Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Metafisika Kehadiran: Menemukan Makna “Aku” dalam Hidup Bersama

Hanif PP • Jumat, 6 Februari 2026 | 08:50 WIB
Erwin, S.Pd., S.Fil., M.Pd.
Erwin, S.Pd., S.Fil., M.Pd.

Oleh: Erwin, S.Pd., S.Fil., M.Pd.*

Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, manusia sering memahami dirinya sebagai pribadi yang berdiri sendiri, bebas, dan tidak tergantung pada siapa pun. Namun, refleksi filsafat justru menunjukkan sebaliknya. Hakikat manusia tidak pernah terlepas dari relasi dengan tubuh, komunitas, komunikasi, dan keberadaan itu sendiri. Pemikiran ini dapat ditemukan dalam refleksi metafisika tentang “Aku” yang dikembangkan melalui gagasan relasionalitas dan filsafat Thomas Aquinas.

Manusia tidak dapat dipahami tanpa tubuh. Tubuh bukan sekadar unsur biologis, melainkan tanda nyata kehadiran manusia. Melalui tubuh, seseorang mengalami dunia, membangun relasi, serta menyatakan eksistensinya. Ketika seseorang hadir dalam suatu ruang, yang pertama kali menandai keberadaannya adalah tubuhnya. Tanpa tubuh, manusia kehilangan medium untuk mengalami dan mengekspresikan dirinya. Dengan kata lain, tubuh bukan hanya bagian dari manusia, melainkan bentuk konkret dari kehadiran manusia itu sendiri.

Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk komuniter, yakni makhluk yang hidup dalam kebersamaan. Tidak ada manusia yang benar-benar hidup sendirian. Sejak lahir, manusia sudah menjadi bagian dari keluarga, masyarakat, dan komunitas yang lebih luas. Kesadaran bahwa manusia adalah makhluk sosial menunjukkan bahwa identitas seseorang terbentuk melalui relasi dengan orang lain. Bahkan seseorang yang hidup terasing sekalipun tetap memiliki akar dalam komunitas tertentu.

Keberadaan dalam komunitas juga memiliki tantangan. Dalam kehidupan sosial, sering muncul dominasi kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas. Fenomena ini menunjukkan bahwa relasi sosial dapat menghadirkan konflik apabila tidak dilandasi sikap inklusif. Oleh karena itu, pemahaman tentang manusia sebagai makhluk komuniter seharusnya menumbuhkan solidaritas, bukan eksklusivitas. Komunitas yang sehat adalah komunitas yang mampu merangkul perbedaan dan menghargai martabat setiap individu.

Manusia juga merupakan makhluk komunikatif. Komunikasi bukan hanya aktivitas berbicara, tetapi mencakup seluruh ekspresi tubuh, bahasa, dan tindakan yang membangun relasi antarindividu. Melalui komunikasi, manusia saling belajar, berbagi pengalaman, dan membangun kebijaksanaan hidup bersama. Komunikasi menciptakan kesadaran bahwa manusia tidak hidup sendiri, melainkan hidup dalam kebersamaan. Dalam komunikasi yang sehat, setiap individu diperlakukan sebagai subjek yang memiliki martabat yang sama.

Filsafat Thomas Aquinas memperdalam pemahaman tentang manusia sebagai “being” atau makhluk yang mengada. Menurut Aquinas, segala sesuatu yang ada memiliki tindakan mengada. Manusia tidak hanya sekadar ada seperti benda mati, tetapi hadir secara aktif dengan kesadaran, akal budi, dan kehendak. Kehadiran manusia selalu melibatkan aktivitas, relasi, dan kesadaran diri. Oleh karena itu, eksistensi manusia tidak dapat dipisahkan dari tindakan menghidupi dirinya bersama orang lain.

Aquinas menegaskan bahwa ide tentang keberadaan sudah melekat secara kodrati dalam diri manusia. Artinya, manusia secara alami menyadari dirinya sebagai makhluk yang ada. Kesadaran ini memungkinkan manusia mencari kebenaran, memahami realitas, serta mengarahkan hidupnya kepada kebaikan. Dengan demikian, keberadaan manusia tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga spiritual dan intelektual.

Dalam konteks kehidupan masyarakat Pontianak yang dikenal sebagai kota multikultural, refleksi ini menjadi sangat relevan. Kehidupan masyarakat yang terdiri dari berbagai suku, agama, dan budaya menuntut kesadaran bahwa manusia adalah makhluk relasional. Kehadiran setiap individu memperkaya kehidupan bersama. Perbedaan bukan ancaman, melainkan peluang untuk membangun solidaritas dan persaudaraan.

Di era digital saat ini, komunikasi semakin mudah dilakukan, tetapi kedalaman relasi sering kali justru berkurang. Interaksi virtual terkadang membuat manusia kehilangan makna kehadiran yang sesungguhnya. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk kembali menegaskan makna kehadiran nyata dalam keluarga, komunitas, dan kehidupan sosial. Kehadiran bukan hanya soal berada secara fisik, tetapi juga keterlibatan aktif dalam membangun relasi yang bermakna.

Singkat kata, refleksi metafisika tentang “Aku” mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk yang hadir melalui tubuh, hidup dalam komunitas, berkomunikasi dengan sesama, dan memiliki keberadaan yang bermakna. Kesadaran ini mengajak manusia untuk tidak hidup secara egoistis, melainkan membangun kehidupan bersama yang harmonis. Dengan memahami hakikat diri sebagai makhluk relasional, manusia dapat menemukan makna hidup yang lebih mendalam sekaligus berkontribusi bagi kebaikan bersama.**

 

*Penulis adalah dosen Matematika dan Filsafat di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus I Ngabang, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Editor : Hanif
#komunikatif #relasi #manusia #makhluk sosial #komunitas #eksistensi