Oleh: Santriadi*
SUDAH menjadi pemahaman bersama bahwa bulan suci Ramadan adalah bulan yang di dalamnya banyak keutamaan dan keistimewaan, bertabur pahala, ibadah lebih meningkat, tingginya kejujuran, peduli terhadap sesama, dan doa-doa yang kita panjatkan lebih cepat dikabulkan oleh Allah SWT. Bulan suci Ramadan menjadi istimewa bukan tanpa alasan. Allah SWT dan rasul-Nya Nabi Muhammad SAW telah menjelaskan dan memberikan gambaran sebagaimana termaktub di dalam Alquran dan hadis. Selain perintah kewajiban berpuasa (QS. Al-Baqarah: 183), bulan Ramadan juga awal permulaan diturunkannya kitab suci Alquran (QS. Al-Baqarah: 185). Di surah lain, Alquran diturunkan pada malam kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan (QS. Al-Qadr).
Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Bagi umat Islam, Ramadan adalah anugerah agung dari Allah SWT kepada para hamba-Nya, sebuah ruang waktu ketika langit seolah membuka pintunya lebar-lebar untuk menerima rintihan dan harapan hamba-Nya yang beriman. Di bulan yang penuh ampunan ini, setiap detik membawa potensi pahala yang melimpah, dan setiap kata yang terucap dalam doa memiliki peluang besar untuk diijabah oleh Allah SWT.
Namun, di tengah kesibukan menjalani aktivitas harian saat berpuasa, sering kali kita melewatkan momen-momen emas yang secara khusus disebut dalam literatur Islam sebagai waktu mustajab. Memahami kapan waktu terbaik untuk mengetuk “pintu langit” adalah kunci agar Ramadan kita tidak berlalu sia-sia.
Di sisi lain, masih banyak di antara kita yang tidak memanfaatkan momentum Ramadan dengan memperbanyak doa, bermunajat kepada Allah SWT. “Berdoalah kepadaku, niscaya Aku kabulkan,” itu adalah janji Allah SWT dalam Alquran Surah Ghafir ayat 60.
Berdasarkan hadis riwayat Ahmad, Tirmidzi, dan lainnya, tiga golongan yang doanya tidak tertolak oleh Allah SWT adalah pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sampai ia berbuka, dan orang yang dizalimi. Di waktu sahur dan berbuka puasa juga merupakan waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa.
Mencermati keterangan-keterangan tersebut di atas, maka perbanyaklah berdoa kepada Allah SWT, karena selama bulan Ramadan, siang dan malamnya adalah waktu-waktu yang paling baik berdoa dan lebih cepat dikabulkan. Oleh karena itu, ketika berpuasa berdoalah kepada Allah SWT. karena itu merupakan salah satu waktu yang mustajab.
Ramadan dan doa merupakan dua hal yang tidak terpisahkan dan sudah menjadi satu kesatuan di antara keduanya. Secara garis besar, ada tiga waktu yang secara spesifik dianjurkan untuk berdoa dan berpotensi cepat dikabulkan. Pertama, ketika sedang berpuasa di siang hari. Banyak yang tidak menyadari bahwa status “mustajab” doa melekat pada diri seorang mukmin selama ia masih dalam keadaan berpuasa. Secara fisik, saat perut sedang lapar-laparnya dan tenggorokan terasa kering, di situlah letak ujian keikhlasan. Justru dalam kondisi lemah secara fisik itulah, kekuatan spiritual kita berada di puncaknya.
Rasulullah SAW memberikan jaminan melalui sabdanya dalam hadis riwayat Ahmad. “Tiga orang yang doanya tidak tertolak adalah doa orang berpuasa sampai ia berbuka; pemimpin yang adil; dan orang yang dizalimi.”
Hadis ini menegaskan bahwa dari fajar hingga senja, lisan orang yang berpuasa seharusnya tidak hanya kering karena menahan haus, tetapi memperbanyak zikir dan doa. Setiap urusan dunia maupun akhirat yang diminta di sela-sela aktivitas puasa memiliki jalur khusus untuk dikabulkan. Hadis ini mengisyaratkan bahwa doa akan dikabulkan ketika orang sedang berpuasa.
Kedua, waktu sahur. Sahur sering kali dianggap hanya sebagai kegiatan makan di saat dini hari agar kuat berpuasa. Padahal, waktu sahur yang waktunya terbentang dari tengah malam hingga menjelang subuh adalah waktu yang sangat sakral. Di saat sebagian besar manusia terlelap dalam tidur, Allah SWT. menjanjikan pengabulan doa bagi mereka yang bangun untuk bersahur dan beribadah, termasuk berdoa.
Dalam sebuah hadis, nabi Muhammad SAW bersabda, “Tuhan kita yang Maha Agung dan Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia ketika telah tersisa sepertiga malam terakhir. Ia berfirman: Siapakah yang berdoa kepadaku, maka aku akan mengabulkannya, Siapa yang meminta kepadaku, maka aku akan memberikannya. Siapa yang memohon ampun kepadaku maka akan Aku ampuni (HR. Bukhari-Muslim).”
Ketiga, saat berbuka puasa. Momen berbuka adalah saat yang paling dinantikan secara emosional. Menariknya, tepat di waktu senja sebelum suapan pertama masuk ke mulut, itulah salah satu waktu paling mustajab. Mengapa demikian? Penjelasan dalam Tuhfah Al-Ahwadzi menyebutkan bahwa doa pada waktu berbuka sangat mudah dikabulkan karena pada saat itu seorang hamba telah menyelesaikan ibadah puasa dengan penuh rasa tunduk, rendah hati, dan berserah diri kepada Allah.
Kondisi psikologis yang penuh rasa syukur dan ketundukan inilah yang menjadi mudahnya dikabulkan doa. Sebelum membatalkan puasa, luangkan waktu sejenak untuk berdoa dengan sungguh-sungguh, karena itu adalah momen ketika pengabdian kita selama seharian penuh baru saja dituntaskan.
Keberkahan Ramadan tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus dijemput dengan penuh kesadaran dan keimanan. Dengan memanfaatkan waktu berpuasa, keheningan sahur, dan syahdunya waktu berbuka, kita sedang membangun jembatan yang kuat menuju rida Allah SWT. Semoga Ramadan kali ini menjadi momentum bagi kita semua untuk melihat doa-doa yang selama ini kita simpan, satu per satu mulai dikabulkan oleh-Nya. Aamiin! Wallahu a’lam.**
*Penulis adalah guru SMP Negeri 1 Tebas, Kabupaten Sambas.
Editor : Hanif