Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Pahlawan Pendidikan Bangsa

Hanif PP • Senin, 10 November 2025 | 11:15 WIB

Y Priyono Pasti.
Y Priyono Pasti.

Oleh Y Priyono Pasti*

Pada 10 November 2025 ini, kita Bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Pahlawan. Momen itu mengingatkan dan membangkitkan kesadaran kolektif kita bersama sebagai bangsa bahwa untuk meraih kemerdekaan ada para pahlawan yang telah berjuang habis-habisan mengorbankan diri: harta, raga, bahkan nyawanya.

Pahlawan dengan pengorbanan dan semangat juangnya yang tiada pamrih memiliki kontribusi yang sangat besar bagi terwujudnya suatu bangsa yang merdeka dan berdaulat. Inspirasi, keteladanan, dan warisan sejarah yang mereka tinggalkan menjadi pengingat yang tak boleh dilupakan akan harga kemerdekaan  yang harus dibayar mahal dengan air mata dan darah, bahkan nyawa yang setiap warga negara harus melanjutkan perjuangan mereka apapun profesinya demi kemaslahatan bangsa dan negara.

Memperingati dan merayakan Hari Pahlawan bukan hanya untuk mengenang jasa mereka yang luar biasa di masa lalu, lebih penting dari itu untuk meneladani semangat juang, pengorbanan, keberanian, dan semangat kolektivitas (persatuan inklusif) mereka untuk menjadi pahlawan modern demi kepentingan di masa kini dan masa yang akan datang.

Hari ini, siapa pun, apa pun profesinya (tenaga kesehatan, pegiat pelestari lingkungan, pembela hak-hak anak, guru, dosen, individu yang anti-bullying, anti-hoaks, anti-hate speech untuk menyebut sejumlah contoh) bisa menjadi pahlawan modern yang berjuang untuk kebaikan dan kemaslahatan masyarakat, untuk membangun bangsa dan negara yang semakin lebih baik  sesuai dengan kemampuan masing-masing.  

Bagaimana dengan guru yang mendapat julukan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa?” Adakah guru juga bisa disebut sebagai pahlawan dalam membangun negeri ini melalui kontribusinya memerangi kebodohan dan mencerdaskan kehidupan bangsa? Tulisan ini memaparkannya.

Pahlawan pendidikan

Guru adalah pahlawan pendidikan. Perannya sangat penting dan strategis dalam pembangunan bangsa melalui pendidikan. Tanpa guru sulit bagi bangsa ini untuk melahirkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas dalam berbagai profesi.

Guru dan pahlawan adalah sosok-sosok yang memiliki andil besar dalam membangun negeri ini. Keduanya sangat berjasa bagi kemajuan nusa dan bangsa. Guru juga pahlawan dan pahlawan juga guru. Meskipun guru tidak secara langsung bertempur di medan perang dengan memikul senjata layaknya seorang pahlawan perang, kontribusi guru sangat besar dalam jagat pendidikan.

Semangat perjuangan para pahlawan perang tak bisa dipisahkan dengan semangat perjuangan para guru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Jika dulu para pahlawan kemerdekaan berjuang dengan menggunakan senjata bambu runcing, kini para guru berjuang menggunakan pulpen dan teknologi. Jika dahulu para pahlawan sebagai garda terdepan berjuang melawan dan mengusir penjajah, kini para guru menjadi ujung tombak terdepan melawan kebodohan (bdg. Imam Nur Suharno, 2025).

 Dalam lagu Hymne Guru, sosok guru sebagai pahlawan bangsa lugas diungkapkan. “Guru bak pelita dalam kegelapan, embun penyejuk dalam kehausan, dan patriot pahlawan bangsa”. Untaian kalimat substantif dalam Hymne Guru itu menegaskan bahwa guru adalah pahlawan pencerdas bangsa. Pahlawan pendidikan bangsa.

Memang sampai hari ini, nasib guru belum sepenuhnya mengalami perubahan yang signifikan. Masih banyak guru, terutama guru swasta dan guru honorer, yang kisah hidupnya masih saja memilukan. Ketika ratusan bahkan ribuan muridnya telah berhasil menjadi “orang”, sosok guru yang direpresentasikan “Oemar Bakrie” tetap saja hidup sederhana dan nasibnya tetap berada di lapisan alas.

Ada guru yang mengajar di wilayah terpencil, untuk mengambil gajinya yang tak seberapa, ia harus merogoh koceknya yang tak sedikit untuk biaya perjalanan. Dan itu terjadi setiap bulan. Ada juga guru untuk menambah kebutuhan hidup keluarganya menjadi tukang ojek.

Di tengah keikhlasan guru yang luar biasa itu, masih saja ada suara-suara minor yang menyebut guru sebagai “beban negara”, kalau mau kaya jangan jadi guru.” Bahkan, tak jarang muncul nada-nada sinis dari pihak tertentu yang masih alergi dengan julukan “pahlawan tanpa tanda jasa” yang hari ini menuntut penghargaan nyata. 

Namun, toh, semua itu dilakukan dalam kesunyian. Tak terdengar suara lantang keluh kesah mereka. Semuanya dilakukan dengan semangat pengorbanan bak pahlawan. Seseorang yang dengan rela mengabdikan seluruh hidupnya dengan penuh dedikasi dan loyalitas untuk mencerdaskan anak bangsa. Profesi guru sungguh dihayati sebagai panggilan jiwa.

Ketika guru sungguh dihayati sebagai panggilan jiwa/hati, maka seorang guru  bekerja tulus penuh syukur. Guru senantiasa bersyukur, berbuat baik, dan menunjukkan kemurahan hati. Guru semakin gemar menabur buah-buah kebaikan dan bertekad untuk menjadi guru yang lebih baik lagi. Meskipun mengalami banyak kesulitan dalam hidupnya, ia tetap semangat mengajar, memberikan yang terbaik untuk para muridnya. Bukankah itu menggambarkan betapa spirit pahlawan mengalir dalam darah pengabdian para guru?

Memerangi Kebodohan

Guru adalah pahlawan untuk memerangi kebodohan. Guru menjadi pahlawan karena dedikasi, pengabdian (loyalitas), dan peran mereka yang sangat penting dan strategis dalam ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kita bisa membaca dan menulis karena jasa guru. Kita bisa menduduki jabatan tertentu, guru juga yang menghantarkannya. Kita mampu berkreasi atau berwirausaha, tetap guru juga yang mempunyai andil besar di dalamnya.

Tanpa guru, kita sulit berhasil meraih impian, tanpa guru kita tidak dapat seperti sekarang. Tanpa guru tak ada camat, bupati, walikota, anggota DPR(D), gubernur, menteri, presiden, atau jabatan apapun itu. Sungguh, betapa besar peran, kontribusi, jasa seorang guru dalam kehidupan dan keberadaan kita saat ini.

Guru adalah pahlawan pendidikan pencerdas bangsa. Di tangan para guru, masa depan bangsa ini dipertaruhkan. Guru adalah pahlawan pembangunan karena di tangan mereka akan lahir pahlawan-pahlawan pembangunan yang kelak mengisi ruang-ruang publik di negeri ini.

Tugas yang diemban guru tidaklah ringan. Guru harus mampu menumbuhkan keingintahuan murid dan memfasilitasinya dengan cara yang paling mereka minati. Guru harus bisa menciptakan suasana dan proses pembelajaran yang menyenangkan, aman, bebas dari celaan dan cemoohan agar murid berani berekspresi dan bereksplorasi secara leluasa untuk tumbuh menjadi insan-insan pembelajar yang percaya diri dan optimis.

Di tengah dinamika perkembangan iptek dan disrupsi dunia digital yang tiada batas dengan segala konsekuensi yang ditimbulkannya, kehadiran guru yang mampu mengayomi, memberikan nasihat yang konstruktif-edukatif, memberikan motivasi kepada para murid agar mereka tetap semangat, mampu menghadapi dan mengelola perubahan serta dapat menyongsong masa depan mereka dengan penuh antusias menjadi tuntutan.

Kini, guru dituntut tidak hanya mampu memberitahu, menjelaskan, dan mendemonstrasikan, tetapi juga dapat menginspirasi-mengilhami muridnya. Sebagai pahlawan pencerdas bangsa, terutama dalam memerangi kebodohan, guru mesti memiliki jiwa juang, semangat untuk berkorban, dan menjadi pioner dalam kemajuan murid menjadi insan-insan cendekia berkarakter-berintegritas.

Kepemilikan semangat kepahlawanan dan kemampuan guru dalam membangun karakter baik generasi peradaban sangat menentukan kemajuan sebuah bangsa. Pencapaian Indonesia hingga saat ini tak terlepas dari peran, kontribusi, dan jasa guru dalam membimbing, mengarahkan, dan memfasilitasi para murid menjadi insan-insan dewasa mandiri, disiplin, bertanggung jawab, berbudi pekerti luhur, berkarakter, berintegritas, dan siap menjadi pemimpin.

Tanpa kehadiran guru dengan semangat kepahlawanannya, keberadaan Indonesia seperti sekarang ini tak akan terjadi dan tak pernah kita nikmati. Untuk itu, sudah sepantasnya dan menjadi kewajiban kita selalu menghargai dan meneladani jasa-jasa para guru yang pahlawan pencerdas bangsa memerangi kebodohan itu, yang telah rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.

Menutup opini ini, penulis kutipkan kalimat inspiratif-motivatif presiden pertama RI, Ir. Soekarno dari bukunya “Di Bawah Bendera Revolusi” yang berbunyi “Pemimpin! Guru! Alangkah hebatnya pekerjaan menjadi pemimpin di dalam sekolah, menjadi guru di dalam arti yang spesial, yakni menjadi pembentuk akal dan jiwa anak-anak”.

Semoga semangat rela berkorban dan pantang menyerah dari para Pahlawan yang kita peringati dan rayakan setiap 10 November, bertransformasi menjadi semangat juang para guru yang juga pahlawan pencerdas bangsa untuk tetap setia mengabdi memerangi kebodohan di negeri ini.  

*Penulis Alumnus USD Yogya

Guru di SMP/SMA St. F. Asisi

Pontianak – Kalimantan Barat

Editor : Hanif
#indonesia #momentum #pengorbanan #kemajuan bangsa #hari pahlawan #semangat juang #10 November