Kecerdasan manusia bukanlah kemampuan yang terisolasi, tetapi digunakan untuk berelasi dan menemukan ekspresinya yang paling penuh dalam dialog, kolaborasi, dan solidaritas Kita belajar dengan orang lain, dan kita belajar melalui orang lain (AN, 18). Perspektif inilah yang sebetul tidak ada dalam AI. Kemampuan AI adalah menganalisis data secara kalkulatif bukan berpikir kritis berdasarkan kenyataan (kondisi riil) yang ada. Paus menyimpulkan bahwa kecerdasan buatan (AI) memiliki dimensi kontemplatif yang hakiki, keterbukaan tanpa pamrih terhadap kebenaran, kebaikan, dan keindahan, melampaui tujuan utilitarian apa pun (AN, 29).
Mengapa Membuat Candu?
Berbagai fitur aplikasi yang ditawarkan menjadi sangat menarik untuk menstimulus otak terus-menerus mengskrol fitur-fitur yang ada dalam layar ponsel. Semua fitur itu didesain sedemikian rupa sehingga daya kerja otak kembali pada fitur yang tersemat dalam layar gawai. Newport (2024:21) mengatakan bahwa kasus kecanduan teknologi baru bukanlah kebetulan, melainkan fitur desain yang direkayasa dengan cermat. Kecanduan ini bisa memikat otak manusia agar kembali kepada layar gawai. Dalam layar gawai itu, program membuat semua orang secara impulsif (bertindak secara spontan) untuk selalu kontrol dengan layar gawai, di sana terjadi umpan balik untuk membuat diri sulit menolak.
Semua orang mengalami hal, apalagi berada di generasi Alpha saat ini, generasi yang dekata dengan teknologi. Sulit rasaya untuk menolak untuk melihat layar gawai. Berbagai pengalaman generasi X yang merupakan generasi berada di tengah perkembangan teknologi. Generasi ini pun, selalu ingin belajar tentang perkembangan teknologi, misalkan awal-awal menggunakan aplikasi WhatApp, generasi X dengan giat belajar menggunakan WhatApp. Setelah tahu menggunakan WhatApp lanjut ke aplikasi lain seperti Tiktok, Instagram, dll. Daya pikat terhadap perkembangan teknologi yang tersemat didalamnya Artificial Intelligence menentukan daya tarik tersendiri. Mendiang Paus Fransiskus dalam Dokumen Antiqua et Nova (2025:13), menegaskan bahwa fitur-fitur canggih pada AI memberikan kemampuan canggih untuk melakukan tugas, tetapi bukan kemampuan untuk berpikir (AN, 11).
Lebih lanjut menurut mendiang Paus Fransiskus dalam dokumen yang sama, Antiquam et Novum (2025:11-12) menguraikan bahwa kecerdasan adalah kemampuan yang berkaitan dengan orang tersebut secara keseluruhan. Sedangkan dalam konteks AI, ”kecerdasan” dipahami secara fungsional, sering kali dengan anggapan bahwa aktivitas yang menjadi ciri pikiran manusia dapat dipecah menjadi langkah-langkah digital yang dapat ditiru oleh mesin (AN, 10). Paus mengingatkan bahwa AI tidak boleh dilihat sebagai bentuk artificial kecerdasan manusia tetapi hanyalah sebuah produk kecerdasan manusia (AN, 35).
Kolaborasi AI dan Kecerdasan Manusia
Teknologi terus berkembang sesuai dengan target yang diinginkan. Apapun kemajuan teknologi yang paling penting bahwa manusia tetap memberikan keputusan. Pilihan ada dua, teknologi itu membawa manfaat atau tidak! Kalau membawa manfaat kita dapat menggunakan menjadi lebih baik untuk membantu berbagai macam hal. Perkembangan teknologi yang kalkulatif bukan pemikir kritis, semantara manusia memiliki domain penting dalam membangkitkan pemikiran kristis berdasarkan pengalaman personal, kolektif yang ditemukan secara langsung akan memperkaya pengalaman belajar. Inilah yang tidak dimiliki oleh AI. AI terus menganalisis data secara komputisonal. Sementara perjumpaan antarpribadi tidak dapat ditemukan dalam perkembangan IA. Meskpun ada tantangan yang lebih besar untuk masa depan AI dapat secara efektif meniru kecerdasan manusia, kemampuan untuk mengetahui apakan berinteraksi dengan manusia atau mesin tidak dapat lagi dianggap reme (AN,59).
AI menjadi bagian yang tak terpisahkan dari karir kita saat ini. Apapun profesi kita. AI selalu hadir menawarkan produk-produk yang menarik yang memikat kita untuk selalu menjadi teman perjalanannya. Kita perlu belajar dari beberapa tokoh seperti Tyler, Adam, Charles, Dave yang berani memberikan keputusan untuk memilih yang lebih bermafaat daripada sekedar menghabiskan waktu bersama layar gawai. Hendranto (2024:51) mengutip hasil riset electrohubs.org dalam majalah rohani edisi Desember dikatakan bahwa setiap orang di dunia rata-rata menghabiskan 6 jam 37 menit per/hari di depan layar digital. Tanpa menghitung jam tidur, jika dikonversi dalam persentase, maka rata-rata orang menggunakan 40 persen waktunya dalam sehari untuk tenggelam dengan gawainya. Di Indoensia, persentase waktu layar (screen time) masyarakat adalah 46 persen sehari, lebih tinggi dari pada rata-rata dunia. Indonesia menempati peringkat ke 4 di ASEAN setelah Filipina, Thailand, dan Malaysia.
Semoga kita terus belajar dari pengalaman personal dan bersama orang lain. Kemajuan teknologi membantu kita untuk memperdalam kemampuan untuk memilah dan memilih ruang memanfaatkan teknologi sebagai kelengkapan kecerdasan kita.**
*Penulis adalah Kepala SMP Bruder Pontianak, Alumnus USD Yogyakarta, Mahasiswa Pascasarjana Prodi AP Untan Pontianak.
Editor : Hanif