Oleh: Thamrin Usman*
RAMADAN berlalu bagai embun pagi yang menguap di ufuk timur, tinggalkan jejak harum takwa di relung jiwa umat. Bukan sekadar puasa lidah dari lautan nikmat, melainkan pelajaran agung mizan, keseimbangan dunia-akhirat. Sebagaimana firman-Nya, “Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang pertengahan…(Al-Baqarah: 143).”
Tubuh pun diajar keseimbangan: mineral, protein, karbohidrat bagai orkestra harmoni.
Kelebihan kalium racun ginjal dan denyut jantung, kekurangan guncang saraf hingga degup tak karuan. Protein berlimpah timbulkan kolestrol pengganjal nadi, karbo berlebih genangi darah dengan gula manis musnah.
Baca Juga: Sekolah Kita dan Predator Seksual Anak
“Makan dan minumlah, tetapi janganlah berlebih-lebihan…(Al-A’raf: 31).”
Ramadan, ya Rabb, momen ilahi menata timbangan itu. Lalu, bulan humanity terbit di kekosongan perut. Empati bangkit bagai matahari subuh, hati tergerak pada derita saudara.
Tangan merogoh kantong, transfer rahmat ke yatim piatu, pesantren, dan yang haus ilmu. Penghujungnya, itikaf di pelamin masjid: malam sunnah, tadarus, tauziah mengalir deras. Sahur bersama, menu bervariasi dari sepuluh lilin malam yang pudar—Subhanallah, donatur terpanggil hati nurani.
Baca Juga: Persamaan Nilai Olahraga Iran dan Atlet Elit
Bisakah amaliah ini abadi di luar Ramadan? Idealnya ya, wahai saudara, karena kebaikan tak mengenal musim. Manusia rapuh pada “mood”, tapi Islam cintai istiqamah.
“Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia mendapat ridha Allah…(An-Nisa: 13).”
Seperti teman Korea yang tukar kursi musim, ciptakan pengingat: suasana Ramadan dijaga sepanjang tahun. Konsistenlah, agar amal tak pudar bagai bulan sabit. WaAllahu a’lam bishawab.
*Penulis adalah Guru Besar Kimia Agroindustri Untan; Ketua Majelis Tanfidziah & Pakar DMI Kalbar; Ketua Dewan Penasehat ICMI Orwil Kalbar; Ketua HEBITREN Kalbar.
**In memoriam. Opini ini adalah tulisan terakhir Almarhum sebelum meninggal dunia pada Rabu (14/4/2026) dini hari di Pontianak.
Editor : Miftahul Khair