Oleh: Bambang Hermansyah, S.Sos, M.I.P*
Sumber Daya Alam (SDA) akan habis pada waktunya. Ada limitasi, ada batasnya. “Emas hijau” yang dahulu menjadi primadona Kalimantan saat ini tidak lagi menjadi pilihan masyarakat sebagai mata pencaharian.
Salah satu pilihan yang mampu untuk meningkatkan kesejahteraan, mempercepat pembangunan dan dalam waktu yang bersamaan sebagai “alat” untuk menjaga kelestariaan alam dan budaya Kalimantan adalah pariwisata. Karena sektor ini bisa menggerakan semua hal, terjadi konsolidasi sarana dan prasarana yang cukup luas dan terintegrasi. Misalnya dari sisi budaya yang berimbas dengan terjaganya kearifan lokal warga, sanggar - sanggar seni menjadi hidup, industri – industri kreatif hidup, industri rumahan bergerak, terjadi pertukaran budaya dan informasi yang dapat menjadi sumber “periuk – periuk nasi” masyarakat. Selain itu dengan bergeraknya pariwisata dapat mempercepat perbaikan atau penyediaan infrastruktur seperti jalan, jembatan dan kesehatan, yang menjadi pelayanan dasar terkonsolidasi dengan baik. Selain itu akibat pariwisata aksesibilitas dan amenitas pendukung pariwisata menjadi prioritas utama untuk dibangun.
Syarat layaknya suatu objek wisata dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata, apabila memiliki empat syarat, pertama, attraction adalah segala sesuatu yang menjadi ciri khas atau keunikan dan menjadi daya tarik wisatawan agar mau datang berkunjung ketempat wisata tersebut. Kedua, accessbility. Yaitu, kemudahan cara untuk mencapai tempat wisata tersebut. Ketiga, amenity, yaitu fasilitas yang tersedia didaerah objek wisata seperti akomodasi dan restoran. Keempat, institution, yaitu lembaga atau organisasi yang mengolah objek wisata tersebut. Dengan memperhatikan ulusan diatas tepat kiranya disebut bahwa pariwisata merupakan “ekonomi kembang api”, berdampak luas terhadap seluruh sektor terutama sektor ekonomi dan infrastruktur.
Pariwisata merupakan sektor yang mudah dikembangkan dan digerakan untuk menghasilkan pendapatan daerah dan negara yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Mengapa? Pertama, sudah disediakan Tuhan, seperti gunung, pantai, batu, air terjun, sungai, laut dan bentang alam lainya. Kedua, hasil cipta dan karya maunusia, baik sekarang atau pun masa lampau seperti candi, tarian, makanan, kerajinaan, rumah tradisional, tradisi dan atraksi budaya lainnya.
Pemberian Tuhan dan cipta karya manusia tersebut pada zaman kekinian sangat mudah dipasarkan, dipromosikan, atau “dijual” agar orang datang ke daerah atau negara kita. Hal itu dapat dilakukan dengan bantuan kecanggihan teknologi, misalnya melalui media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan lain-lain.
Pariwisata akan semakin meningkat dengan berkembangnya trend masyarakat, terutama anak-anak muda yang sangat suka dengan dunia traveling alias jalan–jalan, kuliner, serta fashion yang bernuansa etnik, lokal dan lingkungan. Semua daerah di Indonesia memiliki potensi pariwisata dengan ciri khasnya masing-masing, termasuk daerah-daerah yang ada di Kalimantan. Perlu upaya pemerintah daerah dengan melibatkan masyarakat mengemas potensi pariwisata menjadi daya tarik wisata.
Mengembangkan pariwisata merupakan salah satu cara tercepat untuk mendatangkan orang dan uang sebanyaknya-banyaknya untuk masuk ke daerah atau negara kita. Sehingga pendapatan masyarakat, daerah, dan negara meningkat. Hal ini terbukti bahwa pariwisata menjadi sumber salah satu devisa terbesar Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata Republik Indonesia pada tahun 2025 sektor pariwisata menyumbang devisa negara sebesar Rp 231 triliun atau 3,98% (persen) dari PDB.
Fakta lainnya, Kabupaten Bantaeng (Sulawesi Selatan), Kabupaten Gunung Kidul (Yogyakarta), dan Kabupaten Banyuwangi (Jawa Timur) berhasil bertransformasi dari daerah tertinggal menjadi daerah maju di Indonesia. Keberhasilan tersebut diraih karena ketiga daerah itu menempatkan sektor pariwisata sebagai penggerak utama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Meski demikian, pelayanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur tetap menjadi perhatian dan tidak diabaikan.
Data statistik berikut memberikan gambaran bagaimana tiga kabupaten mampu maju berkat pengembangan sektor pariwisata. Kabupaten Bantaeng di Provinsi Sulawesi Selatan, misalnya, menunjukkan lonjakan yang signifikan. Sebelum pariwisata dikembangkan, angka kemiskinan berada di angka 21 persen, kini turun menjadi 5 persen. Tingkat pengangguran juga menurun dari 12 persen menjadi 2,3 persen. Pendapatan per kapita masyarakat meningkat dari Rp5 juta menjadi Rp27 juta, pertumbuhan ekonomi naik dari 4,7 persen menjadi 9,5 persen, dan pendapatan sektor wisata melonjak dari Rp34 juta menjadi Rp3,2 miliar. Jika sebelumnya masyarakat Bantaeng berbondong-bondong ke Makassar untuk berwisata, kini justru warga Makassar yang ramai berkunjung ke Bantaeng.
Hal serupa terjadi di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Daerah ini berhasil menekan angka kemiskinan dari 15 persen menjadi 7 persen setelah sektor pariwisata digerakkan secara serius. Pendapatan daerah meningkat hingga 134 persen, sementara produk domestik bruto naik dari Rp32 triliun menjadi Rp78 triliun. Dampak positif tersebut turut mendorong peningkatan fasilitas Bandara Banyuwangi. Rute penerbangan yang semula hanya melayani Jakarta dan Surabaya kini bertambah hingga Manado, Makassar, bahkan Kuala Lumpur. Setiap hari, sekitar 1.000–1.400 orang berkunjung ke Banyuwangi melalui bandara tersebut.
Di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, angka kemiskinan turun dari 19,34 persen menjadi 17,12 persen setelah pengembangan pariwisata, menjadi penurunan tertinggi di DIY. Pada 2021, pemerintah daerah optimistis angka kemiskinan dapat ditekan hingga 15 persen. Bupati Gunung Kidul mengakui, penurunan tersebut tidak lepas dari pesatnya perkembangan pariwisata yang melibatkan banyak masyarakat lokal. Keberhasilan itu juga didukung keterlibatan generasi muda, pemanfaatan media sosial, serta kerja sama dengan pihak swasta.
Keberhasilan tiga daerah tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota di Kalimantan untuk berlomba mengembangkan potensi wisata. Pariwisata alam dapat dijadikan sektor unggulan guna meningkatkan pendapatan daerah dan kesejahteraan masyarakat, mengingat setiap daerah di Kalimantan memiliki potensi wisata alam dan budaya yang unik.
Kabupaten Kapuas Hulu di Kalimantan Barat memiliki Danau Sentarum, Kota Singkawang dikenal dengan Festival Cap Go Meh, dan Kabupaten Sambas memiliki Keraton Alwatzikoebillah beserta kekayaan budayanya. Kalimantan Tengah memiliki Taman Nasional Tanjung Puting yang mendunia, Kalimantan Selatan terkenal dengan pasar terapungnya, Kalimantan Timur dengan budaya adat Dayak, serta Kalimantan Utara dengan kekayaan budaya Bugis dan Dayak. Belum lagi potensi wisata kuliner dan religi yang tersebar di berbagai daerah.
Jika Tiongkok maju dengan manufakturnya, Thailand dengan agrikulturnya, dan Amerika Serikat dengan teknologinya, maka Indonesia pun dapat maju melalui sektor pariwisata, khususnya wisata alam dan budaya. Manufaktur dan teknologi bisa ditiru, tetapi kekayaan pariwisata tidak dapat diimitasi negara lain. Siapa yang dapat meniru Candi Borobudur? Negara mana yang bisa memindahkan Danau Sentarum atau Taman Nasional Tanjung Puting?
Sudah saatnya menyisakan satu pulau di Indonesia sebagai contoh pembangunan yang memadukan kemajuan dan kelestarian alam serta budaya. Pulau Kalimantan dapat menjadi pilot project tersebut. Yuk, dimulai!**
*Penulis adalah alumni Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia; dosen, peneliti; dan Sekretaris LPPM UIC Urrang Sambas.
Editor : Hanif