Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Surat Terbuka Alam Kepada Penguasa

Hanif PP • Senin, 1 Desember 2025 | 12:22 WIB
Eka Hendry Ar
Eka Hendry Ar

Oleh: Eka Hendry Ar.*

INNALILLAHI wa inna ilaihi Raji'un. Penulis turut berdukacita atas musibah banjir yang melanda berbagai wilayah di tanah air. Sebagaimana kita ketahui, beberapa hari terakhir ini, telah terjadi banjir besar, tanah longsor di Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Banjir tidak hanya masuk ke rumah, akan tetapi menenggelamkan rumah, menghanyutkan harta benda dan bahkan merobohkan bangunan dan jembatan. Musibah serupa juga pernah melanda berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Kalimantan Barat. Walaupun mungkin tidak separah yang terjadi sekarang. 

Sebagai orang yang beragama, tentu kita menyakini bahwa, musibah adalah ketetapan Tuhan. Dan selalu ada hikmah atau pembelajaran di balik semua peristiwa.  Kiranya apa pesan atau pembelajaran di balik berbagai bencana alam yang menimpa kita?  Semua sudah mafhum, bencana alam ini terjadi tidak lepas dari campur tangan ulah manusia sendiri.  Sebagaimana juga di sinyalir oleh Al Qur'an bahwa telah tampak kerusakan di  daratan.dan di lautan, sebagai akibat ulah "tangan-tangan" manusia. Artinya, bukan semata karena siklus alam, akan tetapi ada kontribusi besar cara pandang, sikap dan tindakan manusia dalam memperlakukan alam.

Pertanyaannya "tangan-tangan" seperti apa yang dapat mengirimkan banjir dengan bongkahan kayu-kayu gelondongan, lumpur berjuta kubik yang dapat menenggelamkan kampung dan merubuhkan jembatan beton? Al Quran dengan indah menggunakan analogi “tangan-tangan”, yang tentunya bisa dimaknai dalam arti sesungguhnya, namun juga bisa dita’wilkan sebagai makna simbolik. “Tangan-tangan”, bisa dimaknai secara luas, seperti kekuatan, kewenangan maupun kekuasaan (otoritas). Sekarang disebut secara luas dengan capital (baik dalam artian politik, sosial, budaya dan ekonomi).  Tangan-tangan manusia seperti apa yang mampu mengirim musibah sebesar itu? Apakah petani yang  membuka lahan perladangan dengan membakar? Yang luas ladangnya tidak sampai 1 hektar. Atau apa karena ada penebangan kayu tradisional masyarakat utk keperluan bahan bangunan? Yang tentu kemampuannya terbatas. Atau karena ada penambangan tradisional oleh masyarakat? yang wilayahnya tentu tidak seluas penambangan modern dan profesional koorporasi.  Mungkin sedikit banyak rakyat-rakyat yang saya sebutkan di atas berkontribusi terhadap bencana ini. Namun, tidaklah sebesar kontribusi "tangan-tangan" yang lebih besar.

Sebenarnya siapa "tangan-tangan besar" yang punya andil dalam kerusakan yang sedahsyat ini. Logika kausalitasnya,  setiap dampak atau akibat dahsyat, maka penyebabnya pasti ada penyebab yang besar dan sangat powerfull. Tuhan mengatakan "tangan-tangan manusia". Berarti ada tangan manusia yang sangat powerfull.

Dalam konteks eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam (SDA) yang punya andil besar adalah siapa yang memiliki kewenangan dalam hal perizinan dan pengawasan, siapa yang paling berhak dalam penegakan supremasi regulasi dan hukum, serta siapa yang paling memiliki modal besar (baik modal politik maupun ekonomi).   Kalau struktur ini maka yang memiliki semua itu hanya ada 2 pihak yaitu Pemerintah (termasuk di dalamnya para politikus dan aparat penegak hukum) dan oligarki. Mengapa bukan rakyat? Bukankah rakyat yang menjadi pekerja di lapangan. Bukankah rakyat juga membuka lahan, bukankah rakyat juga menambang, bukankah rakyat juga menebang pohon, bukankah rakyat juga mengkonversi hutan menjadi perkebunan (entah karet maupun sawit).

Kembali kepada logika kausalitas, dampak besar, pasti disebabkan oleh sebab yang besar. Mafhum mukholafahnya, penyebab kecil, maka implikasinya juga tidak signifikan. Meskipun tetap menjadi variabel yang turut berkontribusi. Membandingkan antara keduanya (penguasa dan rakyat) pasti tidak fair, apalagi dalam relasi kuasa yang tidak seimbang.  Ada yang superior, sementara yang lain adalah subordinasi. 

Peran para pengambil kebijakan, para penegak hukum dan pemodal besar, tentu lebih signifikan. Mereka berkuasa secara politik, berkuasa (atau punya otoritas) atas regulasi, berkuasa secara ekonomi dan juga berkuasa secara sosio-kultur.  Mereka ini disebut sebagai orang-orang yang berkuasa.  Mereka bisa mengeluarkan ribuan hektar izin pengelolan hutan, perkebunan dan  lahan pertambangan. Dengan kewenangan yang sama, demikian mudah juga sebenarnya mereka bisa mencabut izin tersebut.  Bayangkan, hanya dengan secarik kertas perizinan, maka ada ribuan hektar hutan yang berubah fungsinya. Akibat perubahan fungsi tersebut, maka ada fungsi penyangga keseimbangan alam yang hilang. Bayangkan jika ribuan lahan yang digunakan untuk perkembunan dan pertambangan diberikan secara jor-joran, tanpa lagi memperhatikan keseimbangan alam, tanpa mempertimbangkan kelangsungannya, maka sudah dapat dikalkulasi dampak yang akan ditimbulkan.   Hipotesisnya, jika penyebab berbagai bencana adalah akibat perubahan fungsi hutan dan deforestasi, maka itu berarti mereka yang mengeluarkan izin, dan mereka yang membiarkan kerusakan alam terjadi dan yang membiayai proses eksplorasi dan eksploitasi terjadi adalah merekalah yang paling layak diminta pertanggung jawaban.

Satu-satunya cara menghentikan semua ini adalah kita perlu mengevaluasi kembali paradigma kita  tentang relasi antara manusia, Tuhan dan alam, serta  regulasi yang mengatur tentang tata kelola SDA di Indonesia.   Mengapa kita demikian "bar bar" dalam mengeksploitasi alam.  Seolah-olah kita tidak lagi “berumah” di bumi.  Falsafah bumi sebagai rumah kita, terdegradasi  oleh syahwat mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, meski berdalih utk pembangunan, pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan.  Penulis gunakan istilah berdalih, karena motif yang tersembunyi adalah untuk kekayaan pribadi dan kelompok.  Bukan untuk rakyat, dan bukan untuk negeri. Kita sudah naik ke level bukan lagi sekedar kebutuhan, tapi kerakusan (greediness). Sementara kita sadar, rakus adalah penyakit yang tidak ada obatnya, kecuali lubang kubur. Dengan kekuasaan di tangan, kita lantas semau-maunya mengeluarkan izin (tanpa lagi mempertimbangkan keseimbangan alam dan keberlanjutan), menutup mata atas kerusakan yang ditimbulkan serta hanya mengejar keuntungan material. 

Manakala kebijakan dibangun di atas spirit ketamakan dan kerakusan, maka kita akan kehilangan  kebijaksanaan (wisdom) tentang relasi antara manusia, Tuhan dan alam. Bahkan suatu saat kita akan merasa seolah-olah menjadi tuhan, dengan power (dan otoritas) dan semua jenis kapital yang kita genggam. Ini fase yang paling mengerikan dari krisis etis dan epistemologis manusia. 

Akhirnya penulis sampai kepada kesimpulan bahwa, berbaga bencana alam yang menimpa bangsa ini, adalah "surat terbuka alam, kepada tangan-tangan kekuasaan", baik yang ada di tangan para pemimpin, di tangan para politisi, di tangan para aparat penegak hukum dan di tangan para  oligarki.  Jika kita masih beriman kepada Tuhan yang Maha Esa, maka inilah saatnya kita mengevaluasi secara komprehensif atas kebijakan pengelolaan SDA, sebelum semuanya terlanjur semakin memburuk. Jika kita abai, yakinlah ini pertanda "kiamat" atas negeri ini. Negeri ini sejatinya bertuah, akan segera berubah menjadi negeri terkutuk. Na'udzubillah. (*)

 

*Penulis adalah Dosen IAIN Pontianak

Editor : Hanif
#modal #kuasa #Eksploitasi SDA #perizinan #pemerintah #Aktor Utama #oligarki #Politik