Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kekuatan Zikir

Hanif PP • Jumat, 23 Januari 2026 | 11:38 WIB
Sholihin HZ
Sholihin HZ

Oleh: Sholihin HZ*

Shalih Ahmad Asy Syami dalam kitabnya Mawa’izh al Imam al Hasan al Bashri, Mawa’izh al Imam al Ghazali, Mawa’izh Syaikh Abdul Qadir al Jailani menyebutkan tentang Imam Hasan al Bashri (h. 113). Ibnu Shabih berkata, ”Ada seseorang yang mengadu kepada Hasan al Bashri tentang kondisi cuaca yang panas dan kekeringan.”

Hasan al Bashri kemudian menjawab, ”Mohon ampunlah kepada Allah SWT.”

Pada kesempatan lainnya, ada seorang yang meminta agar diberikan keturunan, Hasan al Bashri menjawab, ”Mohon ampunlah kepada Allah SWT.”

Kemudian dalam kesempatan yang lain, ada lagi seorang yang mendatangi Hasan al Bashri tentang kebunnya yang kering, maka Hasan al Bashri juga menjawab, “Mohon ampunlah kepada Allah SWT.”

Mendengar jawaban yang sama, beberapa orang tersebut kemudian menanyakan tentang maksud jawaban Hasan al Bashri. Hasan al Bashri menjawab, “Apa yang kunyatakan sesungguhnya bukanlah kemauanku tetapi ia bersumber dari firman Allah SWT. Maka aku berkata (kepada mereka), mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu."

Kisah di atas sarat dengan pembelajaran bermakna diantaranya adalah bahwa cenderung kita memahami apapun yang terjadi merupakan sebuah proses alami dan karenanya apapun yang terjadi pada  alam itu sendiri yang memang sudah waktunya berproses. Namun, sesungguhnya bahwa apa yang terjadi di alam memiliki koneksitas dan hubungan dengan kekuatan yang Maha Ghaib. Proses alami berjalan adalah sunnatullah tetapi semua berjalan atas kehendak-Nya. Sederhananya zikir dan kebaikan memiliki stimulus untuk memancing turunnya rahmat Allah SWT.

Allah SWT menegaskan, “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.”

Ali Zainal Abidin ra berkata, “Allah SWT menyembunyikan tiga perkara dalam tiga perkara. Allah menyembunyikan ridha-Nya dalam amal ketaatan kepada-Nya, maka jangan remehkan sesuatu pun dari ketaatan kepada-Nya, mungkin di situlah letak ridha-Nya. Allah menyembunyikan murka-Nya dalam perbuatan maksiat, maka jangan meremehkan sesuatu dari maksiat kepada-Nya, mungkin di situlah letak murka-Nya. Allah menyembunyikan para wali-Nya di antara makhluk-Nya, maka jangan meremehkan siapa pun dari hamba-hamba-Nya, mungkin ia adalah wali-Nya.” (Al-Fushul al-‘Ilmiyyah wal Ushul al-Hikamiyyah).

Seseorang yang mungkin lemah, tetapi ternyata ia memiliki nilai di hadapan Allah. Apa yang menjadi hajatnya tersampaikan. Apa yang menjadi niatnya terkabulkan. Apa yang hendak dijemputnya tersampaikan. Inilah orang yang karena kekuatan zikirnya, kekuatan amalan dan riyadhahnya (latihan) menjadi tersampaikan karena Allah SWT rida dengan apa yang dilakukannya.

Zikir dengan beragam bentuknya menjadi media hati dan sikap yang memiliki ketersambungan dengan Allah SWT.

Kata romantis yang umum kita dengar adalah pernyataan Allah SWT, “Maka jika engkau ingat aku, sesungguhnya akan mengingatmu”. Bukankah naluri kita adalah ingin diingat kala kita susah. Ingin diberi bantuan kala susah, ingin diberikan pertolongan kala kesempitan.

Ingatlah Allah kala kita lapang dan senggang maka Ia akan mengingat kita kala kita dalam kondisi memerlukan bantuan. Inilah janji Allah SWT. Penjelasan ini jika difahami sesungguhnya memiliki keterkaitan dengan makna ayat kelima dari Qs. Al Fatihah. “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”

Menariknya adalah kata menyembah lebih didahulukan daripada memohon pertolongan dan ini bukanlah kalimat kebetulan, sesungguhnya ada makna yang terkandung didalamnya bahwa untuk mendapatkan pertolongan Allah SWT maka maksimalkan ritual penyembahan kita kepada Allah SWT dengan mendekatinya baik perbuatan baik, zikir maupun berbagai bentuknya lainnya. Yakinlah jika ’na’budu’ sudah terasah maka ’nasta’in’ akan datang dengan izin-Nya jua.

Zikir memiliki kedahsyatan luar biasa. Ia akan mencintai hamba-Nya yang selalu ingat pada-Nya dan pertolongan baik dalam bentuk rahmat maupun ketenangan bahkan solusi persoalan kehidupan  tidak ada yang besar dihadapan-Nya. Mari maksimalkan mengingat-Nya dalam kondisi apapun dan dimanapun.**

 

*Penulis adalah Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Kalimantan Barat; Kepala MAN 1 Pontianak.

Editor : Hanif
#Ridha #zikir #kata romantis #rahmat #Amal baik