Oleh H. Azhari, S.Ag., M.Si
Suatu hari Rasulullah SAW sedang memberikan pengajian kepada para sahabat. Tiba-tiba datang Malaikat Jibril yang menyamar sebagai seorang musafir. Ia duduk sangat dekat dengan Rasulullah hingga lututnya bersentuhan dengan lutut Nabi. Kemudian ia bertanya, “Wahai Muhammad, apa itu iman, apa itu Islam, dan apa itu ihsan?” Ia juga menanyakan tentang hari kiamat.
Pada kesempatan ini kita fokus pada satu hal, yaitu ihsan. Rasulullah SAW menjawab bahwa ihsan adalah beribadah kepada Allah seakan-akan kita melihat-Nya. Jika kita tidak mampu melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Allah senantiasa melihat dan mengawasi kita.
Dalam konsep ihsan terdapat dua keadaan spiritual, yaitu musyahadah dan muraqabah. Musyahadah adalah beribadah seakan-akan kita melihat Allah. Sementara muraqabah adalah kesadaran bahwa kita selalu berada dalam pengawasan Allah.
Puasa pada level ihsan bukan sekadar menahan lapar dan haus, atau menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Lebih dari itu, puasa pada tingkat ini menghadirkan kesadaran akan kehadiran Allah SWT dalam setiap napas dan aktivitas kehidupan.
Pembaca yang budiman, lalu apa yang dimaksud berpuasa pada level ihsan? Sebagaimana ibadah lainnya, dalam Islam terdapat ibadah mahdhah (ibadah pokok) seperti shalat, zakat, haji, dan puasa.
Ada pula ibadah ghairu mahdhah, yaitu aktivitas kehidupan yang bernilai ibadah seperti menuntut ilmu, bekerja, dan mencari nafkah.
Berpuasa pada tingkatan ihsan merupakan level spiritual yang tinggi dalam beribadah. Pada tahap ini, seseorang tidak hanya menjalankan puasa secara lahiriah, tetapi juga menjaga batin dan perilakunya dari segala hal yang dapat merusak nilai puasa.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah menegur dua orang wanita yang sedang berpuasa tetapi gemar bergosip.
Rasulullah kemudian memerintahkan mereka untuk memuntahkan isi perutnya hingga keluar sesuatu yang menjijikkan seperti darah dan nanah. Peristiwa ini menjadi pelajaran bahwa puasa tanpa menjaga diri dari dosa tidak memiliki makna yang sempurna.
Rasulullah menjelaskan bahwa kedua wanita tersebut memang menahan diri dari makanan yang halal, tetapi mereka justru “berbuka” dengan sesuatu yang haram, yaitu ghibah atau menggunjing orang lain. Perilaku tersebut diibaratkan seperti memakan daging saudaranya sendiri.
Karena itu, puasa pada level ihsan menuntut seseorang menjaga tidak hanya perutnya, tetapi juga lisannya, pikirannya, dan seluruh perilakunya.
Pembaca yang mulia, tujuan akhir dari berpuasa pada level ihsan adalah membentuk karakter manusia yang jujur dan bertakwa (muttaqin). Nilai-nilai ini diharapkan tidak hanya muncul selama bulan Ramadan, tetapi terus melekat dalam kehidupan sehari-hari sepanjang hayat.
Dengan demikian, Ramadan menjadi sarana pembinaan diri agar manusia kembali kepada fitrahnya, menjadi pribadi yang bersih dan suci, serta berharap meraih akhir kehidupan yang baik (husnul khatimah).
Semoga puasa kita tahun ini meningkat hingga mencapai level ihsan. Puasa yang bukan hanya rutinitas, tetapi puasa terbaik dalam hidup kita. Puasa yang menghadirkan kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap langkah kehidupan, serta mengantarkan kita meraih kemuliaan malam Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Aamiin. (**)
*) Penulis adalah Pimpinan Pondok Pesantren Tarbiyah Islamiyah YASTI Kota Singkawang
Editor : Hanif