Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Hijrah Meretas Batas: Refleksi Budaya Pelesir Antarbangsa untuk Generasi Muda

Aristono Edi Kiswantoro • Minggu, 14 September 2025 | 15:37 WIB

 

Thamrin Usman bersama istri saat di Tugu Hachiko, depan  Stasiun Shibuya, Tokyo, Jepang.
Thamrin Usman bersama istri saat di Tugu Hachiko, depan Stasiun Shibuya, Tokyo, Jepang.

PERJALANAN lintas bangsa bukan sekadar berpindah tempat, melainkan proses transformasi intelektual dan spiritual yang membuka pintu kesempatan hidup dan karier.

Budaya Jepang dan Korea mengajarkan bahwa perjalanan kawah candradimuka bukan hanya pengembaraan, tetapi juga penyerap inspirasi dan keterampilan.

Tulisan ini mengajak generasi muda untuk berani berhijrah, menapaki jalan perubahan menuju kemajuan yang berkelanjutan.

 

Budaya Pelesir Jepang: Ide Jeli dari Jepretan Kamera

Turis Jepang yang sederhana dalam berpakaian dan membawa kamera menjadikannya sebagai alat menangkap ide, bukan sekadar foto.

Mereka merekam detail yang kemudian diolah menjadi produk unggulan yang diekspor ke seluruh dunia.

Pendekatan strategis ini membuat Jepang, meski negeri kecil, dikenal dengan kecerdasan dan inovasi yang mengagumkan.

Inilah pembelajaran tentang bagaimana ketelitian dalam menyerap pengalaman mampu menggerakkan kemajuan bangsa.

 

Sikap Positif Korea terhadap Pengalaman Internasional

Dalam budaya Korea, pengalaman berkunjung ke luar negeri tercatat sebagai aset berharga dalam resume seseorang.

Hal ini merefleksikan betapa pentingnya pembelajaran lintas budaya untuk menumbuhkan sikap kritis dan kemampuan komparatif.

Data global menunjukkan bahwa semakin banyak pengalaman internasional seseorang, semakin tinggi pula daya saing dan kemampuan adaptasinya di pasar kerja global.

 

Statistik Peluang, Gaji, dan Manfaat Kerja Internasional

Berdasarkan data, profesional dengan pengalaman kerja internasional berpotensi meraih peningkatan penghasilan hingga 35% dibandingkan mereka yang hanya bekerja di dalam negeri.

Negara maju seperti Jepang, Australia, dan Inggris menawarkan kesempatan kerja dengan gaji kompetitif serta fasilitas visa kerja yang mendukung pengembangan karier.

Selain aspek finansial, bekerja di luar negeri mempercepat penguasaan bahasa asing dan keterampilan komunikasi lintas budaya yang sangat dibutuhkan dalam dunia kerja saat ini.

Pekerja internasional juga mendapatkan pengalaman beradaptasi dengan tabiat dan norma budaya beragam, yang memperkaya kemampuan sosial dan profesional.

 

Bahasa Asing Paling Dibutuhkan di Dunia Kerja

  1. Bahasa Mandarin: Dengan populasi terbesar di dunia dan kekuatan ekonomi Tiongkok, kemampuan Mandarin membuka peluang besar di bidang ekspor-impor, teknologi, dan keuangan.

  2. Bahasa Jepang: Penting di sektor otomotif, manufaktur, dan teknologi, terutama bagi yang bekerja di perusahaan Jepang.

  3. Bahasa Jerman: Populer di Eropa sebagai bahasa industri dan teknologi, membuka peluang kerja di berbagai perusahaan multinasional.

  4. Bahasa Spanyol: Digunakan di 20 negara, dengan pertumbuhan ekonomi pesat di Amerika Latin dan AS.

  5. Bahasa Prancis: Dipakai di banyak negara dan organisasi internasional, termasuk PBB dan Mahkamah Internasional.

  6. Bahasa Portugis: Kunci untuk peluang kerja di Brasil dan Portugal, dua ekonomi penting di dunia.

Penguasaan bahasa asing ini bukan hanya meningkatkan nilai jual di pasar kerja, tetapi juga membuka wawasan budaya dan jaringan global yang luas.

 

Tabiat Bangsa dan Budaya Kerja

Pengalaman hidup dan kerja di luar negeri mengajarkan pentingnya memahami tabiat bangsa lain, seperti etos kerja Jepang yang disiplin dan terorganisir; kebiasaan Korea yang mengedepankan kerja sama dan kebersamaan; serta budaya bahasa dan komunikasi yang berbeda antarnegara.

Adaptasi terhadap perbedaan ini memperkaya perspektif dan meningkatkan kemampuan interpersonal yang sangat dihargai dalam dunia profesional.

Keberagaman budaya menjadi modal positif dalam membangun karier internasional yang sukses.

 

Kearifan Lokal dan Pepatah Leluhur

Pepatah, “Semakin jauh kaki melangkah, semakin banyak yang didapat,” mengajarkan bahwa merantau adalah proses pengayaan pengalaman dan kebijaksanaan.

Pengalaman global dan kearifan lokal berpadu membentuk generasi yang matang, bijak, dan visioner.

Proses ini penting dalam mempersiapkan pemimpin masa depan yang mampu mengelola kompleksitas dunia dengan kecerdasan budaya.

 

Kesimpulan dan Seruan untuk Generasi Muda

Hijrah adalah lompatan jiwa yang membawa pada kematangan intelektual, etika, dan profesional.

Dari pelajaran pelesir bangsa Jepang dan Korea, generasi muda Indonesia diajak untuk keluar dari zona nyaman, menyerap ilmu, dan mengolahnya menjadi inovasi yang bermanfaat.

Data dan pengalaman global membuktikan, hijrah membuka pintu menuju peluang kerja lebih baik, gaji lebih tinggi, dan jaringan luas.

Mari jadikan perjalanan ini sebagai investasi masa depan, menapaki jalan kemajuan untuk diri sendiri dan bangsa.

Generasi muda harus berani melangkah, meretas batas, dan merajut masa depan gemilang. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perjalanan transformasi menuju kemajuan berkelanjutan dan peradaban yang penuh harapan. **


Oleh: Thamrin Usman

Guru Besar Kimia Agroindustri Untan, Alumni Prancis, Mantan Rektor Untan

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#australia #korea #Mandarin #jepang #Plesir #thamrin usman #amerika #Inggris #budaya