Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Ketika Yang Besar Absen, Yang Kecil Harus Tetap Bergerak

Hanif PP • Senin, 17 November 2025 | 14:47 WIB
Newsom sebut absennya Trump di COP30 sebagai langkah bodoh, di tengah urgensi aksi iklim global dan transisi hijau inklusif.
Newsom sebut absennya Trump di COP30 sebagai langkah bodoh, di tengah urgensi aksi iklim global dan transisi hijau inklusif.

Oleh: M. Hermayani Putera

Berita tentang Gubernur California, Gavin Newsom, yang menyebut keputusan Donald Trump untuk tidak hadir di Conference of the Parties (COP) ke-30 di Brazil sebagai “suatu kebodohan”, tengah ramai dibicarakan. Ucapannya terdengar keras, bahkan menusuk: “doubling down on stupid.” Namun di balik nada marah itu, ada rasa frustrasi terhadap sikap pemimpin negara besar yang tampak menyepelekan masa depan bumi.

Pelaksanaan COP30 tahun 2025 di Belém, Brazil, menjadi momen penting bagi dunia untuk kembali menegaskan arah perjuangan menghadapi krisis iklim. Dengan tema besar “From Agreement to Action: For a Fair, Green, and Inclusive Transition,” konferensi ini menyoroti kebutuhan mendesak untuk bergerak dari janji menuju aksi nyata. Tak cukup lagi berhenti pada komitmen di atas kertas, COP30 menuntut setiap negara memperbarui dan memperkuat Nationally Determined Contributions (NDCs) agar dunia tetap berada di jalur aman — membatasi pemanasan global di bawah 1,5°C dan memastikan transisi hijau yang adil bagi semua.

Sebagai COP pertama yang digelar di jantung hutan Amazon, pertemuan ini menyoroti pentingnya perlindungan hutan tropis, hak masyarakat adat, keanekaragaman hayati, transisi energi bersih yang adil, serta pembiayaan iklim berkeadilan. Brazil ingin menjadikan COP30 bukan sekadar forum global, tetapi COP of the Amazon — panggilan bagi dunia agar penyelamatan bumi dimulai dari akar, dari komunitas, dari wilayah yang menjadi paru-paru planet ini.

Namun, mungkin justru di sanalah pelajarannya. Dalam setiap absennya kekuatan besar, selalu ada ruang bagi yang kecil untuk bergerak. Dan di ruang itulah, perubahan sejati sering tumbuh.

 

Kehadiran Tak Harus di Panggung Besar

Kita di Indonesia tahu betul: yang menentukan arah kadang bukan rapat megah di gedung internasional, melainkan obrolan di kedai kopi, balai desa, tepi sungai, pinggir pantai, atau di bawah pondok bambu tempat warga bermusyawarah.

Di Kalimantan Barat—wilayah dengan hutan, gambut, tambang, dan perbatasan yang kompleks—isu seperti COP mungkin terasa jauh. Tapi dampaknya nyata. Suhu makin panas, musim makin tak menentu, sumber air makin menipis, dan tambang yang tak direstorasi memperparah luka ekologis.

Jika negara besar bisa absen di forum dunia, maka tanggung jawab moral justru jatuh ke bahu mereka yang tetap hadir di tingkat tapak. Karena bumi tak menunggu keputusan diplomatik; bumi menunggu siapa yang mau bertindak lebih dulu.

 

Dari California ke Kalbar

Newsom tidak berhenti pada kritik. Ia menegaskan bahwa California akan terus melanjutkan aksi iklim meski pemerintah federal absen. Ia ingin membuktikan bahwa aksi lokal mampu menebus kelambanan nasional. Dan semangat itu seharusnya juga hidup di desa-desa kita.

Kita punya banyak ruang untuk membuktikan bahwa perubahan bisa lahir dari bawah:
dari gerakan memanen air hujan di rumah dan fasilitas publik, pengelolaan sampah terpadu berbasis komunitas, transisi energi bersih lewat PLTS atap di pesantren atau kantor desa, hingga rehabilitasi lahan bekas tambang dengan bibit lokal dan semangat gotong royong.

Semua itu mungkin tampak kecil. Tapi jika dilakukan bersama, ia menjelma menjadi gerakan besar yang lebih bermakna daripada pidato para pejabat tinggi. Karena pada akhirnya, perubahan tidak menunggu kebijakan—ia lahir dari keberanian untuk memulai.

Saya percaya: everyone is a change maker. Kita semua adalah penggerak perubahan.

 

Absennya Mereka, Kehadiran Kita

Kita tak perlu menunggu negara besar sadar atau politisi global berubah arah. Perubahan iklim tak menunggu siapa pun.
Justru ketika yang besar absen, yang kecil harus hadir dengan kesadaran dan semangat. Karena yang kecil itu banyak. Yang kecil itu dekat. Yang kecil itu tahu di mana akar masalah berada.

Dan kalau setiap yang kecil mau hadir, dunia tak akan kehilangan arah.
Mulailah dari rumah, kantor, dan rumah ibadah yang hemat energi dan air; dari sekolah dan kampus yang menanam pohon; dari anak muda dan emak-emak tangguh yang mengolah sampah jadi kompos, pakan, atau energi. Maka kemandirian dan ketahanan pangan bukan lagi jargon, melainkan kenyataan di halaman rumah.

Di situlah makna “hadir” yang sejati: bukan sekadar datang ke forum, tapi turun tangan di lapangan.

Penutup: Hadir Itu Kewajiban, Bukan Sekadar Undangan

Ketika Gavin Newsom menyebut absennya Trump di COP30 sebagai kebodohan, saya memaknainya bukan sekadar sindiran, tapi pengingat keras: bahwa kehadiran dalam isu iklim bukan soal protokol, melainkan soal tanggung jawab — pada bumi yang sama-sama kita pijak, pada generasi yang akan datang, dan pada sesama manusia yang akan menanggung akibat jika kita diam. (*)

 

*Penulis adalah Ketua Majelis Lingkungan Hidup, PW Muhammadiyah Kalimantan Barat

Editor : Hanif
#keputusan #Gavin Newsom #gubernur california #donald trump